MENYEMBAH TUHAN DALAM ROH DAN KEBENARAN

Bacaan:

 
 

23/24 Januari 2021

Dalam cerita perempuan Samaria, sebelum perjumpaannya dengan Yesus, ia merasakan kekosongan dalam hidupnya. Kekosongan yang membuat dia belum (atau tidak) menemukan kepuasan dalam hidupnya. Tetapi setelah ia membuka dirinya di hadapan Yesus, mengaku tentang siapa dirinya yang sebenarnya, maka Yesus membimbing dia untuk mau menerima Air Hidup yang ditawarkan oleh Yesus. Inilah yang kemudian mengisi kekosongan hidupnya dengan kasih yang sejati, yaitu kasih Allah. Setelah dia menerima dan merasakan kasih Allah inilah yang kemudian mendorongnya untuk menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya. Dan untuk menjawab kerinduannya itulah, Tuhan Yesus mengatakan, saatnya akan tiba bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.

Tempat Kebaktian Dimana ?
Bagi orang Yahudi adalah di Yerusalem, bagi orang Samaria adalah di Gunung Gerizim. Yohanes 4:21 Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Sudah sekitar 11 bulan pada umumnya Ibadah Onsite ditiadakan, karena pandemic virus covid 19, gedung gereja tutup, bukan berarti orang Kristen berhenti beribadah. Kita menemukan model ibadah baru, adaptasi baru yang tidak terkungkung oleh batasan tempat atau lokasi gedung gereja, yaitu dalam ibadah online.

Ibadah online-nya seperti apa? 

 
  • MENYEMBAH DALAM ROH:
    ROH:
    • Angin = tak dapat dibatasi, menghasilkan ibadah yang penuh kreatifitas, keterbukaan, variasi, pembaruan, dan fleksibilitas.
    • Nafas = yang menghidupi jiwa, tubuh, pikiran, perasaan, menghasilkan ibadah yang penuh totalitas diri.
  • MENYEMBAH DALAM KEBENARAN
    • Benar = bukan tidak salah, tapi asli, sejati, bukan imitasi atau kepuraan, bukan kepalsuan.
    • Hasil Ibadah : perbaikan moral, kepekaan terhadap orang yang lemah dan menderita. Aksi (tindakan nyata) bagi orang lain.

Menelusuri Makna Kebaktian (dari kata dasar bakti)

Dalam aksara mandarin kata bakti ditulis :

yang terdiri dari dua kata, bagian atas dibaca “lao” (artinya : orangtua), dan bagian bawah dibaca “tsu” (artinya : anak). Dalam budaya chinnese anak selalu diajarkan agar berbakti kepada orangtuanya. Jikalau kegiatan ibadah kita disebut “kebaktian” maka itu berarti kita terpanggil menunjukkan sikap bakti kita kepada Tuhan sebagai :

  • Wujud syukur atas pemeliharaan-Nya
  • Ibadah yang dilaksanakan dengan sukacita
  • Sikap berterimakasih karena ingin membalas dengan yang terbaik.

Ibadah Online Di rumah, Khusyuknya Tak Boleh Kalah

Berikan yang terbaik untuk menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran. Berikan nilai tambah yang kreatif dan special, seperti halnya kisah penutup kotbah tentang masa kecil Michael Jordan pemain basket di Amerika. Bisa menjual baju bekas untuk membantu orangtuanya seharga 2 USD, 20 USD, 1.500 USD dengan cara menambahkan lukisan, bahkan tanda tangan seorang aktris terkenal pada baju bekas tersebut. Demikian pula kita terpanggil untuk memberikan “nilai tambah” pada setiap ibadah yang kita lakukan, sebagaimana syair lagu “Deeper in Love”:

One thing have I desired in my life, Lord
To thirst and hunger after You alone
With all my heart and soul, with all my strength and love
To worship as Your glory fill this place
Deeper in love with You, Deeper in love with You
I love You more than anything in life
Deeper in love with You, Deeper in love with You
Oh.. how I love You Lord

Satu hal yang kurindukan ya Tuhan
Selalu berada di dekat-Mu
Dengan segenap hati, dengan segenap jiwa
‘Ku menanti di hadirat-Mu
Lebih dalam lagi kurindu Kau Tuhan, lebih dari segala yang ada
Lebih dalam lagi kucinta Kau Yesus, ‘ku mengasihi-Mu

(Pdt. Stephanus Liem)