Tuhan Memberkati Setiap Jerih Lelah Perjuangan Kita

Bacaan:

 

Tanggal 12/13 Februari 2022

Saudara, tahukah kita kira-kira apa makhluk paling lambat di dunia? Bukan kura-kura, bukan siput, bukan bintang laut. Tetapi pada tahun 2016, para ilmuwan di University of Wisconsin-Madison mengumumkan bahwa ada satu mamalia yang paling lambat di muka bumi bernama Kungkang. Kungkang adalah binatang berkuku dua atau berkuku tiga “ter-santuy” di dunia. Mereka memiliki kecepatan berjalan rata- rata hanya lima meter per-jam! Mereka mampu menghabiskan sebagian besar waktu mereka (15-20 jam per-hari) hanya untuk bergantung terbalik, makan, tidur, beristirahat, kawin hingga melahirkan pada dahan pohon. Saking “santuy”-nya hidup mereka, Kungkang bahkan kerap dijadikan tempat tinggal bagi ngengat (ulat calon kupu-kupu), kumbang, kecoa, bahkan jamur hingga lumut yang bisa tumbuh pada kulit mereka. Yang menarik, dalam tatanan bahasa Inggris, Kungkang disebut dengan kata “Sloth” yang artinya kemalasan dan hidup yang lambat! Terkait hal ini Henry Fairlie pernah menyatakan: “Kemalasan adalah dosa, karena tidak percaya pada apapun, tidak peduli apapun, tidak mencari tahu apapun, tidak mencampuri urusan apapun, tidak menikmati apapun, dan tetap hidup karena tidak ada sesuatupun yang membuatnya mati.” – mati segan, hidup tak mau.

Tak heran jika bapa-bapa gereja sejak abad ke-6 menyatakan bahwa kemalasan (Sloth) adalah satu dari tujuh dosa paling mematikan. Mungkin kita bertanya: Lho, malas-malasan, mager (males gerak), jadi kaum rebahan aja kok dosa sih? Hal ini bukan tanpa alasan sebab beberapa referensi dalam Alkitab, misalnya perumpamaan talenta, diceritakan hamba yang menerima satu talenta dihukum oleh Sang Pemberi talenta (Tuhan). Mengapa ia dihukum? Apakah karena ia berbuat sesuatu, melakukan pelanggaran tertentu? Tidak! Tetapi karena ia tidak berbuat apa-apa. Ia memilih berdiam, memendam talentanya dalam tanah. [1 talenta saat ini +/- 460 juta rupiah]. Ia menerima kepercayaan begitu besar, tapi mendiamkan dan mengembalikannya begitu saja. Hal senada kita temukan dalam bacaan hari ini dalam Yeremia 17:5-10.

10 Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”

Hal ini menegur bangsa Israel yang saat itu mengalami kemalasan spiritual untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan, bangsanya, diri sendiri. Mereka menganggap bahwa bertobat, melakukan kehendak Tuhan bukanlah suatu urgensi saat itu. Mereka menganggap bahwa mereka adalah umat pilihan Tuhan, jadi kalo berdosa, tak apalah. Alhasil mereka mengalami pembuangan di negeri asing selama 70 tahun.

Dalam kehidupan kita saat ini, kita sering menjumpai bahkan mungkin kadang mengalami pengalaman bangsa Israel: terjebak dalam kemalasan spiritual untuk bekerja keras meresponi janji-janji pemeliharaan Tuhan. Terlebih dalam hal ini kita memasuki masa pandemi Covid 19 dan virus Omicron yang memaksa banyak orang menghadapi tantangan hidup yang berat. Banyak orang akan tergoda memandang bahwa kehidupan yang kita jalani adalah takdir dari Tuhan. Takdir adalah suatu konsep dimana setiap orang jadi kaya/miskin, menikah/tidak, baik/jahat sudah ditentukan “dari sananya”. Manusia ibarat benda mati/robot yang hanya menjalani apa yang sudah ditentukan saja. Konsep ini tentu kita tolak dan tidak sesuai dengan iman Kristen. Pertama karena kita percaya Tuhan memberi kita kehendak bebas. Kedua, kita meyakini bahwa rancangan damai sejahtera Tuhan terwujud melalui kerjasama antara apa yang diizinkan Tuhan dan upaya manusia. Kita percaya bahwa Ia memberikan kepada kita setimpal, sesuai dengan perbuatan kita. Ia memberkati setiap jerih lelah perjuangan kita. Ia ingin memberkati kita melalui apa yang kita lakukan meresponi situasi yang ada.

Ingatkah kita bahwa dunia ini bisa bercahaya pada malam hari karena seorang Thomas Alva Edison yang konon gagal ribuan kali untuk menciptakan lampu. Dunia ini bisa berkembang dan saling terhubung karena Bill Gates (menciptakan Microsoft) dan Mark Zuckerberg (sosial media Facebook/Meta) tidak berhenti ketika gagal karena Drop Out dari Universitas Harvard. Tuhan memberkati jerih lelah mereka yang  kemudian membawa kebaikan dunia. Pertanyaannya maukah kita percaya bahwa rancangan damai sejahtera Tuhan terwujud melalui kerjasama antara situasi yang Tuhan izinkan (baik/buruk, kesulitan/kemudahan) dengan kerja keras manusia?

Selamat berkarya dan bekerja keras. Tuhan memberkati setiap karya kita. (GPP)