Hidupi dan Saksikan Dia Bersama Sahabat Imanmu

Bacaan:

Tanggal 2/3 Juli 2022

 

“Saya belum siap”, “saya tidak layak”, “hidup saya tidak pantas jadi saksi”,… banyak orang beralasan demikian (banyak alasan), ketika diutus untuk bersaksi dalam kehidupan sehari-hari terutama kepada sahabat/teman dekatnya. Mungkin sekali para murid (70 murid yang lain) juga ada perasaan “belum siap” untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia, bahkan mungkin, merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan di tengah masyarakat untuk mempersaksikan Kristus, tetapi para murid tersebut “taat” dan tetap melaksanakan tugasnya dengan gembira dan setia, dan mereka “berhasil” melakukannya dengan baik! Mengapa mereka berhasil? Karena mereka meyakini dan melakukan apa yang Yesus katakan, yang harusnya juga menjadi prinsip pelayanan dan kesaksian kita. Prinsip-prinsip berikut harusnya menjadi pegangan kita ketika menerima panggilan dari Tuhan untuk bersaksi?

  1. (ay. 1-2) “Kita hanyalah seorang utusan, Tuhan sendiri yang menunjuk, memilih dan mengirim kita!”, karena itu jangan menyombongkan diri seolah-olah kita pantas, dan tetapi jangan pula merasa “ketakutan”/minder/beban berat. Kalau Tuhan sendiri yang menunjuk, memilih dan mengirim kita, itu berarti Tuhan sendiri yang akan menjaga, melindungi dan mengarahkan kita sepenuhnya, “hanya”, kita harus taat sepenuhnya dan melaksanakan tugas kesaksian kita dengan penuh kasih dan sepenuh hati!
  2. (ay. 3) “Tuhan sudah tahu seberapa lemah (kekurangan, kelemahan) kita, Ia tahu kita ini “cuma bagaikan domba di tengah serigala”. Karena itu kita yakin, Tuhan akan hadir menyertai, melindungi, membimbing dan menolong agar kita dapat melaksanakan tugas kita tersebut dengan baik. Yang penting marilah kita menjadi seperti “domba” yang lembut bagi sesama (berkarakter “domba”)
  3. (ay. 4) “Jangan pelayanan kita terhambat oleh hal-hal sepele”. Jangan hal-hal sepele justru mengganggu fokus dari tujuan utama kita untuk bersaksi dan melayani. Dalam realita pelayanan gerejawi, kadang ada juga orang “mundur/tidak jadi” melayani hanya karena alasan-alasan yang sepele! Misal: “pelayananku tidak di-apresiasi”, “aku tidak punya teman di situ”, “aku tidak punya pakaian yang pantas untuk Song leader”, “konsumsinya kurang baik”, “pengurusnya kurang bijak”,…
  4. (ay. 5-8) Beberapa Tips dan strategi pelayanan dan kesaksian agar berhasil baik, maka pelayanan kesaksian harus berbasis pada keluarga (sekeluarga), artinya memperhatikan seluruh pergumulan keluarga yang dilayani!
    – (ay. 5-6) “Damai Sejahtera bagi rumah ini”. Sejak pertama, hendaknya berusaha menghadirkan damai sejahtera Allah bagi keluarga di rumah tersebut. Ay 9: Melayani mereka agar sekeluarga merasakan suasana “Kerajaan Allah” di bumi!
    – (ay. 7-9) “tinggallah dalam rumah itu, makan minumlah…”. artinya, menjadi “bagian dari keluarga rumah tersebut”, bagaikan “anggota keluarga” yang baik, yang peduli dengan pergumulan keluarga tersebut, yang membangun suasana damai sejahtera di rumah tersebut. Yang menghargai adat istiadat budaya keluarga, kebiasaan baik keluarga, yang setia dan fokus sampai sekeluarga tersebut semuanya merasakan damai sejahtera Allah di tengah keluarga mereka! Inilah pelayanan yang “holistik” berbasis pada keluarga!
  5. (ay. 10-16) Misi kita memberitakan “Kerajaan Allah sudah dekat padamu”, karena itu tidak perlu takut terhadap penolakan, atau kegagalan dalam bersaksi, yang penting kita bersikap sebaik-baiknya sebagai “utusan kerajaan Allah” yang penuh kasih, yang hadir dengan niat baik untuk membantu menghidupkan “damai sejahtera” dalam kehidupan keluarga-keluarga tersebut!

Maukah kita melayani dan bersaksi bagi saudara-saudara (para sahabat) di sekitar kita? Agar mereka mengenal Kristus dan mengalami damai sejahtera Allah bersama keluarga mereka? Tuhan yang mengutus kita, Dia juga yang akan memelihara dan mengajar segala sesuatunya, serta yang akan membuat pelayanan itu berhasil! Amin.