Pulanglah! Tuhan Menunggumu

Bacaan:

Tanggal 10/11 September 2022

Semua orang pasti pernah kehilangan barang atau orang yang disayangi. Dan ketika peristiwa kehilangan itu terjadi, kita merasa sedih. Perasaan sedih adalah perasaan protektif yang diberikan Tuhan kepada kita agar kita berhati-hati menjaga barang atau orang yang kita sayangi. Semakin besar rasa sayang kita, maka semakin besar pula kesedihan yang kita alami ketika barang atau orang yang kita sayangi hilang.

Perikop bacaan kita minggu ini juga berbicara tentang perkara kehilangan. Kisah ini dibuka dengan keterangan tentang orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersungut-sungut, karena Yesus bergaul dan bahkan makan bersama para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Orang-orang ini adalah golongan orang yang dianggap penuh dengan cacat cela oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Penggolongan seperti itu dilakukan dalam rangka memberlakukan politik kekudusan untuk membedakan dan memisahkan siapa orang-orang kudus dan siapa orang-orang najis. Menanggapi hal inilah Yesus menceritakan perumpamaan tentang domba yang hilang, yang kemudian dilanjutkan dengan perumpamaan tentang uang dirham yang hilang.

Melalui kedua perumpamaan ini Yesus mengajarkan kepada kita bahwa cara pandang seperti yang dimiliki oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah cara pandang yang keliru. Bagi mereka, kekudusan berkait erat dengan kesucian fisik, sedangkan bagi Yesus, kekudusan adalah masalah kesucian batin. Itu sebabnya dalam kedua perumpamaan yang diceritakan-Nya, Yesus tidak menyinggung sama sekali cacat cela si domba yang hilang atau uang dirham yang hilang. Bahkan tidak ada penjelasan mengapa mereka hilang. Bagi Yesus yang seharusnya menjadi fokus kita bukanlah cacat cela yang dimiliki oleh orang lain, tapi fakta bahwa ada orang-orang yang hilang, orang-orang yang tidak lagi berada di tengah-tengah kita.

Tema kita minggu ini adalah, “Pulanglah! Tuhan Menunggumu.” Tema ini penting untuk mengingatkan kita pada Tuhan yang murah hati. Tuhan yang memiliki hati begitu luas untuk menampung semua orang, dan tangan serta bahu yang begitu lebar untuk merangkul semua orang. Namun yang harus kita pertanyakan bukanlah Tuhan, sebab jawabannya sudah sangat jelas. Tuhan merasa sedih jika ada orang yang hilang, yang tidak lagi berada di tengah-tengah kita. Pertanyaan yang lebih penting untuk kita tanyakan justru terkait dengan diri kita. Apakah kita sudah meneladani sikap Tuhan ini, atau jangan-jangan kita malah bersikap seperti orang-orang Farisi dan ahliahli Taurat?

Di dalam gereja dan masyarakat kita bisa terjatuh dalam sikap yang keliru, ketika hati kita dipenuhi dengan prasangka dan kebencian pada orang-orang yang kita anggap memiliki cacat cela dan dosa. Kita menekankan masalah kesucian fisik, hingga mengabaikan kesucian batin kita. Banyak orang yang hilang dari antara kita dan tidak berani kembali, karena tidak ada orang yang bersedih hati ketika mereka hilang dan kemudian berusaha mencari mereka sampai ketemu.

Dari dunia kedokteran kita belajar bahwa banyak sakit fisik yang sebenarnya bersumber dari sakit mental. Demikian pula dalam relasi kita dengan orang-orang di sekitar kita. Seringkali relasi kita menjadi begitu buruk, karena hati kita dipenuhi dengan prasangka dan kebencian. Oleh karena itu sudah saatnya kita mengevaluasi diri kita dan membersihkan batin kita agar kita mampu melihat wajah saudara kita, dan mencari mereka ketika mereka hilang. Tuhan Yesus memberkati. (PSW)