Let’s Rejoice & Sing: Hoping Anxiously

Bacaan:

 

Tanggal 27/28 November 2021

Nampak begitu cocok antara kejadian hari-hari ini tentang gempa bumi, tsunami, pandemi, kelaparan, peperangan dengan bacaan firman Tuhan hari ini (Lukas 21:25-36). Dalam ayat 25-26 dikatakan demikian : “…bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.” Rasanya akhir zaman sudah begitu dekat, sudah di depan mata.

Biasanya, ada 2 sikap yang umumnya muncul ketika seseorang melihat peristiwa akhir zaman. Pertama, Escatouphoria, berasal dari 2 kata Escathon (akhir zaman) dan Euphoria (eforia/perasaan senang berlebih). Artinya sebuah sikap yang over excited akan akhir zaman. Kelompok ini sungguh percaya bahwa akhir zaman memang sudah begitu dekat, maka tidak ada yang lebih penting dari hidup suci terpisah diri dari dunia. Ciri-ciri gerakan ini adalah mengajak para pendengarnya untuk berfokus pada Sorga semata : tekun beribadah, memberi seluruh harta milik kepada pelayanan, tetapi lalu meninggalkan tanggung jawab yang ada di dunia (kehidupan sosial, panggilan dalam pekerjaan, dsb). Sikap kedua, Escatophobia. Berasal dari 2 kata Escathon (akhir zaman) dan Phobia (ketakutan berlebih). Orang-orang yang tergolong dalam kelompok ini biasanya memandang pesimis kehidupan di dunia. Dunia ini dipandang makin hari makin mengecewakan, sehingga hari-hari terakhir harus diiisi dengan hedonisme (pesta pora, dan berbagai kenikmatan nafsu manusia). Kedua sikap ini tentu tidak selaras dengan firman Tuhan. Kita tidak boleh terlalu bersemangat sehingga hanya mementingkan ritual pribadi atau terlalu pesimis sehingga hidup dalam hedonisme dan egosentrisme. Lalu bagaimana sikap yang tepat mempersiapkan akhir zaman?

Dalam Lukas 21:28-30 Yesus berkata demikian: “Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.” Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat.” Pohon ara adalah pohon simbol berkat dan kebaikan Tuhan! Pohon Ara yang bertunas menandai berakhirnya musim dingin yang mencekam dan dimulainya musim semi, saat tumbuh-tumbuhan mulai hidup kembali. Pohon Ara sendiri merupakan pohon yang tumbuh secara alamiah di alam bebas yang mudah dijumpai oleh pejalan kaki maupun pengendara kuda dan unta di bawah panas terik matahari. Di bawah pohon Ara orang biasa singgah untuk berteduh, berlindung, bersosialisasi, berdoa, hingga merenungkan taurat Tuhan bersama! Seolah-olah, melalui perumpamaan ini Tuhan Yesus ingin menyampaikan: bahwa di tengah-tengah situasi hidup yang mencekam, di tengah-tengah tanda zaman yang menekan, itu bukanlah akhir dari segalanya! Sebab di antara tanda-tanda akhir zaman, Tuhan tetap menyediakan segala sesuatu untuk memberkati dan memelihara hidup kita. Pohon Ara menjadi sebuah simbol munculnya masa baru, masa pengharapan, masa pemeliharaan Tuhan.

Hampir 2 tahun sudah kita mengalami masa sulit karena pandemi Covid 19. Kita tidak boleh hidup dalam Escatophoria atau Escatophobia. Tetapi mari hidup dalam Escatophilia (Eschaton dan Philia: bersahabat), artinya bersahabat atau berdamai dengan tanda-tanda akhir zaman: bahwa penderitaan, bencana, kesusahan, pergumulan akan selalu dekat dengan kita. Tetapi itu semua menjadi sahabat yang mengingatkan kita agar kita menggunakan waktu di dunia ini dengan bijaksana, agar kita siap menyambut kedatangan Tuhan. Dan semakin membuat kita percaya, bahwa di tengah-tengah pergumulan dan tanda-tanda zaman, pasti selalu ada pohon ara, yaitu kasih dan pemeliharaan Tuhan yang tersedia bagi kita.

Bagaimana “pohon ara” dizaman ini kita temukan? Kita melihat bahwa angka penurunan Covid 19 di Indonesia menurun signifikan mulai bulan September lalu, dunia pekerjaan dan usaha mulai menggeliat kembali, anak-anak mulai bersekolah onsite secara bertahap, pusat perbelanjaan dan peribadahan di gereja mulai dibuka kembali, angka penerimaan vaksin Covid terus meningkat di masyarakat, kekebalan masal mulai nampak di negeri kita. Jika Tuhan menunjukkan harapan bagi bangsa kita, akankah kita juga memandang hidup kita dengan penuh harapan? Tanda-tanda akhir zaman akan terus ada. Mari berdamai dengan tanda-tanda zaman tersebut dan memandang hidup secara optimis, sebab pemeliharaan Tuhan akan selalu mengiringi langkah kita. (GPP)