PENGAMPUNAN MEMULIHKAN SEMUA

Bacaan:

 
 

Tanggal 12/13 September 2020

Di awal perumpamaan Yesus (Matius 18:21-33), ada seorang yang sangat beruntung, mendapatkan mega-anugerah (“rejeki teramat besar”), karena hutangnya yang begitu banyak (10.000 talenta, “diperkirakan” = 10.000 talenta x 6000 dinar / talenta x Rp. 100.000.- / dinar = 6 trilyun rupiah), tiba-tiba saja diampuni begitu saja oleh Raja yang Maha-Baik dan Maha-Kaya itu. Andai saja ia bisa mensyukuri mega-anugerah pengampunan yang sudah ia terima itu, seharusnya ia menikmati hidup bahagianya……

Sayangnya, begitu ia bertemu orang lain yang berutang padanya 100 dinar (“perkiraan” = 100 dinar x Rp. 100.000 / dinar = Rp. 10.000.000,-), ia bersikap sangat arogan, ia menangkap orang itu, mencekiknya, bahkan menjebloskannya ke dalam penjara! Raja yang Maha baik itupun marah sekali mendengar laporan / keluhan tentang sikap orang yang sangat arogan itu, dan Raja itu marah: “Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah ku hapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? (Matius 18:22-23). Raja itu marah, sebab seharusnya orang itu bersyukur dan berubah jadi seorang pengampun juga, tetapi nyatanya orang tersebut tetap saja jahat & arogan!

“Orang yang seharusnya beruntung” kini tidak jadi beruntung, bahkan ia dihukum amat berat oleh Raja itu (34)…… yach nyesel dech, nggakk jadi beruntung, gara-gara gagal menghayati mega-anugerah, gagal bersyukur dengan sikap yang benar / semestinya……

Bukankah kita semua juga orang-orang yang “seharusnya beruntung” sekali, karena kita juga telah mendapatkan mega-anugerah keselamatan, mega-pengampunan dosa, mega- berkat dan pemeliharaan Bapa,…Bahkan kita dikarunia-Nya dengan keluarga (pasangan hidup, anak-anak, orangtua) yang seharusnya membuat kita makin merasa benar-benar beruntung, atas berkat-berkat Tuhan ini…tetapi ironisnya banyak diantara kita “nggakk jadi beruntung”!, “gagal bahagia”, gagal menikmati kehidupan yang bahagia dan menjadi berkat, seringkali akibat sikap kita yang “arogan”, tidak berubah, atau gagal menghayati mega-kasih Allah dengan cara syukur yang benar / semestinya!

Menyedihkan, ketika mendengar beberapa keluarga pendeta “terkenal” (terkenal dengan khotbahnya yang hebat bersemangat dan jumlah jemaatnya yang begitu banyak), yang mestinya hidupnya bahagia dan menjadi teladan bagi masyarakat luas, ternyata rumah tangganya justru tidak harmonis, anak-anak / keluarganya tidak menjadi teladan baik, sungguh ini sangat ironis sekali. Pengkhotbah yang hebat, tetapi gagal menikmati kasih Allah, gagal mewujudkan surga dalam keluarganya sendiri… “yach, nggakk jadi beruntung dech”?!

Bagaimana cara mensyukuri “mega-pengampunan dan kasih Allah” dengan benar?

  1. Dengan mengasihi sesama, sebagaimana kita juga telah dikasihani oleh Tuhan (33-35), dengan memberikan pengampunan tanpa batas “70×7 kali”, sebab Tuhan juga sudah mengasihi dan mengampuni kesalahan kita tanpa batas! Dengan mengampuni, kita memulihkan hubungan kita dengan sesama, pengampunan juga dapat “mengobati luka hati “ dan dapat memulihkan hubungan kita dengan pasangan / keluarga / sesama kita.
  2. Dengan terus hidup di dalam Tuhan, terus memberlakukan firman-Nya. Perubahan nyata dalam hidup kita, adalah jika kita berusaha sekuat tenaga untuk menjadi Pelaku Firman. Dan terus menjaga iman kita, sebab ada beberapa orang Kristen yang kemudian “meninggalkan imannya pada Yesus” , “yach, nggakk jadi beruntung dech”?!
  3. Dengan terus mengendalikan diri kita (penguasaan diri), agar sikap kita, mulut kita, hidup kita tidak “lepas kendali” sehingga menyakiti sesama atau bahkan tanpa kita sadari sudah bersikap “arogan” pada orang lain.
  4. Mewujudkan rasa syukur melalui kasih dan karya yang nyata pada sesama & dunia.

Selama masih ada kesempatan, hayatilah dan syukurilah “keberuntungan yang sudah kita terima karena Kristus”, dan wujudkan rasa syukur itu dengan sikap hidup yang benar dan bijak. Dan selamat menikmati kebahagiaan yang sudah Tuhan berikan. Amin. (PL)