KEKUATAN DAMAI SEJAHTERA

Bacaan:

 
 

Tanggal 10/11 April 2021

Menjadi saksi Kristus adalah panggilan hidup setiap orang percaya, namun pada praktiknya, bersaksi di tengah dunia tidak selalu mudah. Situasi dan kondisi hidup dapat sangat mempengaruhi niat seseorang untuk bersaksi. Ketika mengalami pergumulan hidup yang berat, seseorang bisa enggan bersaksi tentang kasih Allah. Sebab mungkin seseorang merasa: kalau saya sedang mengalami masalah pekerjaan, keuangan, keluarga, apa yang mau saya beritakan pada orang lain? Orang yang menghadapi pergumulan yang berat cenderung memiliki keraguan akan dirinya atau ragu akan kasih dan kuasa Allah baginya.

Dalam bacaan hari ini (Yoh 20:19-31), para murid merasakan hal serupa. Pada saat itu mereka merasa hidup mereka hancur. Mereka gagal mengikut Yesus karena meninggalkan-Nya saat menjalani salib. Saat Yesus bangkit, mereka sebenarnya bimbang sebab mereka hanya mendengar berita kebangkitan-Nya dari murid-murid perempuan (Luk 24:1-12; Mrk 16:1-8; Yoh 20:11-18), tetapi tak sekalipun mereka pernah dijumpai-Nya. Yang mereka temukan hanyalah kain kafan Yesus yang telah tergulung (Yoh 20:7). Belum lagi imam-imam kepala nampak menolak berita kebangkitan Yesus dan menuduh para murid telah mencuri jasad-Nya (Mat 28:11-15). Gagal sebagai murid-Nya, kini tuduhan pun mengancam jiwa mereka. Rasa sesal, ragu, tidak layak, frustasi bercampur dalam diri mereka. Tak heran jika mereka mengisolasi diri, mengunci pintu rapat-rapat dan bersembunyi dalam ketakutan.

Tetapi dalam ruangan yang terkunci rapat itu tiba-tiba Yesus datang dan berdiri di tengah mereka. Yesus bukan hanya menembus dinding tebal buatan manusia, tetapi Ia juga menembus dinding ketakutan, keputusasaan, ketidaklayakan yang ada dalam hati mereka. Yesus pun menyampaikan: “Damai-sejahtera bagi kamu!” (ay.19,21,26 Shalom Aleichem [Ibrani] / Eirene [Yunani]), sebuah ungkapan agar kedamaian, kesejahteraan dicurahkan berlimpah-limpah dalam hidup mereka. Ungkapan yang ingin menegaskan bahwa meski mereka pernah gagal sebagai murid-Nya, Yesus tetap membawa damai-Nya bagi mereka. Yesus tetap menerima, mengasihi, mengampuni mereka. Ia bahkan mempercayakan suatu tugas mulia bagi mereka: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.’”. Ungkapan Yesus ini seolah ingin menyampaikan: Aku tahu kamu khawatir, bimbang, ragu, merasa bersalah, dsb. Tapi tetap, Aku mengutus kamu untuk bersaksi di tengah dunia. Artinya, panggilan untuk bersaksi tidaklah menunggu iman yang sempurna tanpa keraguan, hidup ideal tanpa masalah. Namun di tengah pergumulan, Allah tetap percaya dan mengutus mereka untuk bersaksi. Bahkan Yesus kemudian menghembusi (enephysesen, [BIS]: meniupkan nafas-Nya) kepada mereka dan memberi mereka Roh Kudus. Artinya mereka bukan bersaksi dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan pertolongan Roh Kudus yang menyertai mereka.

Melalui kisah ini, bukankah kita dapat berefleksi: yang pertama, damai sejahtera ‘Shalom’ Allah melampaui segala keraguan, ketidaklayakan, dan permasalahan hidup kita. Karena itu berdamailah dengan segala keraguan, rasa tidak layak dalam diri, ataupun masalah yang kita hadapi. Sebab Allah mengasihi kita lebih dari segala kesalahan masa lalu maupun segala masalah yang kita alami. Karena itu setiap kali hati kita dihakimi oleh kesalahan masa lalu atau ketika jiwa kita diancam oleh masalah yang sedang kita hadapi, maka ikuti kata pepatah: “Don’t say: oh God, I have a big problem/mistake. But say: Oh problem/mistake, I have a Big God!”.

Yang kedua, Tuhan memanggil kita untuk bersaksi apapun keadaan yang kita alami. Panggilan bersaksi tidaklah menunggu saat hidup ideal tanpa masalah, baru kita dapat bersaksi. Tetapi di tengah kebimbangan, keputusasaan, kesulitan, kita tetap dipanggil untuk melayani dan bersaksi. Mengapa? Karena Roh Kudus selalu menyertai kita. Mother Teresa pernah berkata: “dalam pelayanan kita tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi untuk setia.” Artinya, dalam bersaksi dan melayani kita tidak perlu mengukur apakah hal tersebut berhasil atau tidak. Tetapi kita kembalikan semua bagi hormat kemuliaan Allah Bapa. Jika berhasil, berarti kita dipakai oleh Tuhan untuk melihat “buahnya”, bila tidak maka kita diizinkan Tuhan untuk melihat “pertumbuhannya”. Seperti gambaran pelayanan dari rasul Paulus: ada yang berperan untuk menanam, ada yang berperan menyiram, tetapi tetap Allah yang memberi pertumbuhan. (1 Kor 3:6-9) Dalam situasi pandemi, mungkin berbagai masalah kita hadapi, tetapi mari terus bersaksi, beritakan kasih Allah melalui perkataan, tindakan, sharing di sosial media, dsb., sehingga pada akhirnya damai sejahtera Allah (Shalom Aleichem) juga menyapa hati banyak orang. Menembus dan meruntuhkan dinding-dinding ketakutan, rasa bersalah, frustasi yang mereka alami. Dan nama Tuhan saja yang dipermuliakan. Tuhan memberkati kita. AMIN. (GPP)