Let’s Rejoice & Sing : The Lord will Visit Soon

Bacaan:

Tanggal 4/5 Desember 2021

Seruan ajakan pertobatan dari Yohanes Pembaptis ini, juga bagi kita yang hari ini ingin membangun kehidupan (dan keluarga) yang damai, sukacita, menyenangkan, bahagia, hidup berarti dan menjadi berkat bagi sesama/dunia! Namun, bukankah seringkali kehidupan kita justru terasa “sesak, sulit, merasa tidak bahagia atau bahkan berbeban berat”? Lalu apa yang harus dilakukan, percayalah pada Allah yang melawat! Kapan sebenarnya Allah melawat kita? Kita percaya akan janji Kristus ini: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20), Kristus yang senantiasa melawat kita, jadi lawatan Allah sebenarnya “sudah terjadi”, “sedang”, “selalu”, “akan” melawat kita! Dan Kristus juga akan melawat kembali melalui “rencana kedatangan-Nya kembali”… sambutlah Dia!

Jika Allah melawat kita, apa yang akan terjadi? Lukas 3:1-6 mengingatkan yang harus dilakukan dalam menyambut lawatan Allah, yaitu Pertobatan yang sungguh-sungguh (ay. 8), orang yang demikian akan melihat keselamatan dari Allah yang melawat (ay. 6). Namun sebaliknya, bagi orang yang hidup bagaikan “Ular Beludak” (ay. 7), maka lawatan Allah itu berarti juga datangnya Murka hukuman Allah yang begitu “mengerikan”! (ay. 7-9). Segera stop perilaku seperti “ular beludak” di padang gurun, yang sering menggigit mangsanya dengan bisanya yang beracun dan mematikan, dan pandai “kamuflase” (licik) dengan meniru carang di pohon, tahu-tahu ia akan mematuk dengan bisanya yang beracun. Sifat buruk, suka mencelakai orang, sfat licik pandai menipu orang, dll sifat jahat (dosa) digambarkan sebagai perilaku ular beludak yang akan dihukum saat Allah melawat!

Bagaimana wujud Pertobatan yang sungguh2, sebagai wujud/usaha nyata/serius dalam membangun “Jalan di padang gurun” untuk menyambut Lawatan Allah?! yaitu dengan menghasilkan “buah-buah pertobatan” (ay.8), yaitu bukti-bukti usaha serius diri untuk:

  1. ay. 4-6: Memperbaiki Diri/memperbaiki hati/pikiran/pribadi
    – meluruskan sifat-sifat/watak/perilaku yang “belat-belit/lika-liku”
    – meratakan = menghancurkan kesombongan/keangkuhan diri
    – meratakan “lembah-lembah” pikiran negatif, sakit hati, minder, malas,..
  2. ay. 10-11: Dengan selalu berbuat baik / murah hati pada sesama
    – dengan menjadi “jawaban” bagi pergumulan sesama yang membutuhkan
  3. ay. 12-13: Bekerja dengan Benar, Baik, Jujur dan tidak berlaku curang
  4. ay. 14: Jangan Jahat, dan melakukan kekerasan pada sesama
    – Jangan merampas, memeras, atau berperilaku seperti “preman” yang semau gue mau enaknya sendiri, dan tidak peduli orang lain
  5. ay 14: Membangun gaya hidup sederhana, dengan mencukupkan diri terhadap berkat Tuhan yang diterima, atau dengan mensyukuri berkat dan kasih Tuhan
    – Kesederhanaan gaya hidup membuat “tidak membebani diri sendiri”

Mari kita buktikan kesungguhan pertobatan, dengan bukti-bukti nyata pertobatan, (“buah-buah pertobatan”), sehingga kita menikmati lawatan Tuhan yang membawa keselamatan. Mari mulai langkah pertama yaitu “pertobatan yang sungguh-sungguh”. Tuhan memberkati. (PL)