GKI YANG TERUS MEMBARUI DIRI (HUT GKI KE-32)

Bacaan:

 

Tanggal 22/23 Agustus 2020

Matius 16:13-20 merupakan kisah percakapan antara Yesus dan Petrus yang terjadi di daerah Kaisarea Filipi. Di daerah ini, Yesus ingin mengetahui apa yang ada di dalam pemikiran para murid mengenai diri-Nya. Oleh sebab itu, Ia bertanya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini”. Simon Petrus dengan cepat menjawab: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”. Jawaban Simon memperlihatkan isi hatinya. Inilah pengakuan imannya kepada Yesus. Tanggapan Yesus atas jawaban Simon Petrus pada ayat 17 hendak memberikan penegasan bahwa pengakuan Yesus sebagai Mesias tidak sepenuhnya dari hasil pemikiran manusia, tetapi yang terutama karena berasal dari tuntunan Allah sendiri. Allah yang membukakan hati Petrus untuk mengaku Yesus sebagai Mesias Anak Allah yang hidup.

Pengakuan iman bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, harus berlanjut dengan sikap dan tindakan sebagai mitra Allah dalam memberitakan kabar baik kepada dunia. Oleh sebab itu, Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Ungkapan Petrus sebagai pemegang kunci Kerajaan Sorga hendak menyatakan bahwa Petrus diberikan kepercayaan, penugasan, dan otoritas untuk melanjutkan karya Yesus memberitakan Injil. Yesus menempatkan Petrus sebagai mitra-Nya dalam pemberitaan Injil. Ada sebuah visi yang harus dilanjutkan oleh Petrus. Pada akhirnya,

melalui kesediaan Petrus dalam memberitakan Injil maka nantinya akan terbentuk persekutuan umat yang hidup berdasarkan ajaran Yesus. Persekutuan umat yang kehadirannya tidak untuk dirinya sendiri, tetapi umat yang kehadirannya memberikan dampak yang positif bagi kehidupan bersama. Persekutuan umat yang kehadirannya menciptakan perubahan kehidupan yang lebih. Kehadirannya relevan, kontekstual, dan membarui. Persekutuan umat yang merayakan kehidupan sebagai mitra Allah dengan berbagi kehidupan kepada sesama dan menjadi agen pembaruan bagi konteks di mana ia berada di dalamnya.

Bukan hal mudah untuk menjadi mitra Allah dalam memberitakan Injil. Kehidupan Petrus menunjukkan naik turun perjalanan iman. Saat ia hampir tenggelam, Yesus mengangkatnya. Saat ia menyangkal, Yesus tidak menolaknya. Inilah kuncinya: keselamatan yang berulang kali diberikan Tuhan meneguhkan Petrus di jalan imannya. Betul bahwa iman adalah respon manusia, namun respon itu tidak akan pernah teguh tanpa pengakuan akan pemeliharaan Allah. Kesediaan untuk menjadi mitra Allah sebagai keyakinan iman, tidak akan pernah teguh tanpa pengakuan akan pemeliharan Allah yang telah mengundang kita menjadi mitra-Nya. Hal lain yang menjadi tugas kita ialah melihat dan mendengar sekeliling kita, agar kita tahu apa yang perlu kita lakukan untuk menghadirkan damai sejahtera Allah.

(Disadur dari Dian Penuntun)