Yesus adalah Raja?

Bacaan:

Tanggal 20/21 November 2021

Apakah yang ada dalam benak dan pikiran kita ketika kita berbicara tentang Raja? Pasti pikiran kita langsung terarah pada: kerajaan, mahkota, pelayanan yang terbaik (dilayani bukan melayani). Semua itu benar, jika Raja tidak punya kerajaan, tidak pakai mahkota, maka orang tidak akan percaya!! Namun Raja yang kita miliki memang berbeda dengan Raja di dunia ini. Dia adalah “RAJA DI ATAS SEGALA RAJA” yang mau melayani Saudara dan saya. Dia tidak hanya blusukan ke tempat-tempat yang dipandang tidak layak (bandingkan dengan Matius 4:23-25). Mari kita perhatikan pola kepemimpinan macam apa yang diterapkan oleh Yesus sebagai Raja. Daniel E. Fountain dalam bukunya “Kesehatan, Alkitab dan Gereja” memperkenalkan pada kita sebuah pola kepemimpinan dan pelayanan Yesus yang disebut dengan “POLA GALILEA”, yaitu:

  1. Mencari dan menemukan
    Matius 4:23 “Yesus berkeliling di seluruh Galilea” menunjukkan bahwa sebagai Raja, Yesus adalah sosok yang pro-aktif, memiliki inisiatif dan kepedulian untuk keluar mencari. Artinya, kita juga harusnya memiliki inisiatif untuk keluar mencari mereka yang lemah, rapuh, terbatas dan merespon penderitaan yang dialami oleh orang di sekitar. Bertolak belakang dengan pemahaman Pontius Pilatus dan orang Yahudi pada umumnya bahwa pola kepemimpinan Raja itu dicari bukan malah mencari. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah mencari, sedang mencari?
  2. Mengajar, memberitakan Injil, layani mereka yang lemah
    “Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu”. Bahwa Yesus tidak hanya mengajar, memberitakan Injil, namun Dia juga melayani orang yang lemah. Demikian juga semestinya bagian kita menampilkan Yesus yang peduli, mengasihi mereka yang lemah. Bagaimana dengan kita?
  3. Menyembuhkan
    “Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan,yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.”
    Yesus tidak menolak orang-orang yang mengintervensi perjalanan pelayanan-Nya. Yesus tidak pernah marah, menghakimi, menolak orang-orang yang datang kepada-Nya, Yesus justru peduli sehingga Dia mencari dan mendatangi mereka.

Apa yang dapat kita simpulkan dari pola kepemimpinan dan pelayanan-Nya? INFORMAL, FLEKSIBEL, TOTALITAS (bukan Aku tapi mereka). Bagaimana pola kepemimpinan dan pelayanan kita? Apakah kita sudah menjadi tempat dimana setiap orang menemukan belas kasih dan saling menerima, menjadi komunitas penyembuhan yang mendorong tiap orang untuk menjadi manusia seutuhnya? Dari Pola Galilea kita dapat melihat bahwa konsep kepemimpinan Raja yang dihadirkan oleh Yesus bagi Pontius Pilatus dan pengikutnya saat itu bertolak belakang dengan konsep raja bagi bangsa Romawi dan Yahudi pada saat itu. Sungguh sayang, Imam besar Hanas, Imam besar Kayafas, Pontius Pilatus hanya sekadar tahu tapi tidak mengenal Dia, sehingga mereka gagal menemukan identitas Raja itu dalam diri Yesus.

Dari kalender gerejawi, minggu ini adalah Minggu Kristus Raja. Apakah sungguh Raja yang satu ini sudah ada dalam hati dan hidupku? Mengakui-Nya sebagai Raja hal itu berarti juga kesediaan kita untuk mengikuti pola kepemimpinan dan pelayanan-Nya. (RIW)