RAJA YANG MENGGEMBALAKAN

Bacaan:

 

Tanggal 21/22 November 2020

Beberapa waktu yang lalu kita digegerkan dengan sebuah content yang dibuat oleh Youtuber terkenal di Indonesia, karena dalam content tersebut sang Youtuber membagikan sembako kepada orang-orang jalanan yang dia jumpai. Video ini menuai banyak hujatan karena ternyata yang diberikan bukanlah sembako, melainkan sampah yang dibungkus dengan kardus sembako. Pemberitaan mengenai content ini semakin ramai ketika salah seorang waria yang menerima “sembako sampah” itu melaporkan pada polisi. Dengan penuh kekecewaan dan air mata waria tersebut mengatakan : “saya kira besok saya bisa makan”.

Peristiwa di atas menunjukkan realita yang kita hadapi saat ini, di mana kita hidup di era transaksional. Bahkan era transaksional ini diperparah dengan ketidakpedulian terhadap sesama. Minggu ini bertepatan dengan peringatan Kristus Raja, kita diingatkan kembali supaya memiliki hidup yang genuine / hidup yang murni sehingga kita siap meghadapi penghakiman terakhir. Lalu apa kata perikop ini sehingga kita siap menghadapi penghakiman terakhir?

Ada 3 hal menarik dari Matius 25: 31-46 yang menjadi bahan refleksi kita saat ini. Hal pertama yang menarik untuk dicermati bahwa penghakiman terjadi antara kelompok domba dan kelompok kambing, dan bukannya antara kelompok domba dan kelompok serigala! Kedua kelompok ini dulunya adalah kelompok yang sama-sama digembalakan. Gembala menggembalakan sekawanan domba yang bercampur dengan kambing. Kambing cenderung berjalan kesana kemari untuk mencari rumput sedangkan domba cenderung diam di satu tempat. Pada waktu petang, domba mendengarkan suara gembala, sementara kambing memilih untuk mengabaikan panggilan gembala. Pada waktu malam tiba, domba lebih suka di tempat terbuka sedangkan kambing tidak, karena kambing tidak tahan terhadap udara dingin dan harus berada di kandang. Dari sini kita bisa memahami bahwa penghakiman itu akan terjadi pada kita semua. Tidak ada yang bisa luput dari penghakiman!

Kedua, dari kata-kata Tuhan Yesus “ Aku lapar engkau memberi makan, aku haus engkau memberi minum…….dst.” Yesus menyatakan dengan tegas dan pasti bahwa ciri-ciri seorang Kristen sejati bukanlah seberapa banyak dia ke gereja, bukanlah pengetahuan Kitab Sucinya, melainkan kasih yang dapat diberikannya kepada mereka yang membutuhkan. Bukti seorang Kristen sejati adalah kemampuannya melakukan perbuatan kasih. Kelompok domba akan mewarisi kerajaan Allah, karena mereka telah menanggapi kebutuhan sesama akan kasih, perhatian dan pelayanan. Dalam hal ini Yesus juga menekankan perbuatan-perbuatan baik yang berupa kebaikan-kebaikan sosial yang kecil, seperti memberi makan, memberi minum, menengok orang sakit dll. Jika kita tidak melakukan hal ini, maka kita sudah melakukan dosa pasif dengan mengabaikan sesama.

Ketiga, reaksibaikdarikelompokdombamaupundarikelompokkambingterhadap ucapan Yesus, adalah kekagetan yang luar biasa, namun dengan pola pikir yang berbeda. Pernyataan kelompok domba adalah ,“Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi engkau makan, … haus, …dst.” dalam Bahasa sehari-hari dapat dikatakan : “Tuhan, kok kami bisa dapat bagian dalam kerajaan-Mu, memang pernah ya kami memberi Engkau makan ketika Engkau lapar, dll…? Sepertinya kok kami belum pernah melakukan itu”. Ini menunjukkan kelompok domba tidak pernah mengingat atau mencatat perbuatan baik mereka. Mereka tidak pernah mengharapkan balasan atau pujian. Bagi mereka berbuat baik kepada sesama adalah sukacita sebagai seorang hamba Tuhan. Sebaliknya kelompok kambing mengatakan…”Bilamanakah kami melihat Engkau lapar , haus…..dst, …dan kami tidak melayani Engkau? . Dalam bahasa sehari-hari bisa dikatakan: “Lho Tuhan, kami sudah melakukan banyak lho, masa semua itu tidak dihitung sebagai melayani Engkau” . Kelompok kambing selalu mengingat-ingat perbuatan baik yang mereka lakukan. Mungkin mereka tahu dengan pasti jumlah uang yang pernah mereka sumbangkan, kalau perlu menyimpan semua buktinya!

Penghakiman Tuhan akan mencatat semua momen dalam hidup kita di mana kita tanpa sadar mengulurkan tangan kepada sesama yang membutuhkan, di mana kita melakukannya sesuai dengan jati diri yang sesungguhnya, bukan demi pamrih atau keuntungan pribadi. Hanya satu hidup yang dapat menanggapi kebutuhan orang lain dengan cinta yang tak terbatas, yakni hidup Yesus. Kita dapat memiliki hidup itu apabila kita menerima-Nya di dalam hati kita yang terdalam. Setelah memiliki-Nya di dalam hati yang terdalam, kita siap sedia untuk menggapai sesama dengan kasih. Hanya hidup semacam ini yang mampu melewati ujian terakhir! Maka mari kita berefleksi: apakah kita sudah memiliki kualitashidupyangpenuhkasihpadasesama? Apakahkitaterusmemperbaikidirisehingga memiliki kualitas itu? Apakah motivasi kita murni ketika melakukan sesuatu untuk sesama? Tuhan memberkati! (SA)