Jebakan Sindrom “Marta-wi”

Bacaan:

 

Tanggal 16/17 Juli 2022

Berawaslah jika tanda-tanda Sindrom berikut kita alami/rasakan:
  • Mudah Emosi (mudah marah, tidak sabaran, capek, lelah) dan mulai menyalahkan orang-orang sekitar, karena merasa lelah dengan kesibukan pelayanan/pekerjaan yang rasanya kita pikul sendiri, dan tidak ada orang lain yang peduli, tidak ada yang mau membantu;
  • Merasa orang lain mengambil sikap “enak-enakan” (santai), tidak bertanggungjawab, sementara kita sudah terlalu banyak berkorban, capek, lelah, bahkan merasa “menderita” demi orang-orang lain.
Jika merasakan hal-hal seperti di atas, waspadalah, jangan-jangan itu tanda kita mengalami sindrom seperti “Martha”! Yaitu seperti sikap Martha dalam Lukas 10:38-42, yang merasa lelah, menyalahkan sikap Maria yang enak-enakan, bahkan menyalahkan sikap Yesus yang seolah tidak peduli dengan jerih lelahnya. Lukas 10:40 Martha mendekati Yesus:
 
Bukankah kadang/sering dalam kesibukan kegiatan pelayanan, kita bersikap “ngambek” (marah, “mutung”) dan bersikap emosional seperti Martha? Lalu bagaimana kita mengalahkan syndrom tersebut?
  1. Arahkan kembali fokus hidup kita kepada Yesus (menyambut dan melayani Yesus!), dan bukan hanya berorientasi pada diri sendiri (egosentris? atau melayani keinginan2 kita sendiri?!). Sikap egosentris, sering ditunggangi motif/tujuan terselubung. Mirip dengan “dunia politik: segala kebaikan yang dilakukannya ada motif terselubung mencari perhatian yang ujung-ujungnya untuk memilih dirinya agar dirinya mencapai tujuannya/kuasanya dll”. Dalam pelayanan kita ingin mengatur Tuhan Yesus dan mengatur semua orang sesuai keinginan kita? Bukankah seharusnya Kristuslah yang mengatur kita (apa yang harusnya kita lakukan sesuai kehendakNya)?
     
     
    Jangan-jangan kita telah terjebak dalam berbagai kesibukan kegiatan, sehingga melupakan yang terpenting dari kegiatan tersebut adalah Kristus Sang pemberi berkat/pekerjaan! Ada waktunya dimana yang terpenting adalah duduk diam dan mendengarkan Kristus.
  2. Hargailah pilihan sikap/pendapat sesama kita. Hargai perbedaan pilihan sikap orang lain, hargai kelebihan, kekurangan dan perbedaan masing-masing orang. Bahkan kita perlu belajar dari pilihan orang lain, jangan-jangan mereka memilih dengan lebih bijak dari kita? Seperti pilihan Maria dipuji Yesus sebagai pilihan sikap yang lebih baik?
     
     
    Evaluasi diri dan berusaha perbarui diri/hidup baru
  3. Membuat pilihan yang bijak, tepat dan bermanfaat, dalam segala situasi.. bijak berkaitan dengan waktu, sikap, kata, pilihan, apa yang menjadi prioritas saat itu dll? Dimana kadang kita harus menimbang:
    – mana sikap yang baik dan mana sikap yang lebih baik/terbaik?
    – mana yang utama dan mana yang lebih utama/terpenting?
    – jangan-jangan kita hanya terjerat kesibukan yang “kurang penting”?
     
Martha “terjebak” dalam kegiatan “dapur”, mungkin dapur adalah zona nyaman dirinya. Sementara Maria mendengarkan pengajaran Kristus, ia sedia diajar, dibentuk dan diutus Kristus menjadi berkat bagi dunia.
Maka kita perlu terus menerus mengevaluasi diri dan berusaha hidup baru, berusaha bahkan memaksimalkan diri untuk melakukan apa yang terbaik!