Mengucap Syukur: Tanda Pribadi yang Sehat!

Bacaan:

Tanggal 11/12 Juni 2022

Hari ini kita merayakan tradisi Pentakosta Perjanjian Lama, atau yang biasa kita sebut sebagai hari raya menuai hasil panen (di hari ke limapuluh/tujuh minggu sejak hari Paskah), yang dalam bahasa jawa sering disebut sebagai hari unduh-unduh (ngunduh : memanen/memetik).  Tradisi ini berangkat dari kebiasaan umat Tuhan di alkitab yang akan datang membawa segala hasil bumi yang terbaik untuk dipersembahkan pada Tuhan. Peringatan ini kembali memotivasi kita untuk memberi persembahan kepada Tuhan. Pertanyaannya, bagaimana motif yang tepat memberi persembahan kepada Tuhan? Sebagai ucapan syukur? Sebagai sebuah harapan agar terus diberkati? Berapa besaran yang tepat dalam memberi persembahan? Apakah persepuluhan merupakan kewajiban dan hal mutlatk?

Mari kita mulai melihat dari persembahan persepuluhan yang kerap membuat kita bertanya-tanya. Pertama, pada awalnya persembahan persepuluhan merupakan ‘kompensasi’ kepada orang-orang Lewi yang mengabdikan diri mengelola dan melayankan peribadahan di bait suci. Tidak seperti kaum keturunan Yakub (Israel) lainnya, orang Lewi tidak mendapatkan tanah pusaka dan tidak boleh mengerjakan pekerjaan lain selain pelayanan bait suci. Oleh karena itulah persembahan persepuluhan awalnya bersifat wajib untuk untuk menunjang kehidupan para pelayan Tuhan (Bil. 18:21-24, Ul 14:22-23). Dalam perkembangannya, persembahan persepuluhan tidak hanya dipakai untuk menghidupi pelayan Tuhan saja, tetapi untuk menghidupi orang asing, anak yatim dan janda (Ul 14:28-29). Semangat inilah yang kemudian hadir dalam gereja saat ini. Bahwa persembahan (persepuluhan dan persembahan lain) di gereja GKI tidak diberikan langsung kepada pengerja atau pendeta. Melainkan dikelola untuk membiayai pelayanan Tuhan (menurut tri tugas gereja : KESAKSIAN [peribadahan, operasional gereja juga biaya kebutuhan hidup pengerja & karyawan], PERSEKUTUAN, dan PELAYANAN/DIAKONIA kepada orang yang membutuhkan).

Yang paling penting landasan persembahan kita adalah sebagai ungkapan syukur (Ul 12:6-7 : “karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu). Jadi persembahan diberikan bukan untuk meminta berkat Tuhan, tetapi justru sebagai ungkapan syukur atas segala berkat Tuhan.

Dari uraian di atas, menjadi jelas bahwa makna persembahan (persepuluhan dan atau persembahan lainnya) adalah :

  1. Ungkapan syukur kita atas segala berkat pemeliharan Tuhan
  2. Bentuk tanggung jawab kita sebagai umat-Nya untuk membiayai tugas pelayanan.
  3. Bentuk tanggung jawab kita baik bagi para pelayan Tuhan, maupun mereka yang membutuhkannya (orang asing, janda, anak yatim).

Dalam memberi persembahan kepada Tuhan, kita perlu memahami bahwa yang menjadi milik Tuhan tentu bukan hanya sepersepuluh atau nominal sekian yang kita persembahkan pada Tuhan. Yang menjadi milik Tuhan adalah semua yang kita punya, karena semua berasal dari Tuhan. Karena itu tugas kita adalah MENGELOLA atau MENATALAYANI berkat yang Tuhan berikan pada kita. Dalam hal menatalayani ini, tentu kita boleh membagi : sebagian untuk hidup, sebagian untuk biaya sekolah, sebagian untuk keluarga, sebagian kita persembahkan kembali kepada Tuhan. Berdasarkan prinsip penatalayanan, yang wajib adalah persembahannya (semangat bersyukur, mendukung pelayanan Tuhan dan menghidupi sesama), bukan nominal sekian / sepersekiannya. Untuk memudahkan kita, dalam hal persembahan (persepuluhan dan lainnya) ada 3 opsi yang bisa kita pilih :

  1. Memberi persepuluhan saja (nominalnya tidak harus tepat sepersepuluh dari penerimaan kita, boleh lebih boleh juga kurang, kembali pada diri kita masing-masing)
  2. Menyebar persepuluhan dalam bentuk persembahan yang lain
  3. Memberi persepuluhan bersama persembahan-persembahan yang lain.

Sikap apa yang paling penting untuk mendasari persembahan kita? Bacaan alkitab hari ini, 1 Tes 5:16-18 meneguhkan kita : “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Kita memberi dengan sukacita dan syukur, dengan mendoakan agar persembahan tersebut dapat dikelola untuk pertumbuhan pelayanan, digunakan untuk mencukupi kebutuhan mereka yang berkekurangan. Yang penting bukan seperberapa bagian dari kepunyaan kita yang kita beri, tetapi sudahkah kita memberi dengan sukacita dan syukur, mendoakannya agar dipergunakan untuk pekerjaan Tuhan dan sesama, menatalayani berkat Tuhan lainnya dengan baik dan bertanggungjawab.