KEMARAHAN VS KEMURAHAN ALLAH

Bacaan:

 
 

Tanggal 13/14 April 2021

Kita mungkin sering mendengar ungkapan : “jangan mencuri, jangan berbohong nanti masuk neraka!”, “wah saya tertimpa musibah, itu pasti karena Tuhan membenci dan menghukum saya”, “si A itu dulu membenci orang Kristen, makanya dia sekarang sakit kronis (lainnya)”. Setujukah anda akan hal ini? Pernyataan-pernyataan tadi menjelaskan cara seseorang memandang Allah yang senang menghukum, senang marah. Tetapi gambaran Allah seperti apa yang ingin Yesus berikan bagi kita?

Dalam bacaan hari ini, injil Yohanes 3:16-17, kita melihat gambaran Allah demikian :

 

Bacaan ini menegaskan bahwa Allah mengutus Anak-Nya, Yesus Kristus bukan untuk menghakimi dunia, tetapi untuk menyelamatkannya oleh Dia. Karena keadilan Allah (“sebab upah dosa ialah maut” – Roma 6:23a) dan Kasih Allah (tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. – Roma 6:23b & Yoh 3:16) tidak dapat dibatalkan. Kasih dan keadilan-Nya tidaklah berat sebelah. Karena itulah Ia rela turun ke dunia, menggantikan kita yang seharusnya mati, binasa. (konsekuen dengan keadilan-Nya) Ia mati di kayu salib menggantikan posisi kita umat-Nya, supaya kita tidak perlu mati (binasa), melainkan beroleh hidup yang kekal. (konsekuen dengan kasih-Nya). Dengan demikian, kita mendapati gambaran bahwa Allah bukanlah Allah yang gemar menghukum dan membinasakan, tetapi Allah yang pemurah. Ia yang rela memberikan hidup-Nya bagi keselamatan kita.

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa gambaran Allah dalam Perjanjian Lama begitu menakutkan : Allah yang gemar menghukum. Sebut saja kisah Allah “menghukum” bangsa Israel di padang gurun 40 tahun, anak Daud & Betsyeba (sebelum Salomo) mati, dsb. Sedang di Perjanjian Baru Allah maha kasih, gemar mengampuni. Sebut saja bagaimana Yesus mengampuni seorang perempuan yang berbuat zinah (Yoh 8:1-11), perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32). Mengapa cara kerja Allah di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berbeda? Jawabnya sederhana. Di Perjanjian Lama Allah menegakkan keadilan-Nya di depan mata, sedang di Perjanjian Baru, di dalam Kristus yang menanggung dosa dan mengampuni, Allah menegakkan keadilannya di akhir zaman (pengadilan terakhir). Dengan demikian di kedua zaman ini kita menemukan Allah yang sama : Allah maha adil dan maha kasih. Kedua karakter Allah ini tidak pernah diingkari-Nya.

Pertanyaannya : bagaimana kita menerapkan pandangan Allah yang adil sekaligus yang murah hati di kehidupan kita saat ini? Jawabnya dengan memandang bahwa segala sesuatu yang Allah izinkan adalah demi kebaikan kita (“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” – Roma 8:28, Yer 29:11). Atau bila kita berbuat dosa, pandanglah hal tersebut sebagai teguran Allah (“karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” – Ibrani 13:6-7) Jadi kejadian pahit yang kita alami bisa mengandung setidaknya 2 dimensi. Yang pertama, Allah mungkin sedang menegur kita supaya kita berbalik dari jalan hidup yang keliru. Yang kedua, Allah mungkin sedang menguji kita supaya kita tetap tegar dan sabar menantikan maksud Tuhan dalam kehidupan kita. (1 Petrus 1:6-7)

Di situasi pandemi yang kita hadapi saat ini mungkin kita mengalami pasang surut ekonomi, usaha yang tidak menghasilkan seperti yang diharapkan, mungkin sakit/penyakit yang kita hadapi. Tetapi baiklah kita memadang bahwa segala sesuatu bukanlah Allah izinkan untuk menghukum dan membinasakan kita, tetapi untuk menegur kita supaya kita berbalik dari jalan yang keliru atau untuk menunjukkan rencana baik yang Tuhan izinkan dalam kehidupan kita kelak. Dengan demikian kita berbesar hati, apapun yang Tuhan izinkan itu semua demi kebaikan kita. Ialah Allah yang adil sekaligus pemurah dan pengampun. (GPP)