KUASA FIRMAN ALLAH

Bacaan:

 

Sabtu/Minggu, 30/31 Januari 2021

Telinga adalah salah satu alat indra manusia yang merupakan anugrah Tuhan dan perlu disyukuri. Setiap saat telinga dapat mendengarkan berbagai macam suara dan bunyi-bunyian yang ada di sekitar. Dalam bahasa Inggris, kata ”mendengar” dibagi menjadi dua. Pertama ‘to hear’, yaitu mendengar tanpa sengaja, tidak untuk memahami, atau hanya sekedar sambil lalu. Contohnya ketika mendengar suara motor atau mobil yang sedang melintas, mendengar suara kipas angin atau AC, mendengar suara daun-daun yang tertiup angin. Sedangkan yang kedua yaitu ‘to listen’ yang artinya mendengar dengan sengaja, memperhatikan dengan khusus dan berusaha memahaminya. Contohnya ketika mendengarkan guru yang sedang menerangkan pelajaran, mendengarkan keterangan dokter ketika konsultasi kesehatan, mendengarkan khotbah saat ibadah.

Kisah bangsa Israel di padang gurun menjadi kisah yang sangat menakjubkan, karena pimpinan dan pertolongan Allah menyertai perjalanan mereka. Bangsa Israel pernah mengalami perjumpaan dengan Allah yang luar biasa sehingga membuat mereka gemetar (Kel 19:16-17). Firman Allah yang penuh kuasa senantiasa hadir dalam kehidupan mereka. Dengan pengalaman tersebut, seharusnya bangsa Israel menjadi bangsa yang ‘to listen’ akan firman Allah, namun dalam bacaan kita hari ini, justru kita temukan bangsa Israel hanya ‘to hear’ akan firman Tuhan dan Kuasa-Nya yang besar. Sebagian dari mereka telah melakukan kekejian bagi Allah (Ul. 18:10-12), mencari pertolongan dari kuasa kegelapan dan tak mengandalkan kuasa Allah yang begitu besar. Musa menyampaikan kepada bangsa Israel yang akan segera memasuki tanah Kanaan bahwa Allah akan memberikan nabi dari antara mereka dan mereka harus mendengarkan suaranya. Barang siapa yang tidak mau mendengar perkataan sang Nabi yang diutus oleh Allah, maka akan dituntut pertanggungjawaban. Mengapa mendengarkan suara sang Nabi begitu penting dan harus dilakukan? Karena ketika mendengarkan dan memperhatikan dengan sungguh, kita dapat mentaatinya. Dan ketika kita mentaati Firman Tuhan, maka kita akan meyakini bahwa Firman Allah adalah teguh, benar dan penuh kuasa.

Bagaimana dengan kehidupan kita saat ini? Di tengah hiruk pikuk kehidupan kita, masihkah kita mendengar suara Tuhan dengan sungguh? Masihkah kita memperhatikan suara-Nya? Apakah kuasa Firman Allah yang Teguh itu tetap kita ijinkan menguasai kehidupan kita?

Kiranya kita selalu tetap menjadi umat-Nya yang senantiasa mendengar, mentaati dan mengandalkan Kuasa Firman Allah dalam kehidupan kita. Amin. (YKH)