Kunyanyikan Kasih Setia Tuhan

Bacaan:

Tanggal 25/26 September 2021

Orang Kristen rasanya pantas memperoleh gelar umat yang gemar dan pintar bernyanyi. Kalau kita ingat jawara kontes bernyanyi di Indonesia, tak terlepas dari peran orang-orang Kristen. Sebut saja nama : Joy Tobing, Delon, Mike Mohede, Judika, juga Lyodra, orang-orang Kristen yang memenangkan kontes bernyanyi “Indonesian Idol”. Mulai dari kanak-kanak, orang Kristen memang terbiasa bernyanyi. Dunia hewan saja bisa digunakan menjadi pujian memuliakan nama Tuhan. Misalnya lagu: “King Kong Badannya besar”, “Kambing Embe-embe”, dsb. Sungguh kreativitas luar biasa untuk memuji Tuhan. Generasi anak, kaum milenial hingga lansia pun tak asing dengan musik dan pujian. Pertanyaannya: Apa makna di balik kebiasaan memuji Tuhan? Dan pujian seperti apa yang berkenan di hati Allah?

Hari ini kita membaca kisah Paulus dan Silas yang berada dalam penjara di Filipi (Kis 16:19-40). Mereka di penjara bukan karena mereka berbuat jahat, tetapi karena berbuat baik (mengusir roh tenung yang ada dalam diri seorang perempuan). Tenung di zaman sekarang berarti ilmu gaib atau guna-guna yang digunakan untuk mencelakakan orang lain. Rupanya para tuan tenung di sana terusik dan memenjarakan Paulus dan Silas karena takut kehilangan penghasilan mereka. Dalam situasi tidak adil itu, alih-alih menggerutu atau meratapi nasib, Paulus dan Silas justru berdoa dan bernyanyi memuji Tuhan. Apa yang terjadi? Tuhan bekerja melalui pujian itu sehingga gempa bumi terjadi, sendi-sendi penjara goyah dan terbukalah semua pintu penjara maupun belenggu pasung seluruh tahanan. Tentu saja itu adalah kesempatan emas bagi para tahanan untuk membebaskan diri, lari meninggalkan penjara. Tetapi Paulus dan Silas tidak melakukannya. Puji-Pujian Paulus dan Silas juga nampaknya menyentuh hati para tahanan lain untuk tetap tenang, tetap tinggal di tempat, tidak melarikan diri dan lari dari kenyataan mereka. Kepala Penjara yang terkesima dengan kejadian ini akhirnya menerima Kristus dan dibaptis bersama seisi rumahnya.

Dari sini kita belajar beberapa hal :

  1. Rasul Paulus dan Silas lebih suka membuka pintu keselamatan bagi orang yang telah menutup pintu kebebasan mereka. Sementara kepala penjara menutup pintu penjara bagi Paulus dan Silas, mereka tidak mendendam dan membukakan pintu maaf. Mereka tidak pergi namun tetap tinggal, memaafkan, memberkati, memberitakan injil, bahkan membaptis orang yang mencelakakan mereka. Dalam kondisi serupa ketika kita bisa membalas ketidakadilan dan kekerasan dengan perilaku yang sama, apakah kita mau membukakan pintu maaf dan membalas orang yang menyakiti kita dengan kasih?
  2. Puji-pujian bukanlah sekadar hobi. Bukan kegiatan “nice to do and nice to have”, baik jika dilakukan untuk sekadar mengisi waktu. Bukan juga kebanggaan bila kita pintar bernyanyi dan rendah diri jika tidak bisa bernyanyi dengan baik. Bukankah ada tertulis : “manusia melihat rupa, tetapi Allah melihat hati” – 1 Samuel 16:7. Jadi bukan seberapa ahli kita bernyanyi, tetapi apakah puji-pujian itu bergema dalam hati kita: saat senang ataupun saat susah? Apakah jiwa kita selalu memuji Tuhan saat hati kita berlimpah dengan syukur ataupun saat beban hidup terasa berat? Rasul Paulus dan Silas tetap bernyanyi memuji Tuhan meski mereka dalam kesukaran, penderitaan. Mereka ditempatkan di penjara paling dalam. Di tengah malam dengan kegelapan mencekam, kaki mereka terpasung, tubuh mereka terpenjara, tetapi jiwa mereka terbebas untuk percaya, memuji, memuliakan nama Tuhan. Dalam suka / duka mereka setia dan tulus memuji Tuhan.

Terkait dengan hal ini, ada keteladanan indah dari kebudayaan NTT yang dapat meneguhkan kita. NTT (Nusa Tenggara Timur) sendiri adalah satu provinsi di bagian Tenggara Indonesia yang memiliki 1192 pulau. Bukan hanya memiliki kekayaan pulau, tetapi NTT dikenal dengan kekayaan lautnya, keindahan pantai, populasi orang Kristen sebanyak 89,79% (di antara 5,4 juta penduduk NTT), produksi kain yang luar biasa indah dan mahal, juga keteladanan sikap mengikut Tuhan yang luar biasa.

Keteladanan mengikut Tuhan itu muncul dari 2 budaya. Yang pertama, mereka terbiasa hidup berbagi. Meski kain tenun NTT berharga sangat mahal, mereka terbiasa memberi kain satu dengan yang lain pada acara-acara seperti pernikahan, pelantikan pejabat, bahkan pada orang asing yang berkunjung sekalipun! Pemberian kain ini merupakan simbol doa dan berkat (melindungi dari panas, hujan, sakit penyakit), menuntun orang yang diberi agar dapat berperilaku baik. Sungguh suatu sikap keterbukaan dan kasih yang indah bahkan pada orang asing.

Yang kedua, kita dapat melihat dari alat musik berdawai dari Pulau Rote yang sangat ternama, yaitu Sasando. Terbuat dari bambu, daun lonthar dan senar, sasando biasa dimainkan dalam keadaan apapun! Khususnya juga dalam kesulitan dan penderitaan. Dengan sasando ini, ada satu lagu yang biasa selalu dinyanyikan yaitu : lagu “Au Tungga Lama Tuak” (Saya Mau Ikut Yesus dalam bahasa Rote).

Au tungga Lama tuak, au tungga Lama tuak
(Saya mau ikut Yesus, saya mau ikut Yesus)

Losa do na neu
(Sampai selama-lamanya)

Leo mai au susa duka doki daeba fok
(Meskipun saya susah, menderita dalam dunia)

Au tungga Lama tuak losa do na neu.
(Saya mau ikut Yesus sampai selama-lamanya)

Pujian ini dihayati begitu mendalam oleh saudara-saudara di NTT dan dinyanyikan saat senang : ketika pendeta ditahbis, ketika pejabat dilantik, ketika nelayan mencari ikan (supaya para nelayan berhasil dan tiba kembali dengan selamat), bahkan saat kedukaan terjadi, lagu ini juga dinyanyikan. – Saya mau ikut Yesus selamanya : dalam suka, duka, sampai akhir hayat. Menjadi satu perenungan bagi kita, jika : Apakah saudara dan saya mau mengikut Yesus selamanya? Mau memuji nama Tuhan saat susah maupun saat senang? Saat hidup penuh kemudahan atau hidup penuh dengan permasalahan? Tetaplah teguh dan memuji Tuhan dalam susah dan senang, sehingga banyak orang diberkati bahkan menjadi percaya pada Kristus melalui ketekunan hidup kita. (GPP)