Sungguhkah Engkau Mengasihi Aku?

Bacaan:

Tanggal 30 April/1 Mei 2022

“Kualitas Kasih” kita seberapa? Seberapa berkualitas kasih kita pada Tuhan dan sesama? Jangan-jangan kualitas kasih dalam diri kita rapuh/rendah/meragukan, atau “kurang berkualitas.

Soal kualitas kasih pada diri seseorang tentu saja sulit diukur, namun justru dapat terlihat justru pada saat ia dikecewakan oleh seseorang, atau bahkan dikhianati/ disakiti oleh seseorang. Mari kita belajar kualitas kasih melalui diri Yesus ketika bertemu dengan Simon Petrus yang sudah menyangkali (mengkhianati) Tuhan Yesus sebanyak 3 (tiga) kali. Simon yang mengecewakan, tidak seperti sesumbarnya sebelumnya “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” (Lukas 22:33-34)

Kita bisa belajar dari Yohanes 21:15-19, ciri-ciri kasih yang berkualitas, yaitu dari sikap & dialog Tuhan Yesus kepada Simon yang telah menyangkalinya 3x. Perhatikan pertanyaan Yesus ini: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?”…. Jadi ciri-ciri kasih yang berkualitas adalah ia konsisten:

  1. Konsisten: Tetap mendatangi, menyapa, mengajak bicara dengan lembut! Menegurpun dengan lembut, memilih kata dan cara yang tepat/bijak dan beretika! Yesus tidak asal mengekspresikan kemarahan, kekecewaan-Nya, tidak asal marah-marah, namun tetap lembut walau “amat dikecewakan”. Bukan “hate speech” tetapi dengan “heart speech”.
  2. Konsisten: Tetap mau mendengar, mau mengerti “keterbatasan”. Yesus tetap memberi kesempatan Simon Petrus untuk “menjawab” mengungkapkan isi hatinya. Walaupun jawaban Simon mengecewakan, tidak seperti yang diharapkan, tetapi dengan sabar Yesus tetap mau berkomunikasi dengan lembut dan mau mendengarkan. Bukan cuma mendengarkan, tetapi mencoba memahami keterbatasan Simon yang belum mampu bersikap seperti yang diharapkan-Nya!
  3. Konsisten: Tetap memberi kepercayaan, berani mempercayai! Tuhan Yesus memberi tugas panggilan kepada Simon, memberi kepercayaan untuk “menggembalakan” umat Tuhan yang akan dipercayakan kepadanya. Sementara kasih yang kurang berkualitas mudah kehilangan kepercayaan!
  4. Konsisten dengan cara yang halus dan “simpatik” mengajak orang tersebut memperbaiki diri! Tuhan Yesus melalui 3x (tiga kali) bertanya, sebenarnya mengajak Simon untuk mengevaluasi diri, memeriksa dirinya sendiri, benarkah ia telah mengasihi Yesus dengan berkualitas (yang seharusnya demikian)? Simon diajak memperbaiki kualitas kasih pada dirinya!
  5. Konsisten: kerelaan mengampuni dengan total, hal itu ditunjukkan dengan kerelaannya untuk berkorban, menerima diri orang tersebut apa adanya (betapapun mengecewakannya), bahkan ketika orang tersebut kesulitan (dan butuh waktu) untuk bisa memperbaiki dirinya! Kasih itu sabar!

Inilah ciri kasih pada level paling tinggi (berkualitas), pada level inilah justru hubungan kita dengan Allah dan sesama akan semakin erat, kita akan membahagiakan semua orang, karena kita bukan cuma “mengasihi”, tetapi membuktikan kasih kita tersebut dengan konsistensi: kualitas sikap, kualitas komunikasi/dialog, dan kualitas perbuatan yang menunjukkan kualitas kasih pada diri kita.

Tuhan akan menyertai perjuangan kita dalam membangun diri sendiri, jatuh bangun memperbaiki diri, sukar/tidak mudah, seringkali harus melalui dan menghadapi berbagai orang sulit (orang-orang yang mengecewakan). Namun justru semua rintangan dan tantangan itu akan menempa dan mengajak kita membuktikan seberapa kualitas kasih pada diri kita! Tuhan memberkati perjuangan diri kita, bahkan Tuhan akan
mencurahkan kasih-Nya dalam hati/hidup kita, agar kita dimampukan untuk memiliki kasih makin hari makin berkualitas! Amin. (PL)