Toxic Family Relationship

Bacaan:

Tanggal 9/10 Oktober 2021

Relasi Keluarga yang “Beracun” (Saling Menyakiti)

Di sosial media kita sering mengunggah ataupun melihat foto-foto indah akan keluarga. Dalam puji-pujian gerejawik ita sering mendengar dan memanjatkan lagu bahwa keluarga Kristen itu hidup indah seperti yang tertulis dalm PKJ 289 “Keluarga Hidup Indah”. Tapi bagaimana bila pengalaman keluarga kita tak seindah foto-foto di sosial media maupun pujian indah tentang hidup berkeluarga? Bagaimana bila keluarga kita justru mengalami kekecewaan bahkan kepahitan hati? Bagaimana bila kenangan kita tentang keluarga justru menyisakan trauma, sakit hati dan dendam? Apa yang harus kita lakukan?

Hari ini kita belajar dari Kejadian 25:19-28 mengenai keluarga umat pilihan Tuhan yang mengalami toxic family relationship. Hal ini terjadi pada keluarga Ishak dan Ribka yang memiliki anak kembar: Esau dan Yakub. Esau dan Yakub sangat berbeda. Esau kulitnya berwarna merah, seluruh tubuhnya penuh dengan bulu seperti jubah berbulu. Ia pandai berburu dan senang tinggal di padang. Sedang Yakub berkulit bersih, seorang yang tenang dan suka tinggal di kemah memasak bersama ibunya. Rupanya dua kepribadian berbeda ini menimbulkan kasih yang terbagi di antara kedua orang tuanya. Ishak, sang ayah, sayang kepada Esau karena bisa membawa daging untuk dihidangkan padanya. Sementara Ribka, sang ibu, sayang kepada Yakub yang sehari-hari bersamanya di dapur.

Cinta kasih yang “terbelah” ini pada akhirnya memecah belah keluarga. Dengan saran dari ibunya (Ribka), Yakub merebut hak kesulungan sang kakak dengan menukarnya dengan semangkuk sup kacang merah. Yakub juga merebut berkat kesulungan dari sang ayah dengan berdandan seperti Esau, mengenakan bulu domba pada lengan dan lehernya sehingga meski ia anak bungsu, ia mendapat berkat dari sang ayah. Apa yang terjadi? Esau begitu marah dan bertekad untuk membunuh adiknya sendiri. Kakak beradik ini akhirnya bersitegang berpuluh- puluh tahun lamanya hingga Yakub harus melarikan diri ke Padan-Aram tempat Pamannya (Paman Laban) tinggal.

Dari kisah Esau dan Yakub ini kita belajar beberapa poin penting:

  1. Kita diajar untuk mengasuh anak-anak kita secara merata dan adil. Hapuskanlah “favoritisme” / keutamaan anak yang satu dan mengabaikan yang lain.
    Dalam keluarga, biasanya ada tradisi menghargai anak lebih dari yang lain karena mereka adalah anak sulung, atau memiliki talenta dan pekerjaan yang melanjutkan profesi turun temurun: sebagai dokter / pendeta / polisi / TNI / pengacara, dsb. Biasanya orang tua dan keluarga besar akan lebih menghargai dan sayang kepada anak yang memiliki hal yang diharapkan tersebut dibanding anak yang lain yang tidak memilikinya. Namun dalam iman Kristen, kita tidak memperlakukan demikian. Sebab apapun bidang keahlian dan pekerjaan tiap-tiap orang adalah mulia di mata Allah. Coba saja kita lihat tokoh-tokoh Alkitab: Tuhan Yesus sebelumnya hanya seorang tukang kayu, rasul Paulus tukang tenda, raja Daud dan Musa penggembala domba. Tapi pekerjaan-pekerjaan itu tidak mengecilkan peran mereka untuk dipakai Tuhan bagi dunia ini. Tuhan bisa memakai baik anak sulung / anak bungsu, penggembala domba ataupun seorang raja, talenta dan pekerjaan apapun untuk kebaikan dunia ini.
    Karena itu hindarilah pemaksaan masa depan anak sesuai selera kita. Kita tidak sedang membuat “fotokopi” anak di dunia ini, tetapi membimbing anak menemukan tugas panggilannya sesuai apa yang Tuhan sudah sediakan bagi mereka.
    Tuhan menginginkan setiap orang bukan menjadi “Be the Best of the Best”, menjadi yang terbaik dari yang terbaik, sehingga sesama anggota keluarga bisa dinilai lebih tinggi dari yang lain, membuat mereka saling merendahkan, berebut apresiasi dan berkat seperti Esau dan Yakub. Tetapi yang Tuhan inginkan supaya setiap anak menjadi “Be the Best of Their Self. Be the Best of Them.” Menjadi terbaik dari diri mereka sendiri, sebagaimana Tuhan menciptakan mereka.
    Jadikanlah anak cucu kita seorang manusia seutuhnya, seperti apa yang Tuhan letakkan pada hati mereka, pada talenta mereka. Sehingga keluarga kita bersukacita dan sembuh dari toxic family relationship.
  2. Menjadi keluarga yang mau rendah hati memaafkan satu dengan yang lain
    Kisah perseteruan keluarga Esau dan Yakub ini berakhir begitu melegakan ketika akhirnya Esau berinisiatif menemui adiknya Yakub. Dalam Kejadian 33, setelah puluhan tahun tak bertemu, Yakub begitu takut menemui Esau. Ia bahkan mengirimkan harta milik beserta budak-budak dan ternak-ternaknya kepada Esau untuk meredakan hati Esau. Yakub juga sujud tujuh kali di depan Esau.
    Tetapi apa yang dilakukan Esau ketika mereka bertemu kembali? Dikatakan dalam Kejadian 33:4 “Tetapi Esau berlari mendapatkan Yakub, mendekap Yakub, memeluk lehernya dan mencium Yakub, lalu bertangis-tangisanlah Esau dan Yakub.” Esau bahkan mengembalikan harta benda, budak dan ternak yang dikirimkan Yakub – meski setelahnya Yakub memaksa Esau untuk menerimanya.
    Apa yang dikatakan oleh Yakub ketika Esau dengan rendah hati mau menemuinya dan mengampuninya? Yakub berkata (Kejadian 33:10): “memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan (karena) engkaupun berkenan menyambut aku.” Keputusan Esau memutuskan rantai dendam dan sakit hati dan mengampuni adiknya membuat mereka dapat menemukan wajah Allah yang penuh kasih, membuat relasi mereka tersambung kembali.

Mari menjadi orang tua yang baik dan adil. Mari menjadi manusia yang penuh dengan sikap memaafkan. Pengampunan pertama-tama membuat hati kita penuh dengan kedamaian, bahkan membuat orang lain dapat melihat wajah Allah melalui sikap hidup kita. Selamat menjadi orang dewasa yang mengasihi tanpa membedakan dan selalu memiliki hati yang mengampuni supaya semua orang melihat wajah Allah melalui sikap hidup kita. Tuhan memberkati. Amin. (GPP)