TEGAR, KREATIF, ULET, BERJUANG BERSAMA KRISTUS YANG MULIA

Bacaan:

 
 

Tanggal 13/14 Februari 2021

Dalam bacaan Injil hari ini (Markus 9:2-9) diceritakan Yesus naik ke atas sebuah gunung. Bagi orang Israel, Gunung menjadi simbol tempat mulia, tempat berjumpa dengan Tuhan. Contoh saja, Musa naik ke Gunung Sinai saat menerima 10 perintah Allah yang dituliskan dalam 2 loh batu. Musa naik ke gunung Nebo untuk melihat tanah perjanjian (Kanaan) dan menghabiskan sisa waktunya untuk bersekutu dengan Allah. Elia bercakap-cakap dengan Tuhan ketika ia naik ke gunung Horeb. Disanalah Allah memotivasinya dan menggerakkannya untuk terus bekerja dan melayani. Begitu juga dengan kisah ketika Tuhan Yesus naik ke sebuah gunung, berubah rupa di depan mata mereka. “pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.” (Markus 9:3) Bahkan Ia dikelilingi oleh pemimpin terbesar dari bangsa Israel (Musa) dan nabi terbesar dari bangsa Israel (Elia). Lalu turunlah awan menaungi mereka dan terdengar suara dari dalam awan itu: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Ini semua adalah sebuah proklamasi dari Sorga, pernyataan yang begitu kuat dari Allah Bapa, yang ingin menegaskan tanda Yesus yang dimuliakan, Yesus yang berasal dari Allah.

Yang paling menarik dalam bacaan ini adalah sementara para murid hendak berhenti pada kemuliaan di atas gunung (mendirikan tenda-ay.5), Yesus justru move on, melanjutkan kemuliaan di bawah gunung (Yesus segera turun dari gunung-ay.9). Yesus melihat bahwa kemuliaan saat Ia diistimewakan : dinyatakan berasal dari Allah, disebut Anak Allah, dikasihi oleh Allah adalah peneguhan bahwa Ia dipanggil untuk menunjukkan kemuliaan di bawah gunung. Kemuliaan itu nampak ketika Ia menuju Yerusalem, menjalani jalan salib : jalan pengorbanan karena cinta. Di bawah gunung itulah Yesus menunjukkan ketegarannya menanggung derita, keuletannya melayani orang yang susah, perjuangannya membagikan cinta kasih sebagai tanda kemuliaan Allah.

Dalam perjalanan iman kita mengikut Tuhan, maka tanda kemuliaan Allah janganlah berhenti saat hidup kita “berada di atas” (sukses, berkelimpahan, sehat, dsb.), tetapi juga berlanjut saat hidup “berada di bawah”. Maka kehidupan pekerjaan, penghasilan, pembelajaran, kesehatan, berkeluarga, beribadah, yang bergoncang saat pandemi Covid 19 ini bisa kita pandang sebagai panggilan Tuhan untuk tetap setia bersaksi “di bawah gunung”. Artinya kita diajak untuk memandang pandemi dengan kacamata baru: kacamata kesempatan; kesempatan untuk berjuang membuktikan kualitas iman kita, kesempatan meyakini pemeliharaan Allah, kesempatan untuk setia dan ulet melayani sesama meski sedang prihatin dan susah. Pada akhirnya perjuangan itu justru menunjukkan kemuliaan Allah.

Momentum Yesus yang dimuliakan ini (Transfigurasi) secara unik bertepatan dengan hari Valentine, hari kasih sayang yang diperingati pada tanggal 14 Februari ini. Tradisi mengungkapkan kasih sayang ini bermula saat St. Valentinus memperjuangkan ikatan kasih di antara pasangan yang dilarang oleh kaisar Claudius II agar tidak menghalangi para serdadu berangkat ke medan perang. St. Valentinus ini menentang kebijakan tersebut dan berusaha secara diam-diam menikahkan pasangan untuk menyemai kasih dalam hidup rumah tangga. Tindakan ini akhirnya terungkap dan membuat St. Valentinus ditangkap, dihukum, dipukuli hingga dipancung. Kematian St. Valentinus akhirnya menjadi tanda lahirnya kebebasan untuk mengungkapkan cinta kasih dan pengorbanan. Cinta dan pengorbanan dipandang sebagai sebuah kemuliaan.

Bagaimana cara kita merayakan kemuliaan Yesus dan hari kasih sayang tahun ini? Hari kasih sayang tidak berhenti saat kita memberi atau menerima coklat atau sesuatu yang spesial dari orang yang kita kasihi. Hari kasih sayang menjadi berarti saat kita berani mewujudkan cinta dan pengorbanan. Memandang situasi pandemi sebagai panggilan Allah untuk berjuang membuktikan kualitas iman kita, meyakini pemeliharaan Allah, setia dan ulet melayani sesama dalam keprihatinan. Di sanalah cinta dan pengorbanan menjadi tanda kemuliaan-Nya. ( GPP)