Waspada dan Bertahan

Tanggal 12/13 November 2022

Kita mengenal akrab idiom ‘Ora et Labora’ yang artinya berdoa dan bekerja. Sebuah prinsip yang mengajarkan kita sebuah keseimbangan akan ritualisme dan karya. Doa dan karya harus berjalan bersamaan dan beriringan. Namun perlu diakui bahwa banyak orang justru terjebak mendikotomikan kedua hal tersebut, bukan ‘Ora et Labora’ melainkan ‘Orare uel Laborare’ (berdoa atau bekerja). Artinya, jika kita sedang berdoa maka kita tidak bekerja, demikian sebaliknya. Banyak orang terjebak dalam dua sikap, menjadi workaholic : berlebihan dalam bekerja dan melupakan peran Tuhan sebagai Sang Sumber Berkat, atau menjadi prayeraholic : berlebihan dalam berdoa dan lupa untuk sungguh-sungguh berusaha dan berkarya untuk mewujudkan hal yang didoakan.

Mengenai hal ini, bacaan dalam 2 Tesalonika 3:10 mengingatkan kita “…. jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”. Kata-kata ini disampaikan oleh Rasul Paulus dalam suasana dimana jemaat Tesalonika tengah sengsara akibat penganiayaan mempertahankan iman mereka. Nampaknya karena penganiayaan ini, sebagian orang membenarkan diri untuk melupakan tanggung jawab pekerjaan dan karya keseharian mereka. Dalam situasi demikian, rasul Paulus memberi contoh (ay.7-8) : “…kami tidak lalai bekerja di antara kamu, dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu.” Rasul Paulus adalah seorang tukang tenda. Ia bekerja untuk menghidupi kebutuhan pelayanannya. Dalam setiap karya keseharian, jerih lelahnya ia persembahkan untuk kemuliaan Tuhan. Pernyataan ini seolah ingin menjelaskan bahwa setiap kerja dan upaya manusia  adalah ibadah kita kepada Tuhan. Tiap karya kita sama kudus dan sama berkualitasnya dengan saat kita beribadah dan berdoa kepada Tuhan.

Tahun 2023 diprediksi menjadi tahun penuh tantangan. Situasi kesulitan ekonomi dapat menjadi alasan orang untuk berlaku curang, tidak jujur, menjadi atasan yang menindas/tidak memberi kelayakan pada bawahannya, menjadi bawahan yang malas dan putus asa, dsb. Sebagai anak-anak Tuhan kita dipanggil untuk  waspada, bertahan dalam kesukaran dengan menerapkan ‘Labora est Orare’ (bekerja adalah berdoa). Artinya, bekerja, berupaya sepenuh hati adalah wujud ibadah kita kepada Tuhan. Jadi marilah kita tekun berdoa kepada Tuhan dengan tetap berkarya sepenuh hati. Berkaryalah dengan sungguh-sungguh, bersikap jujur, bekerja keras, tidak mudah putus asa, tidak menindas orang lemah, menjadi pelajar yang bertanggung jawab, pekerja yang rajin, pengusaha yang bijak dan benar. Dan serahkan segala yang kita lakukan itu dalam doa pada Tuhan. Dan biarlah pada akhirnya hidup kita mengalami apa yang dituliskan dalam firman Tuhan (ayat 16) : “…Dan Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus-menerus, dalam segala hal, kepada kamu…”

‘Labora est Orare’ – apapun yang kita lakukan adalah ibadah kita pada Tuhan, persembahan hidup kita kepada Allah

(GPP)