PERGILAH DAN BERITAKANLAH: KERAJAAN SORGA SUDAH DEKAT

Bacaan:

 

Tanggal 13/14 Juni 2020

Bagaimana saudara merespon tema tersebut? Tema tersebut diambil dari pasal 10:7, yang merupakan bentuk imperatif (perintah) untuk melakukan sebagaimana yang Tuhan Yesus lakukan. Satu aktifitas Yesus yang erat kaitannya dengan pergi dan memberitakan adalah berkeliling, yang oleh Matius 9:35 disaksikan “ke semua kota dan desa”. Berkeliling ini lebih dari sekadar aktifitas seperti inspeksi mendadak, tetapi memiliki makna yang terkait erat dengan kehadiran sepenuh hati, jiwa dan raga, dan karena itu kita bisa paham kata Periago juga berarti “sambil meraba-raba”.

Salah satu pertanyaan dari sudut pandang misi ialah: kemana kita harus pergi dan membawa berita? Mungkin kita teringat penggalan bait 1 lagu Kidung Jemaat No. 426: ” Kita harus membawa berita pada dunia dalam gelap”. Lagu yang diterjemahkan dari judul asli “We’ve a Story to Tell to the Nation” ini memang diinspirasi oleh Matius 5 dan 28, tetapi rasanya sudah terlalu jauh maknanya terutama mempertimbangkan konteks kita saat ini dan juga teks yang menjadi fokus kita. Mari kita perhatikan bacaan kita di pasal 9:36 dikatakan orang-orang yang ditemui Yesus saat berkeliling itu “lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala”. Selanjutnya pada bacaan kita di pasal 10:6, perintah Yesus spesifik: “pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”. Mari kita mulai memahami ini dengan sederhana: sebagaimana terhadap para murid, Yesus memerintahkan kita untuk berkeliling dan memberitakan Kerajaan Sorga kepada orang-orang terdekat kita. Berapa banyak kita menunjuk pada wilayah kehidupan yang jauh di luar, tetapi mengabaikan lingkungan kita sendiri?

Selain respon terkait dari sudut pandang misi, muncul pula pertanyaan etimologis (asal- usul kata): Apa perbedaan Kerajaan Sorga dan Kerajaan Allah? Mana yang akan kita pakai? Secara ringkas, berikut ini jawabannya. Istilah “Kerajaan Sorga” ini khas Injil Matius, tetapi sama maknanya dengan “Kerajaan Allah” dalam Injil-injil lainnya. Sorga merujuk pada Allah sebagai satu-satunya yang memerintah di bumi maupun di sorga. Matius dalam penghormatannya pada Allah tidak berani menuliskan “Kerajaan Allah” dan memilih kata “Sorga”. Ini tentunya menjadi teguran bagi siapapun yang dengan mudah mengaitkan hal-hal duniawi dengan hal-hal Sorgawi. Bagi Matius, Kerajaan Sorga tetaplah sebuah misteri dan apa yang bisa kita amati dan beritakan ialah tandanya, dan karena itu kita yang membacanya pada masa kini perlu dengan sadar membatasi diri untuk tidak terpaku pada tanda-tanda itu.

