PENGIKUT SEJATI: BERANI BAYAR HARGA

Bacaan:

 

Tanggal 27/28 April 2021

Antara harapan dan realitas seringkali tidak berjalan seiring.

Hari ini kita membaca Petrus, seorang murid Yesus, yang gusar karena harapannya mengikut Yesus terlihat akan kandas. Petrus terkejut karena Yesus mengatakan akan mengalami penderitaan dan mati. Agaknya Petrus tidak memerhatikan ada kata “bangkit sesudah tiga hari.” Petrus mungkin berharap melalui kepemimpinan Yesus, tanah airnya dapat merdeka dari penjajahan Romawi.

Karena itu Petrus menegur Yesus. Namun Yesus malah menyebut Petrus sebagai Iblis atau penggoda. Penggoda adalah sesuatu yang mengganggu atau mengusik. Artinya tujuan Yesus tengah diganggu atau diusik. Bagi Yesus tindakan Petrus menunjukkan bahwa Petrus “… bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Yang dipikirkan manusia dalam mengikut Yesus seringkali hal-hal yang menyenangkan dirinya sendiri, atau sesuai dengan harapan dirinya. Padahal Yesus mengatakan mengikuti Dia berarti harus memikul salib. Dengan kata lain, siapa yang mau menjadi pengikut Yesus ia harus menderita. Sama seperti Yesus yang menderita. Ada harga yang harus dibayar untuk mengikut Yesus.

Apa salib yang harus dipikul para pengikut Yesus? Banyak sekali! Salah satunya terkait identitas. Ayat 38 mengatakan, “Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.”

Kita tahu saat itu menyandang identitas sebagai pengikut Yesus tidaklah mudah. Orang kristen, pengikut Kristus, pada masa itu menjadi kelompok minoritas yang tertindas oleh penguasa Roma dan sesama bangsa kelompok mayoritas yang beragama Yahudi. Penderitaan yang harus diterima orang kristen kerap membuat mereka tidak tahan dan menyangkal imannya.

Pengalaman tertindas karena identitas pengikut Kristus terus terjadi dalam berbagai cara. Memang untuk menjadi pengikut Kristus ada harga yang harus kita bayar. Apakah harga yang harus kita bayar murah? Tidak. Dietrich Bonhoeffer pernah mengatakan,”Kristus memberi anugerah kepada kita, bukan anugerah yang murah melainkan anugerah yang mahal. Anugerah yang murah adalah anugerah tanpa harus menderita dalam mengikuti Yesus. Sebaliknya, anugerah yang mahal menuntut pengorbanan dari kita dalam mengikut Tuhan. Itu mahal, sebab kita harus mengikut dan membayarnya dengan hidup kita sendiri.”

Lalu apa yang perlu kita lakukan dan lanjutkan dalam mengikut Kristus di masa kini? Di tengah situasi pandemi ini, pengajaran Yesus tentang cinta kasih menjadi sangat penting. Mengikut Yesus dimasa kini adalah terlibat dalam kehidupan bersama di bumi ini. Keterlibatan yang bukan hanya ditujukan kepada orang kristen saja. Eka Darmaputera pernah mengatakan, something which is good only for Christians in un-Christian. Sesuatu yang baik hanya untuk orang kristen justru bukanlah sikap seorang kristen. Itu berarti identitas kita bukan identitas sempit, dikitari tembok tinggi dan tebal. Identitas kita sebagai pengikut Yesus adalah identitas yang justru membuka diri, menjalin persahabatan pada semua. Hadir menemani derita dan air mata sesama kita. Menopang dan meneguhkan mereka yang kehilangan pengharapan.

Mudahkah? Tentu saja tidak. Tetapi itulah salib yang harus kita pikul dalam mengikut-Nya. Namun, kita percaya, Kristus yang telah terlebih dahulu memikul salib untuk menebus kita akan memberikan kekuatan dan sukacita bagi mereka yang setia mengikut Dia. Amin. (ASP)