SUDAHKAH LURUS DAN RATA JALAN HIDUPMU?

Bacaan:

 
 

Tanggal 5/6 Desember 2020

Mengapa tidak banyak orang yang senang mengenakan baju berwarna putih? Baju putih itu cepat kotor. Kita harus hati-hati dan tidak sembrono ketika memakai baju warna putih. Bersedia untuk berpakaian putih itu menjadi gambaran kehidupan kita untuk senantiasa mau menjaga hidup kita agar bersih (kudus). Itu yang dikehendaki Tuhan dalam kehidupan kita. Tapi, IRONIS, yang sering terjadi justru sebaliknya. Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan bangsa Israel. Sebagai umat pilihan Allah, tentu Allah sangat berharap agar Israel dapat menjaga hidup kudus. TAPI REALITA BERBEDA DENGAN HARAPAN. Israel justru sulit keluar, bahasa kekiniannya “SUSAH MOVE ON”, malah menikmati hidup dalam dosa. Kehidupan orang Israel yang berdosa digambarkan Yesaya seperti:

“Setiap LEMBAH harus ditutup dan setiap GUNUNG dan BUKIT diratakan, tanah yang BERBUKIT-BUKIT harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang BERLEKUK-LEKUK menjadi dataran”

Digambarkan seperti: lembah, gunung, bukit-bukit, berlekuk-lekuk (ini menjadi penggambaran kelemahan, kesombongan, kebobrokan, kebandelan bangsa Israel). Dengan kondisi seperti ini (DOSA), maka sebagai konsekuensinya bangsa Israel harus hidup dalam penghukuman (dibuang ke Babel). Namun dalam masa-masa penghukuman itulah Allah menghadirkan Yesaya untuk menyampaikan berita sukacita (berita pembebasan). Harapannya adalah dengan pengampunan / pembebasan yang diberikan Allah kepada Israel, mereka segera merespon dengan: menyambut, mempersiapkan jalan bagi Dia. Artinya bersedia untuk mengubah lembah (kelemahan), gunung (kesombongan), bukit (kebobrokan), lekuk-lekuk (kebandelan). Tidak MUDAH. Ditambah dengan penggambaran Yesaya 40:6,7. Yesaya membawa manusia pada titik sadar bahwa manusia itu lemah dan terbatas. Tuhan sadar dengan keterbatasan umat-Nya, Tuhan juga tidak menghendaki kebinasaan. Tuhan ingin manusia berbalik (kembali kepada Allah). Jangan lupa bahwa Firman Tuhan katakan dalam 2 Petrus 3:8-15 bahwa Ia akan datang kembali, kapan Ia datang? Tidak ada seorangpun yang tahu. Jika Ia tidak atau belum segera datang itu bukan berarti: kita dapat bersantai- santai, bukan berarti Dia lalai atau lupa, TIDAK.

Tapi itu semua karena kesabaran-Nya, Dia masih memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri (kembali kepada Allah). Note: bila jalan lurus (pertobatan) itu sudah ada pada kita, maka kita juga akan dipakai untuk proses pertobatan orang lain, membawa orang lain berjumpa dengan Yesus. Bila jalan kita belum lurus, yang terjadi justru kita sedang tutup jalan orang lain untuk bertemu atau kembali kepada Tuhan.

Jangan tunggu nanti, ketika Tuhan masih beri kesempatan. Kalau bisa nanti kenapa harus sekarang? Kalau bisa tobat nanti kenapa harus sekarang? ITU BUDAYA BURUK. Budaya buruk jangan dipelihara apalagi diestafetkan!! STOP.

Jangan tunda, biasakan BUDAYA BAIK!! Perbaiki diri, beri kesediaan diri agar Tuhan sendiri yang memangkas, meratakan hal-hal yang tidak baik dalam hidup kita.

Mari renungkan, hal-hal tidak baik apa dalam hidup kita yang perlu diratakan, ditutup, dipangkas? Tidak enak, tidak nyaman, melelahkan. Pertahankan hidup bersih (lurus dan rata) itu sekalipun godaan dari dalam dan dari luar ekstra kuat. (RIW)