TERUS MENERUS DIBARUI

Bacaan:

 
 

Tanggal 9/10 Januari 2021

Sebagai seorang pribadi yang telah dibaptis, pernahkah kita meninjau kembali apa makna sesungguhnya dari baptisan? Ataukah kita hanya terpaku kepada penebusan Yesus di kayu salib untuk kita manusia? Seringkali, kita yang sudah dibaptis ini tidak merasa perlu untuk selalu memaknai ulang tentang konsep baptisan. Minggu ini, kita dipanggil untuk berefleksi apakah diri kita sudah hidup dalam pertobatan dan selalu melakukan pembaruan. Yesus sendiri, telah memberikan contoh kepada kita melalui baptisannya.

Dalam bacaan kita pada saat ini, Yohanes menggenapi nubuatan Yesaya di Yesaya 40:3. Pada ayat 4, kita melihat bahwa baptisan Yohanes merupakan tanda penyesalan dan pertobatan. Pada ayat 4 timbul pertanyaan dari “Allah akan mengampuni dosamu”, apakah pengampunan kita dapatkan pada saat yang bersamaan dengan baptisan? Yohanes yakin bahwa pengampunan adalah anugerah dan bukan hasil langsung dari baptisan, artinya baptisan merupakan bentuk janji Allah kepada manusia untuk memperoleh anugerah pengampunan. Pada ayat 5, tidak diketahui mengapa orang-orang dari seluruh Yudea dan semua penduduk Yerusalem datang kepada Yohanes untuk dibaptis. Namun, penekanannya masih sama, yaitu tentang pengakuan dosa dan penyesalan. Oleh karena itu di dalam Injil Markus tidak disebutkan apakah mereka mendapatkan pengampunan.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah mengapa pertobatan itu perlu? Jawabannya ada dalam ayat 7-8. Yohanes mengatakan, “akan datang Dia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak” (ayat 7). Yohanes dikenal sebagai nabi yang besar, yang dapat menjadi hamba Kaisar yang kala itu dianggap atau dilihat sebagai orang paling berkuasa di bumi. Lantas dapat dibayangkan bagaimana keagungan Dia yang digambarkan sampai Yohanes merasa tidak layak untuk membungkuk dan membuka tali kasut-Nya. Gambaran ini tidak secara langsung mengacu pada Allah sendiri melainkan kepada Dia yang datang dalam rupa manusia. Kemudian dilanjutkan dengan pernyataan Yohanes yang membaptis dengan air, namun hanya Dia yang dapat membaptis dengan Roh (ayat 8). Berdasarkan penjelasan ini, Yohanes mendesak kepada umat agar bertobat, karena pertobatan merupakan syarat untuk memperoleh anugerah pengampunan dari Allah serta bentuk sikap mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya.

Pada ayat 9, dijelaskan bagaimana proses Yesus datang ke sungai Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes yang tentu saja sudah dinubuatkan sebelumnya. Langit terkoyak pada ayat 10, dapat dibayangkan seperti langit sekarang jika ada cahaya yang menembus awan, serta Roh Kudus turun dalam rupa burung merpati, merupakan tanda dari surga bahwa Allah telah menggenapi nubuat para nabi. Kemudian disusul ayat 11 terdengar suara dari surga “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi kepada-Mulah Aku berkenan”. Semua peristiwa dari ayat 10-11 bukan hanya dilihat, didengar, dan dirasakan oleh Yesus seorang, melainkan juga dialami oleh banyak orang yang ada disana. Hal ini bisa dipahami bahwa Allah ingin semua orang dapat menjadi saksi akan peristiwa itu dan menjadi pelaku-pelaku untuk dapat menceritakan kabar sukacita itu kepada orang banyak.

Bacaan ini meminta kita untuk dapat melihat bersama bahwa baptisan merupakan bentuk atau tanda dan komitmen kita sebagai umat percaya untuk mendapatkan anugerah pengampunan, yang bisa kita dapatkan melalui pertobatan dengan cara terus-menerus hidup dalam pembaruan diri. Kita dipanggil untuk menjadi pelaku-pelaku pembaruan dalam kehidupan sehari-hari dan itu dapat kita mulai dari hal yang paling sederhana, yaitu dimulai dari diri sendiri untuk dapat menjadi teladan bagi orang lain. Tapi bagaimana caranya? Hanya diri kita sendiri yang mampu untuk dapat menentukan langkah mana yang baik dan berkenan dengan kehendak Tuhan. Di tengah pandemi yang belum berakhir ini, mari bersama merendahkan hati kita untuk bersatu dan mengubah diri kita menjadi lebih baik. Selamat berproses dan menghayati tahun baru sebagai lembaran serta hidup yang baru, Tuhan Yesus memberkati. Amin. (FY)