KEKUATAN KASIH

Bacaan:

 

Tanggal 24/25 April 2021

Sudah menjadi hal lumrah bagi kita untuk menceritakan apa yang baik dalam hidup kita kepada orang-orang di sekitar. Dimasa kini kebiasaan itu difasilitasi dengan media sosial yang makin beragam pilihan, dan karena itu
wajar saja jika satu orang bisa memiliki banyak akun. Bercerita kepada orang lain, bahkan ke media sosial, adalah bentuk publikasi content hidup kita. Ada banyak influencer yang lahir dari kebiasaan mempublikasikan content
hidupnya; ada yang positif, tetapi ada juga yang memamerkan hal-hal yang bisa menimbulkan keresahan sosial. Ada pula bentuk publikasi yang bukan soal diri sendiri, melainkan soal hal atau orang lain. Tujuannya beragam, mulai dari sekadar iseng, ghibah (gossip), kritik, sampai dengan apresiasi dan ajakan untuk meyakini hal tertentu.

Apa yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes adalah bentuk publikasi mengenai Yesus Kristus. Bentuk publikasi ini tentu untuk monetisasi (proses mengubah sesuatu menjadi pendapatan bagi diri sendiri), melainkan justru untuk dibagikan secara gratis, karena Petrus dan Yohanes sudah mengalami sendiri kebersamaan dengan Yesus, menyaksikan kematian dan kebangkitan-Nya, dan yang terutama mereka meyakini bahwa Yesus adalah Kristus yang dinubuatkan oleh para nabi untuk menyelamatkan manusia. Semangat baik tak selalu akan berjumpa dengan keadaan baik, content berkualitas tidak pasti diapresiasi, dan inilah yang dilakukan oleh para pemimpin umat, tua-tua, ahli-ahli Taurat dan Imam Besar dengan memerintahkan penangkapan mereka untuk disidangkan. Apa yang kita saksikan kemudian adalah adegan demi adegan yang berakhir dengan kemenangan orang-orang yang berdiri atas kebenaran.

Keberanian Petrus untuk bersaksi di sini kontras dengan kisah dia menyangkal Yesus. Dalam teks dikatakan: “Petrus, penuh dengan Roh Kudus”. Akan begitu sederhana jika kita mengatakan bahwa pemimpin-pemimpin umat tidak meyakini Yesus Kristus, karena mereka tidak dipenuhi Roh Kudus seperti Petrus dan kawannya. Dramatis memang yang ditampilkan penulis Kisah Para Rasul yang menampilkan makna sekonyong-konyong Petrus dipenuhi Roh Kudus, tetapi mari kita mengingat bahwa Roh Kudus sudah dan terus bekerja dalam keseharian Petrus. Naik-turun pengalaman imannya bersama dengan Tuhan yang dicatat dalam Alkitab justru menunjukkan kepada kita bahwa: Petrus adalah manusia, yang dibentuk dan dipakai Tuhan dalam keotentikannya. Ia adalah yang keras, temperamen, terburu-buru, tetapi di atas orang yang seperti
inilah Roh Kudus bekerja, sehingga yang menyangkal menjadi yang menyaksikan, yang takut menjadi penuh keberanian, yang ragu menjadi penuh keyakinan, bahkan Petrus adalah gambaran orang yang siap bertobat ketika ia tahu jalannya keliru. Ini berbeda dengan pemimpin-pemimpin umat yang menggenggam erat berbagai bentuk keuntungan yang didapatkan dari peran sebagai “yang dirujuk dan dituruti orang banyak” sehingga dengan sengaja melepaskan kebenaran. Mereka yang katanya bergaul setiap hari dengan tulisantulisan mengenai apa yang Allah kehendaki, yang ditugasi untuk membangun umat, justru membuang “Batu Penjuru”. Betapa malunya mereka ketika Petrus yang adalah orang biasa, justru mengingatkan mereka akan isi kitab suci: Yesus Kristus,…telah dibangkitkan Allah………. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia. Yesus Kristus sudah bangkit, apa artinya dalam kehidupan kita? Mari kita memaknai kebangkitan Kristus dengan hidup otentik di hadapan Tuhan, memohon Roh Kudus membentuk kita sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. (Rbk)