Kobarkan Semangat dengan Menyanyikan Pujian

Bacaan:

Tanggal 24/25 September 2022

Berbagai macam riset menunjukkan ada banyak manfaat musik bagi kesehatan. Perpaduan irama dan lirik dalam musik diketahui dapat meningkatkan kesehatan fisik, mental, hingga emosional orang yang mendengarkannya. Manfaat musik untuk kesehatan diantaranya seperti menenangkan pikiran, memberi energi pada tubuh, dan mengelola rasa sakit. Mendengarkan musik yang lembut misalnya, ternyata dapat menurunkan detak jantung dan tekanan darah hingga melancarkan pernapasan. Sedangkan mendengarkan musik dengan beat yang cepat (rock,dll.) ternyata secara psikologis dapat menambah semangat seseorang untuk melakukan aktifitasnya. Itulah beberapa keajaiban tentang musik.

Bagaimana dengan manfaat menyanyikan dan mendengarkan musik rohani? Tentu musik rohani yang kita nyanyikan merupakan bentuk pujian, penyembahan kita kepada Tuhan. Bukan itu saja, pendengar musik rohani ternyata juga memperoleh manfaat kesehatan mental melaluinya. Tahun 2014 lalu, sebuah artikel berjudul ‘Listening to Religious Music in Later Life’ yang berisi laporan dari ahli gerontologi, membuat penelitian tentang hal ini. Matt Bradshaw dan beberapa rekannya mendapatkan sample dari 1.024 orang partisipan dan menemukan bahwa frekuensi mendengarkan lagu rohani memiliki hubungan dengan penurunan kecemasan akan kematian, peningkatan kepuasan hidup, harga diri, dan rasa pengendalian diri.

Berbagai kisah di Alkitab juga menuturkan penggunaan musik/lagu rohani secara ajaib. Daud misalnya, seorang pemain kecapi dan pemazmur. Ia menggunakan alat musik kecapi untuk menenangkan raja Saul yang sedang diganggu roh jahat, sehingga roh jahat pun undur dari Saul (1 Sam 16:23). Berbagai macam mazmur yang dituliskan Daud juga terus bermanfaat bagi kita dan gereja hari-hari ini untuk merasakan kenyamanan dalam tekanan hidup, makin beriman pada Tuhan, tetap percaya pada Tuhan saat dalam pergumulan, dll. Dalam Kisah Para Rasul 16:25-34 diceritakan juga kedahsyatan lagu rohani. Saat itu Rasul Paulus dan Silas yang dipenjara berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah. Orang-orang tahanan pun mendengarkan mereka menyanyi. Lalu terjadilah gempa bumi hebat, semua pintu penjara terbuka, rantai-rantai yang membelenggu semua tahanan pun terlepas. Tetapi uniknya, para tahanan tidak melarikan diri. Hal ini membuat takjub kepala penjara. Akhirnya ia dan seisi rumahnya menerima Kristus dan dibaptiskan. Puji pujian memang memiliki misteri keindahan dan keagungan Allah. Jika memang puji-pujian memiliki daya dan kuasa ilahi, sudahkah kita gemar menyanyikan dan mendengarkan pujian kepada Allah? Dan bagaimana sikap yang benar dalam menyanyikan puji-pujian kepada Allah?

Bacaan hari ini (2 Sam 6:11-16a) menceritakaan tentang Daud bersama bangsa Israel yang berjalan bersama menuju Yerusalem mengangkut tabut perjanjian Tuhan. Raja Daud beserta seluruh rakyat yang mengiringinya membawanya dengan sorak-sorai sambil diiringi bunyi sangkakala yang meriah. Raja Daud sendiri dengan berbaju efod dan kain
lenan menari-nari sekuat tenaga di hadapan Tuhan untuk menghormati Tuhan. Ada beberapa ikon yang memiliki makna masing-masing di sini. Tabut perjanjian merupakan firman Allah. Membawa tabut perjanjian Allah merupakan simbol perjalanan suci, perjalanan iman bangsa Israel menaati firman Allah. Baju efod merupakan pakaian kudus seorang Imam Besar Yahudi atau pemimpin ibadah dalam budaya Israel, sehingga mengenakan efod merupakan suatu implikasi keagamaan dan upacara penting yang dilakukan bangsa Israel. Dalam perjalanan suci (iman) ini, Daud berekspresi sepenuh hati. Ia menari-nari, bangsa Israel bersorak (juga mungkin memuji Allah) dengan musik sangkakala yang meriah. Mengapa mereka memuji Allah, bersorak, menari sepenuh hati? Dalam pasal sebelumnya diceritakan bahwa Daud baru saja menjadi raja, ia merebut Yerusalem dan dalam tekanan ia hendak dibunuh oleh bangsa Filistin, Tuhan membuatnya dapat memukul kalah orang Filistin. Jadi puji-pujian ini tak lain diungkapkan kepada Tuhan dalam berbagai situasi; situasi tertekan, merasakan pertolongan Tuhan, dan bersyukur pada Tuhan.
Belajar dari Daud, sudahkah kita memuji Allah dalam berbagai situasi hidup? Dalam pergumulan, pujilah Tuhan. Dalam kekecewaan hidup, pujilah Tuhan. Dalam rasa takjub akan kuasa Tuhan, pujilah Tuhan. Dalam rasa syukur, pujilah Tuhan. Pujilah Tuhan sepenuh hati kita. Karena pujian bukan hanya menjadi persembahan yang berkenan bagi Tuhan, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan mental kita: menurunkan rasa cemas, merasakan kepuasan hidup (bisa mensyukuri kehidupan), meningkatkan iman kita kepada-Nya. Selamat memuji Tuhan dengan sepenuh hati. (GPP)