Merangkul Cinta, Mengingat Anugerah-Nya

Bacaan:

Tanggal 26/27 Maret 2022

Dalam ajaran keagamaan dan ajaran moral pada umumnya kita biasa diajarkan untuk tetap merangkul dan memaafkan orang yang bersalah, sebab dikatakan “orang hebat punya masa lalu”, “orang gagal punya masa depan”. Tapi pada kenyataannya kita melihat bahwa penghakiman di tempat sering terjadi pada orang yang bersalah dan berdosa. Seorang yang kedapatan berbuat jahat kerap dihakimi di tempat maupun di dunia maya alih-alih diserahkan pada pihak berwajib dan diberi penyuluhan. Dalam kecenderungan sikap gemar menghakimi dan “menyingkirkan” orang berdosa di sekitar kita, apa yang harus kita lakukan?

Bacaan alkitab hari ini (Lukas 15:1-3, 11b-32) setidaknya memberi beberapa pencerahan sebagai berikut :

  1. Kita belajar cinta dan anugerah Allah melalui kisah metaforis seorang ayah yang memiliki 2 orang anak. Sang bungsu mewakili orang berdosa yang meminta dan menjual harta warisan sang ayah, pergi berfoya-foya ke negri asing hingga melarat. Begitu melaratnya ia hingga untuk sekadar menyambung hidup dengan makan ampas makanan babi saja ia tak sanggup. Maka ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya untuk menjadi seorang hamba dari ayahnya. Ketika sang bungsu terlihat dari kejauhan, di luar dugaan sang ayah berlari menjemputnya, merangkul, menciumnya, memberikan jubah terbaik (tanda kehormatan), cincin (tanda kedudukan dan kuasa yang diberikan), dan sepatu (tanda seorang merdeka, bukan budak) lalu menggelar pesta syukur atas kembalinya sang anak. Alih-alih memutuskan relasi dengan anak yang meninggalkannya, rupanya kasih sang ayah tidak pernah luntur, ia mengubur masa lampau yang menyakitkan dan melupakan segala keburukkan si bungsu. 
    Seperti kasih ayah kepada si bungsu, seperti itu pula kasih Allah kepada kita. Dalam keberdosaan kita, Ia adalah Bapa kita yang selalu menanti dan memberi anugerah pengampunan dosa bagi kita anak-anak-Nya. Maka belajar dari cinta dan anugerah Allah ini, maukah kita juga senantiasa memaafkan orang yang berdosa dan bersalah kepada kita?
  2. Kita belajar dari sikap si bungsu yang mau menyadari akan kesalahannya, bertobat dan kembali kepada hidup yang benar. Mengapa ia berani melakukannya? Sangat dimungkinkan karena Ia percaya akan cinta dan belas kasih ayahnya. Dalam kehidupan kita, banyak orang tahu bahwa Tuhan adalah Allah yang Mahamurah dan Maha pengampun. Sayang, banyak orang lebih yakin pada perasaan terlalu berdosa, terlalu kotor untuk diampuni dan diterima kembali dalam relasi yang baik dengan Allah. Akibatnya, alih-alih datang kepada-Nya malah punya pendirian: “ah tanggung, sudah kepalang basah!” Dari keteladanan sikap si bungsu ini kita belajar bahwa ketika kita berdosa, jangan berkecil hati, jangan malu ataupun gengsi untuk datang pada Tuhan. Percayalah cinta Allah melampaui segala dosa dan perasaan berdosa kita.
  3. Kita belajar bahwa “anak hilang” yang dimaksudkan dalam kisah ini bukan hanya si bungsu, tapi juga si sulung! Cinta dan nuraninya terhilang di tempat tinggal sang ayah. Ketika sang adik datang, ia tidak menyambut gembira, tetapi sibuk menghakimi sang adik menolak dari keluarga sang ayah. Ia lebih senang membenarkan dirinya dan menjatuhkan orang yang bersalah. Akibatnya meski ia nampak hidup dekat bersama sang ayah, namun ia tidak pernah merasakan kedamaian dan sukacita. Hubungan dengan sang ayah hanya didasarkan pada kewajiban-kewajiban, bukan pelayanan yang dilakukan dengan kasih. Sikap si sulung ini mengingatkan kita sebagai anak-anak Tuhan kita diundang untuk melakukan segala sesuatu oleh karena kita mengasihi Allah.

Jika Allah, Bapa kita sedemikian rupa memulihkan kita sebagai anak-anak-Nya, maka sudah semestinya kita berhenti untuk menghakimi diri sendiri sebagai orang yang berdosa, apalagi berprinsif, “sudah kepalang basah”. Kembalilah kepada Bapa, maka kita akan mengerti, mengalami, dan kagum akan kasih yang luar biasa itu. Berikutnya, ketika kita menemui orang yang dihakimi, dikucilkan, dianiaya karena kesalahan dan dosanya, sudah selayaknya kita menjadi agen perubahan untuk tetap mengasihi, menolong, menjadikan orang-orang yang bersalah dan berdosa tersebut menjadi teman dan sahabat kita. Selamat meneladani cinta dan anugerah Tuhan bagi kita. Ia mengasihi dan mengampuni kita sebelum kita bertobat dan memohon pengampunan-Nya. (GPP)