Let’s Rejoice & Sing : Caring for Other’s Need

Bacaan:

Tanggal 11/12 Desember 2021

Mana yang kita lebih sukai: teguran keras yang menyelamatkan atau sikap cuek (abai) yang mencelakakan? Tentu kita bersedia ditegur dengan keras jika itu demi kebaikan dan keselamatan diri kita. Itulah yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis dalam bacaan kita hari ini (Lukas 3:7-18). Yohanes mengajak umat untuk bertobat dan dibaptiskan dengan teguran yang amat keras. “Hai kamu keturunan ular beludak! … hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. … Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian. Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu. … Aku membaptis kamu dengan air, … Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.”

Melalui kata-kata ini Yohanes Pembaptis ingin mengajak umat untuk mengikuti Baptisan sebagai sebuah tanda yang menyelamatkan. Kata baptisan berasal dari kata Baptizo (βάπτισμα) yang berarti menenggelamkan kehidupan lama dan bangkit sebagai manusia baru bersama Allah. Artinya Yohanes mengajak para pendengar untuk mengalami keselamatan Allah dalam perubahan hidup dari keserakahan (manusia lama) kepada hidup yang mencukupkan diri dan rela berbagi pada semesta (manusia baru). Kehidupan yang dipenuhi oleh egosentrisme hanya akan menghasilkan kesenangan sesaat. Sebaliknya, kehidupan yang berani berkata “cukup” dan rela berbagi justru akan membuat hidup kita terlepas dari kecemasan, mengalami sukacita karena menyadari pemeliharaan Tuhan, merasakan sukacita karena bisa hidup bermanfaat bagi semesta yang Tuhan ciptakan ini. Pertanyaannya diadven yang ke-3 ini, sudahkah kita menenggelamkan kehidupan lama (keserakahan) dan bangkit dalam hidup baru (rasa cukup dan kerelaan berbagi)? Hidup dalam keserakahan hanya akan membawa kita pada “kematian” (kecemasan, ketidakpuasan, dsb.). Sedang hidup yang rela berbagi akan membawa kita pada kehidupan sejati dan kesukacitaan.

Gambaran keserakahan dan kerelaan berbagi dapat dilihat dari ilustrasi Laut Mati dan sungai mengalir berikut ini. Di daerah Israel, ada satu fenomena alam, yaitu Laut Mati. Laut Mati adalah danau yang membujur di daerah antara Israel, Palestina dan Yordania. Danau ini memiliki titik terendah di bumi yaitu sekitar 430,5 meter di bawah permukaan laut yang terbentuk sejak tiga juta tahun yang lalu. Para wisatawan banyak berkunjung ke Laut Mati untuk sekadar merasakan keajaiban mengapung di atas air. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebab air Laut Mati terlalu asin! Kandungan garam pada air Laut Mati ini sebesar 32% atau sekitar 10 kali lipat lebih asin dari air laut lainnya. Yang sangat menyedihkan, akhirnya tak satupun organisme tumbuhan/hewan dapat hidup di Laut Mati. Fenomena alam ini terjadi rupanya karena Laut Mati hanya menerima air mengalir dari hulu sungai, tapi tak pernah mengalirkan ke tempat lain. Air yang masuk ke Laut Mati tidak memiliki jalan keluar, tetapi terperangkap hingga menguap. Laut Mati adalah tempat mematikan bagi semua organisme, karena tidak pernah rela mengalirkan air ke tempat yang lain.

Berbeda dengan Laut Mati, kita kerap menemui sungai jernih yang membuat organisme di sekitarnya hidup. Ikan-ikan berenang, tumbuh-tumbuhan berkembang menghasilkan buah oleh karena air sungai yang mengalir. Sungai menghasilkan kehidupan, karena tidak sekadar menerima aliran air tetapi juga merelakan pergi air tersebut ke tempat lainnya. Hukum alam antara Laut Mati dan sungai yang mengalir ini mewakili kehidupan kita. Semakin kita kikir dan serakah, semakin “mati” kehidupan kita. Semakin kita rela untuk berbagi, semakin kita diberkati oleh Yang Maha Kuasa untuk terus membawa berkat dan kehidupan bagi semesta di sekitar kita.

Di tengah situasi pandemi ini, mari kita jangan berpusat egosentrisme, keserakahan ataupun upaya penyelamatan diri sendiri. Namun jadilah rekan kerja Allah agar hidup kita bermanfaat bagi sesama di dunia ini. Kesediaan untuk berbagi bagi semesta yang Tuhan ciptakan ini justru membuat hidup kita bagai air yang mengalir, menghasilkan kehidupan dan sukacita bagi diri kita dan sesama di sekitar kita. (GPP).