PROVIDENTIA DEI

Bacaan:

Tanggal 6/7 November 2021

Tentu kita sudah tidak asing dengan reality show “TOLONG” (apakah semua orang mau menolong? Jawabannya adalah tidak semua orang mau menolong). Menjadi realitas memang “memberi” / ”berbagi” itu tidak mudah. Apabila dalam keadaan kelimpahan saja sudah sulit untuk “memberi” / ”berbagi”, maka “memberi” / ”berbagi” akan menjadi hal yang sangat sulit dilakukan jika seseorang dalam keadaan kekurangan. Apa yang bisa kita pelajari dari Elia dan janda di Sarfat? Sebuah kisah yang cukup unik, mengapa Tuhan tidak :

“ PROVIDENTIA DEI – PEMELIHARAAN ALLAH ”

  • Memerintahkan Elia untuk datang kepada orang yang berada (kaya), kenapa harus ke janda miskin? (1 Raja-raja 17: 8)
  • Memerintahkan Elia untuk pergi ke tempat yang aman namun justru ke Sarfat? Sarfat adalah kota kecil di antara Tirus dan Sidon (daerah yang membahayakan buat dia, ingat Izebel adalah anak raja Sidon)

Mengapa di tengah kesusahan dan kesulitan hidupnya sebagai seorang janda, Tuhan malah mempertemukannya dengan Elia? Bukankah hidupnya yang sudah susah jadi tambah susah? Mengapa Tuhan tidak mempertemukan Janda miskin ini dengan orang lain / orang yang lebih berada yang dapat menolong hidupnya?

Bagaimana dengan kita, dalam masa-masa kering (krisis) yang kita alami karena pandemi.

Mungkin Tuhan tidak sedang memerintahkan kita :

  • untuk datang atau menemukan orang yang nyaman! Tuhan justru mempertemukan kita dengan orang yang sama-sama susahnya atau bahkan justru lebih susah dari kita. Kita yang mungkin saat ini sangat susah justru diperjumpakan dengan orang yang harus kita tolong.
  • untuk pergi ke tempat yang aman (zona aman). Bukankah kita anak Tuhan! Mengapa Tuhan justru membawa kita pada kondisi dan tempat yang membahayakan kita ???

Jawabannya adalah supaya kita belajar menjadi seperti Elia terlebih seperti janda di Sarfat :

  • Dalam segala keadaan kita dapat menjadi pribadi yang taat pada Tuhan. Apakah mudah menjadi orang yang taat?  Apakah kita adalah anak-anak-Nya yang taat?
  • Bersandar dan mengandalkan Tuhan.
    Dalam masa-masa kering / paceklik (krisis) yang kita alami karena pandemi, apakah kita sedang bersandar dan mengandalkan Tuhan (semeleh) atau kita sedang mengandalkan diri dan kekuatan kita sendiri??
  • Percaya pada pemeliharaan Tuhan.
    Apakah mudah untuk “percaya” ?? Tidak mudah. Namun, bagi orang yang percaya pada Tuhan maka kondisi seekstrim apapun tidak akan membuat dia ragu, apalagi takut dan kemudian nglokro menghadapi dan menjalani masa paceklik “krisis” ini. Karena dia percaya, bahwa Dia adalah “Jehova Jireh” – “Allah yang mencukupi” (Allah yang memelihara – Providentia Dei).

Berikutnya, hal lain apa yang dapat kita pelajari secara khusus dari seorang janda Sarfat ini? Di tengah situasi kering-krisis “paceklik” kita didorong untuk :

  • Menjadi pribadi yang mengasihi sesama kita.
    Siapakah sesama itu? Siapapun mereka, tanpa peduli identitas mereka (tidak membeda-bedakan). Seperti janda di Sarfat, dia tidak mempedulikan siapakah yang dia tolong, sedangkan dia sendiri ada dalam kesulitan. Lihat sekitar kita! Apakah ada orang yang saat ini membutuhkan kita?
  • Menjadi pribadi yang murah hati.
    Lawan dari murah hati adalah pelit. Murah hati ini selalu akan dikaitkan dengan memberi. Yang perlu disadari bersama adalah bahwa :
    • Kualitas memberi tidak ditentukan dari berapa jumlahnya, namun dari berapa besar ketulusan dan cinta yang mengiringi pemberian itu.
    • Memberi juga tidak selalu identik dengan materi. Kita dapat menjadi pribadi yang murah hati dengan memberikan: waktu, perhatian, kasih, doa kita pada orang lain.
    • Namun jika kita memiliki berkat lebih, maka sesungguhnya Tuhan juga menginginkan agar kita memiliki kepekaan untuk melihat keadaan di sekitar kita.

    Seorang yang murah hati maka dia tidak akan mengalami kesulitan untuk memberi, Mengapa?

    • Karena dia sudah mengalami lebih dulu kemurahan dari Tuhan.
    • Dia sadar bahwa memberi tidak akan membuat dirinya kemudian menjadi miskin.
    • “Aku memberi bukan karena aku punya, aku memberi karena aku tahu bagaimana rasanya tidak punya”.

    Memberi dari kelimpahan itu hal biasa, namun berani memberi di tengah keterbatasan/kekurangan ITU LUAR BIASA!!!!

Dan perihal “memberi dalam keterbatasan dan ketulusan” itu diteladankan oleh “janda”: Baik janda di Sarfat , atau Janda yang menjadi bacaan dalam injil kita hari ini. Markus 12:43-44 “….sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya”

Dua janda dalam dua masa yang berbeda, tapi mereka memiliki kesamaan: sama-sama miskin, sama-sama hidup susah, sama-sama kekurangan, tapi keduanya sama-sama memiliki “kemurahan hati”.

  • Menjadi pribadi yang ramah (hospitalitas)
    Waspadalah Masa kering-krisis “paceklik” seringkali membuat kita menjadi pribadi yang tidak ramah!!
  • Hidup ini bukan soal aku, kamu, tapi mereka.
  • Jangan takut “memberi dan berbagi” di tengah kekurangan, sebab Allah tidak tutup mata. Dia adalah Allah yang tidak pernah berhenti memelihara, menyediakan dan mencukupkan kebutuhan kita, kuncinya adalah taat dan percaya dan andalkan Dia …. Providentia Dei!! (RIW)