KENOSIS: KEREN dan HOLY?

Bacaan:

 
 

Tanggal 27/28 Maret 2021

Syalom Bapak, Ibu, Saudara terkasih. Bagaimanakah kabar Bapak Ibu Saudara? Semoga Bapak, Ibu, Saudara dalam keadaan baik, namun jika tidak dalam keadaan baikpun tidak apa-apa. Baru-baru ini kata “ghosting” menjadi populer dan menjadi bahan perbincangan, bahkan viral. Ghosting adalah keadaan dimana seseorang tibatiba menghilang begitu saja tanpa penjelasan padahal sebelumnya sering berkomunikasi. Kondisi lain ketika pandemi ini adalah dulu sebuah keluarga bisa hidup dengan nyaman, namun tiba-tiba harus sangat berhemat supaya bisa bertahan. Seorang anak kost yang dulu bisa makan tiga kali sehari, bahkan bisa jalan-jalan di Mall sekarang bahkan untuk makan harus berhutang. Apa yang bisa kita tarik dari realita kehidupan ini? Bahwa dalam kehidupan kita sering berjumpa dengan keadaan yang bertolak belakang atau keadaan yang tiba-tiba berbalik arah. Bagaimana kita bisa menyikapinya terutama diminggu Palma ini ?

Dalam bacaan kita menyimak bahwa Yesus bersama para murid menuju ke Yerusalem dan sudah sampai di Betfage dan Betania yang terletak di Bukit Zaitun. Apa pentingnya hal ini dituliskan dalam perikop ini? Ternyata hal ini sangat menarik untuk kita cermati. Realita bahwa Yesus sudah sampai di Betfage menuju Yerusalem, artinya Ia menuju Yerusalem dari sisi sebelah timur. Ahli teologi mengatakan bahwa pada masa Raya Yahudi , Yerusalem yang pada saat itu dikuasai oleh Romawi, maka Pontius Pilatus sebagai penguasa saat itu akan datang juga ke Yerusalem untuk menjaga situasi Yerusalem supaya tetap stabil. Jadi ada dua rombongan yang sama-sama mengarah ke Yerusalem. Satu rombongan Yesus dari arah Timur dan satu rombongan Pontius Pilatus dari arah Barat. Dua rombongan ini memiliki tujuan, visi, misi yang berbeda. Dua rombongan ini memberikan gambaran kepada kita mengenai dua hal yang ingin ditunjukkan, yang satu Imperial Teologi / bagaimana menguasai lawan, harus menjadi pemenang, tidak ada kata gagal dan disakiti tapi justru menyakiti, sedangkan yang satunya lagi adalah teologi Kerajaan Allah dimana rombongan Kristus diajak untuk kenosis / menjadi kosong. Dengan kata lain Rombongan Yesus membawa teologi kerendahan hati dan dengan penuh kesadaran mengosongkan kehendak sendiri dan menerima sepenuhnya kehendak Allah.

Dimasa minggu Palma ini kita diajak untuk memilih, rombongan siapakah yang akan kita ikuti terutama ketika kita berjumpa dengan kondisi yang tiba-tiba bertolak belakang seperti contoh di atas? Tentu saja kita akan mengikuti rombongan Yesus yang ditawari sebuah pilihan hidup penuh kerendahan hati dan pengosongan diri. Bagaimana kita mewujudkan itu dalam kehidupan sehari-hari? Salah satu cara untuk mengosongkan diri dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang menyadari bahwa harapan dan kenyataan tidak selalu beriringan. Harapan: semua orang menyukai kita, kenyataan bahkan ada orang yang sepertinya dekat dengan kita namun membenci kita. Harapan: hidup berjalan menyenangkan dan baik-baik saja, kenyataannya bahkan kita harus berjumpa dengan kepahitan, kesukaran, penderitaan, kegelapan. Semua itu tidak menjadi masalah ketika kita menerima baik suka dan duka tanpa melabelinya. Bahwa suka bukanlah lawan dari duka, tapi duka memproses, mendewasakan dan memurnikan kita, sedang suka memberi kekuatan dan alasan untuk kita terus melanjutkan kehidupan. Keduanya harus kita terima apa adanya, bukan menyangkalnya. Tapi menerimanya apa adanya dan berproses di dalamnya. Dengan demikian kita tidak akan melekat pada “suka” maupun “duka” itu, namun kita terus maju dan fokus menyelesaikan setiap tugas kita di dunia ini. Selamat menghayati minggu Palmarum! (SA)