Skip to content

MEMAKNAI SABTU SUNYI DALAM TERANG KEBANGKITAN KRISTUS

(Sebuah refleksi oleh Esaol Agustriawan)

Dalam tradisi Gereja, pada seminggu terakhir sebelum hari Paskah biasanya disebut dengan Pekan Suci, dimana umat Kristen diajak untuk menghayati kesengsaraan dan penderitaan Kristus. Dimulai dengan Minggu Palma dimana umat diajak mengenang saat Yesus masuk ke Yerusalem dengan dielu-elukan dengan sorakan “Hosana” dan lambaian daun palma/palem, namun di sisi yang lain, disanalah awal kesengsaraan Yesus dimulai. Kemudian dilanjutkan dengan perayaan Kamis Putih untuk memperingati Perjamuan Terakhir. Pada ibadah Kamis Putih biasanya dilakukan tindakan pembasuhan kaki sebagai simbol panggilan untuk merendahkan hati dan saling melayani. Sehari setelah itu, pada Jumat Agung, umat diundang untuk memperingati puncak kesengsaraan Yesus yang mati di atas kayu salib. Kematian yang hina, namun sekaligus berharga, karena Yesus mati untuk menebus manusia dari dosa.

Diantara Jumat Agung dan Paskah, ada semacam masa transisi yang disebut dengan Sabtu Sunyi. Pada ibadah Sabtu Sunyi, umat diajak untuk masuk dalam ingatan akan Yesus yang dikuburkan sambil menantikan kebangkitan Yesus Kristus. Secara liturgis, sebenarnya Sabtu Sunyi merupakan ibadah tanpa liturgi. Alurnya lebih mengalir dengan melakukan perenungan bersifat meditatif. Seperti upacara perkabungan, dimana orangorang datang mengelilingi jenazah sambil menghadirkan kenangan akan kehidupan yang meninggal. Pdt. Yohanes Bambang Mulyono dalam artikelnya tentang Sabtu Sunyi menyatakan bahwa dalam perayaan Sabtu Sunyi, dimensi kedukaan dan harapan dilabuhkan dalam sikap iman. Jadi, ibaratnya umat diajak untuk merenungkan kefanaan manusia di depan jenazah Yesus yang berada di dalam kubur. Duduk di sekitar kubur Yesus berarti menyadari bahwa kita ini memang terbatas, rapuh, ringkih dan hidup itu sendiri memang fana, namun Allah dalam diri Yesus Kristus mau ikut ambil bagian dalam kerapuhan manusia. Kerapuhan dan ketidakberdayaan Yesus di dalam alam kubur ini merupakan bukti solidaritas Allah. Allah yang mau solider dan ikut merasakan kerapuhan manusia. Di dalam kubur yang gelap, terhisaplah semua penderitaan dan kerapuhan dunia di dalam diri Yesus.

Namun berita Paskah tidak berhenti pada kerapuhan belaka. Merayakan Sabtu Sunyi tidak bisa dilepaskan pada pengharapan akan kebangkitan. Melalui kebangkitan Yesus, kerapuhan ini ditransformasikan menjadi kekuatan kehidupan dan daya juang bagi pembaruan hidup. Oleh karena itu, Sabtu Sunyi juga sering disebut sebagai “Sabat Kedua”, dimana setelah Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya selama enam hari, pada hari ke tujuh Allah berhenti dan menguduskannya. Demikian pula pada Sabtu Sunyi, karya keselamatan Allah menjadi sempurna di dalam kematian Kristus. Pada “Sabat Kedua”, jenazah Yesus diam terkubur di perut bumi, namun tidak selamanya Yesus diam di dalam kubur. Masuk dalam alam kubur menjadi semacam “retreat” atau perhentian sementara untuk akhirnya melahirkan kehidupan baru pada kebangkitan Yesus dihari Paskah.

Ketika menghayati Sabtu Sunyi dalam terang Paskah, umat diajak untuk memasuki “lembah kekelaman” baik diri sendiri maupun dunia. Kemudian merubah dan mentransformasikan “kekelaman” itu menjadi nilai-nilai Kerajaan Allah. Setiap umat Kristen dipanggil untuk melawan kekuatan kematian dan meninggalkannya dalam “alam kubur” sifat / perilaku buruk: ketamakan, arogansi dan penaklukan. Untuk selanjutnya ikut dibangkitkan bersama Kristus dengan mengembangkan sifat / perilaku yang berpihak pada kehidupan: belarasa, rendah hati, semangat egaliter serta kehidupan berbagi. Sebagaimana Kristus telah mengosongkan diri-Nya, taat sampai mati dan masuk dalam alam kubur. Maka kita diundang untuk meneladani Yesus dengan menegakkan nilai-nilai Kerajaan Allah: Damai sejahtera yang berdampak pada kehidupan. (EA)
dan