Waspadalah! Banyak Orang Memakai Nama-Ku

Bacaan:

Tanggal 13/14 November 2021

Dari buku lawas yang ditulis oleh Anthony de Mello SJ, Burung Berkicau, ada cerita sangat menarik berjudul “Rahib/Biarawan dan Wanita”. Dikisahkan ada dua orang rahib dalam perjalanan pulang kembali ke biara, bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita di tepi sungai. Dua rahib dan sang wanita memiliki tujuan yang sama, menyeberangi sungai. Sayang, airnya terlalu tinggi dan arusnya sangat deras! Tidak mungkin bagi si wanita bila menyeberanginya sendiri. Maka untuk menolongnya salah seorang rahib memutuskan untuk menggendong wanita tersebut sampai di seberang. Melihat itu, rahib yang satunya lagi sungguh-sungguh merasa tidak nyaman. Selama dua jam penuh ia menceramahi temannya karena berani melanggar peraturan suci agar tidak menyentuh lawan jenis. Ia berkata pada temannya: “Apakah kamu lupa bahwa kamu adalah seorang rahib? Bagaimana kamu berani menyentuh seorang wanita bahkan menggendongnya menyeberangi sungai! Apakah kamu tidak merendahkan martabat agamamu?” Dan seterusnya. Rahib yang menolong wanita tadi dengan sabar mendengarkan khotbah yang tak habis-habisnya itu. Akhirnya ia menyela: “Kawanku, dua jam yang lalu aku sudah meninggalkan wanita itu di pinggir sungai karena rasa kemanusiaan. Mengapa engkau masih membawa dan menggendongnya sekarang karena alasan keagamaan?? Apakah agama menyingkirkan rasa kemanusiaan?”

Dari cerita tadi kita melihat bahwa agama seringkali dipandang begitu legalis menyingkirkan kemanusiaan. Menjadi pemikiran bagi kita, mana yang lebih baik: orang yang tidak beragama secara sempurna, tetapi baik perilakunya sesuai konteks kebutuhan di sekitarnya atau orang yang taat beragama secara sempurna, tetapi dingin hatinya dan abai perilakunya pada kebutuhan di sekitarnya? Dari dua pilihan ini saya cukup yakin bahwa kita pasti yang pertama. Tak apa tak sempurna beragamanya, tetapi bisa menempatkan diri dan menjadi berkat bagi sesama.

Dalam bacaan kita di Markus 13:1-8 kita menemukan diskusi tentang cara beragama yang terjadi antara Yesus dan para murid-Nya. Saat itu para murid berkata kepada Yesus: “Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu!”. Batu dan megahnya gedung ini mengacu pada bangunan Bait Allah yang dirancang dan dibangun oleh Herodes Agung untuk membuat kagum para penguasa. Bangunan ini berdiri kokoh di sebuah puncak bukit yang dikenal sebagai gunung Moria. Dinding di sekelilingnya terbuat dari batu pualam yang ukurannya sangat fantastis! Yosefus, ahli sejarah Romawi-Yahudi mencatat bahwa beberapa dari batu-batu tersebut berukuran: panjang 12 meter, tinggi lebih dari 3,5 meter, lebar hampir 5,5 meter. Bobot batu-batu ini diperkirakan hingga 420-600 ton! Jadi tak heran bila para murid begitu kagum akan bangunan ini! Bangunan bait suci di gunung Moria ini bak simbol agama yang luar biasa.

Tetapi bagaimana respon Tuhan Yesus? Yesus seolah mengingatkan mereka agar tidak terpancang pada simbol-simbol keagamaan. Yesus mengajar mereka agar tidak menjadi seorang yang “mabuk agama”, tetapi yang beragama dengan akal sehat dan sikap kritis dengan menjawab: “Kau lihat gedung-gedung yang hebat ini? Tidak satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan.” Perkataan Yesus ini adalah pesan multi dimensi/multi era. Yesus menjelaskan tentang suatu gambaran apokaliptik: suatu pewahyuan akan masa yang akan datang bahwa pada tahun 70 Masehi, rupanya memang Bait Allah di Yerusalem akan hancur karena perang antara Yahudi dan Romawi. Bahwa simbolsimbol keagamaan tidak akan bertahan selamanya. Yang paling penting adalah bagaimana cara beragama kita, apakah menjadi berkat, menjadi teladan bagi sesama atau menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Agama banyak manfaatnya bagi kehidupan. Tapi agama bisa jadi virus yang sangat berbahaya, yang menyerang dan mematikan orang lain jika kita salah memandang dan menggunakannya. Paling tidak ada dua jenis cara orang beragama:

  1. Agama Destruktif: alih-alih memelihara hidup, malah menghancurkan, merusak relasi, menjadikan orang yang mengikuti justru menjadi alat kekerasan dan alat pembunuhan bagi manusia dan semesta di sekitar kita!! Misalnya: aksi terorisme, motif politik mengatasnamakan agama/Tuhan untuk melakukan aksi anarkisme yang menimbulkan kebencian identitas. Dengan bentuk yang berbeda keagamaan destruktif ini dibahas Yesus ketika Ia menuturkan: “Akan datang banyak orang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah dia, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.”(Markus 13:6)
    Dalam kasus lainnya di lingkup internal, Kekristenan juga harus memperbaiki diri ketika memakai nama Tuhan untuk kepentingannya: memperkaya diri atau golongannya. Misalnya praktik kekristenan yang membuat warganya harus memberi dengan nominal tertentu, memberi lebih banyak dan mengklaim janji Tuhan dari pemberian itu. Dengan memberi lebih banyak dipercaya bahwa Tuhan akan memberkati lebih banyak. Seolah olah Tuhan mengasihi kita secara transaksional. Kalau kita memberi, Tuhan baru akan memberi. Mat 5: 45 menuturkan: bahwa kita akan menjadi anak-anak Bapa yang menerbitkan matahari bagi orang baik dan orang jahat. Artinya Tuhan mengasihi setiap orang bukan dari perbuatannya, tetapi karena kasih karunia-Nya.
  2. Agama Salugetic, agama yang bersifat menyelamatkan kehidupan. Melalui keagamaan ini, kehidupan manusia terbina, harmoni tercipta, dunia dirawat, relasi dikelola. Agama seperti ini disebut salugetic (salus) artinya menyelamatkan kehidupan, membuat orang yang mengikutinya merasakan damai sejahtera, hidup beragam identitas tanpa ancaman, dapat belajar memaknai identitasnya sendiri dari agama yang berbeda dengan dirinya, dan menghidupi kebaikan. Keagamaan inilah yang Yesus maksudkan bagi kita ketika Ia mengatakan dalam bacaan kita di ayat 10 & 11: bahwa kita harus bertahan dalam derita, dalam tekanan. Kita harus mau memberitakan Injil kepada semua bangsa sebab Roh Kudus akan selalu menyertai kita.

Pertanyaannya: sudahkah kita memakai nama Tuhan secara proporsional? Memakai nama Tuhan untuk kebenaran, untuk mewartakan kebaikan, sehingga semua orang diberkati. Pewartaan ini tidak bersumber pada “penampilan rohani”, tetapi pada kerendahan hati untuk mengikut Tuhan, kesediaan untuk hidup sederhana, beribadah untuk Tuhan dalam setiap tutur kata kita, perilaku kita. Peribadahan yang seimbang dan selaras antara peribadahan ritual dan peribadahan keseharian. Mari kita beragama dengan sehat, beragama secara salugetic. Dengan demikian, hidup kita akan jadi jauh lebih bermanfaat bagi semesta dan menyenangkan hati Allah. (GPP)