TOBAT, TAPI BOONG

Bacaan:

 

Tanggal 17/18 April 2021

Istilah “PRANK” bukanlah istilah yang asing bagi generasi Z dan generasi alpha, karena istilah PRANK popular di era digital. Apa itu “PRANK”? Menurut Haniva Hasna (seorang kriminolog), dia mengatakan “PRANK” adalah tindakan jahil yang tidak masuk di akal (biasanya berupa jebakan/trap). Sebenarnya “PRANK” itu sudah ada dari dulu. Ada “PRANK” yang lucu, maka jadi hiburan. Tapi semakin kemari (era digital) perilaku “NGE-PRANK” menjadi liar, karena dapat dilakukan oleh siapa saja dan dengan begitu mudah dapat diunggah lalu dishare dan diakses lewat sosial media. Dan yang menarik adalah thema kita hari ini mengandung istilah yang jadi trend dalam
“PRANK”, apa itu? TAPI BOONG.

Sekalipun thema ini: “TOBAT, TAPI BOONG” memiliki konotasi yang negative, ironisnya thema ini sebenarnya adalah sindiran buat kita. Mengapa? Karena seringkali kita melakukannya (1 Yoh3:6) “Karena itu, setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia”. Apa yang Tuhan ingin, supaya kita lakukan dari Firman Tuhan ini? Supaya kita tidak berbuat dosa lagi (STOP BERBUAT DOSA). Artinya apa? Tuhan menginginkan hidup kita (Saudara dan saya) hidup dalam “PERTOBATAN SEJATI”. Hidup yang terus berubah dan berbuah.

Pertanyaannya adalah apakah kita sungguh-sungguh menghidupi pertobatan itu? Atau kita masih menjadi penganut aliran TOBAT TOMAT. Jika demikian yang terjadi, maka PERTOBATAN kita tidak konsisten, ini sama saja dengan “TOBAT, TAPI BOONG”. 1 Yohanes 1-6 mengingatkan agar jemaat Tuhan pada saat itu hidup dalam PERTOBATAN YANG SEJATI. Mengapa? Karena pada saat itu banyak ajaran guru-guru palsu dari aliran Gnostik yang mengajarkan bahwa perbuatan dosa fisik tidak ada hubungannya dengan manusia sejati yang adalah roh, dan ajaran tersebut bertentangan dengan ajaran Kekristenan. Ajaran inilah yang kemudian membuat umat Tuhan diwaktu yang lampau terjebak dalam PERTOBATAN PALSU!

Mari kita lihat kehidupan kita, tantangan kita untuk hidup dalam PERTOBATAN SEJATI saat ini yang paling besar itu justru dari dalam diri kita masing-masing. Mengapa Firman Tuhan tidak mengubah hidup kita? Karena kita tidak berada dalam Dia. Firman-Nya hanya sekedar formalitas dan rutinitas spiritualitas kita. Diperlukan kesadaran untuk mencari penyebabnya, mengapa kehidupan kita seolah menjadi kehidupan yang berbuah, nampak indah dan ranum, namun setelah dimakan: busuk ,kosong, tidak ada rasanya/asam. Jawabannya adalah karena sekalipun kita berada dalam Dia, ternyata kita masih asyik di ZONA NYAMAN kita, masih asyik dengan sampah dosa kita, BAD HABITS: (kebohongan kita, keserakahan, kemarahan, dll). Selidiki apakah yang membuat kita sulit untuk BERUBAH dan BERBUAH? Apakah Pertobatan itu sudah mengubahku? Mengubah orang lain? Manusia/ sesama bisa kita “PRANK”, tapi tidak dengan TUHAN. Mari kita BERUBAH DAN BERBUAH. (RIW)