Frasa “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat” pada Matius 10:7 secara umum dipahami sebagai: ada sesuatu yang dari jauh sedang dalam perjalanan mendekat ke tempat kita. Pada pasal 3:2, Yohanes Pembaptis memberitakan “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” dan di pasal 4:17, Yesus sendiri menberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”. Pertanyaannya: mengapa sebelum dan sesudah Yesus hadir Kerajaan Sorga yang diberitakan “sudah dekat” itu masih tetap sama statusnya: diberitakan, dan kini menjadi tugas para murid? Sederhananya kapan yang sudah dekat itu tiba? Di sinilah kita perlu menyadari bahwa Kerajaan Sorga bukan pertama-tama bicara soal ruang atau kata benda melainkan soal kata sifat. Sederhananya: sifat-sifat Kerajaan Sorga yang kita temui dan dapat didiagnosis melalui tanda-tandanya adalah bukti bahwa Kerajaan Sorga itu sendiri sudah ada. Kata “sudah dekat” dalam hal ini dipahami bukan sebagai suatu benda dengan aktifitas bergerak mendekat melainkan pernyataan bahwa hal tersebut sudah benar-benar ada di sekitar kita tapi kita tidak menyadarinya! Bayangkan pasangan anda yang kebingungan mencari-cari sesuatu, lalu anda bertanya: apa yang dicari? Jawabnya: kacamataku, tadi aku taruh di mana ya? Anda yang dari tadi melihat kacamata itu di kepalanya berkata: itu lho, dari tadi nangkring di ubun-ubun. Pasangan anda pasti terkejut. Begitu juga dengan orang-orang yang mendengar Yohanes Pembaptis dan para murid yang menunjukkan bahwa Kerajaan Sorga yang dinanti nantikan bahkan dicari itu sudah ada di sekitar mereka.

Kabar baik dari teks Matius ini adalah: jika memang Kerajaan Sorga itu sudah dekat (ada di sekitar kita), maka kita tidak akan lagi bingung dengan cara memberitakannya! Dua hal yang dapat kita lakukan, yaitu:

  1. Menunjuk pada tanda-tanda Kerajaan Sorga. Tanda-tanda Kerajaan Sorga ada dalam diri Yesus sendiri sebagai Mesias (yang diurapi) yang tercermin melalui cara hidup dan pengajaran-Nya. Kiranya sudah jelas bahwa apa yang kita beritakan tentang Yesus dan yang kita hidupi dari pengajaran dan keteladanan-Nya terkait erat dengan seberapa dalam kita mengenal-Nya. Seorang pemberita pertama-tama dipanggil sebagai seorang murid.

  2. Menghadirkan nilai-nilai esensi dari mukjizat dalam keseharian. Mukjizat adalah tanda Kerajaan Sorga dan karena itu tidak pernah berdiri sendiri. Esensi dari mukjizat ialah Allah yang sejak zaman nubuatan menjanjikan keselamatan sudah ada dan terus bekerja di antara umat gembalaan-Nya. Kita perlu menyadari kenyataan di sekitar kita, bahwa ada yang sibuk menggambarkan sedemikian rupa keadaan Sorga dimasa yang akan datang, ada juga yang memprediksi kapan akan tiba masanya, dan ada pula yang sibuk mengkampanyekan mukjizat sehingga mereka yang menerimanya menjadikan hal itu sebagai tujuan. Kelompok pemahaman yang pertama lupa bahwa Yesus itu sendiri adalah penggambaran paripurna akan nilai nilai Kerajaan Sorga dan Ia sendiri tidak pernah menggambarkan detail seperti apa bentuk Kerajaan Sorga itu. Kelompok kedua lupa bahwa Yesus sendiri menekankan kewaspadaan dan bertahan hingga kesusahannya bukan pada berbagai berita yang justru menggelisahkan. Kelompok ketiga itu lupa bahwa tanda tidak berdiri untuk dirinya sendiri melainkan menyatakan sesuatu, gejala, bukti, pengenal, lambang. Gejala boleh sama tapi perlu pemeriksaan lebih dalam untuk memastikan itu apa. Antara Covid-19 dan Demam Berdarah Dengue, misalnya, terdapat gejala yang sama dan karena itu muncul berita berjudul “COVID-19 Bisa Mirip DBD, Awas Salah Diagnosis” yang dikeluarkan oleh Asumsi.Co, 18 Maret 2020. Diagnosis yang tepat akan sangat menolong membedakan dan karena itu kita harus tegas dalam pemberitaan kita bahwa tolok ukur iman kita adalah Yesus Kristus itu sendiri.

Amin. (RBK)