DITETAPKAN UNTUK BERBUAH

Bacaan:

 
 

Tanggal 8/9 Mei 2021

Sebagai makhluk sosial, memiliki sahabat tentu merupakan kebutuhan jiwa manusia. Tak heran Bunda Teresa pernah berujar: “Penyakit paling mematikan di dunia bukanlah penyakit jantung, kanker, stroke, dan lain-lain, tetapi perasaan tidak diterima dan tidak dicintai.” Dalam persahabatan kita merasakan orang yang dapat menerima, mencintai kita apa adanya menjadi energi / semangat dalam hidup kita. Melalui persahabatan, kita dapat berbagi hal-hal yang tidak dapat kita bagi dengan semua orang. Kita bisa punya banyak kawan atau teman di tempat kerja atau di gereja, namun tidak semua teman atau kawan itu adalah sahabat bagi kita. Ketika kita memakai kata ‘sahabat’, kita menunjuk pada relasi yang lebih dalam. Di dalam persahabatan ada keakraban dan rasa saling percaya. Tak heran Amsal 17:17 mengatakan, ”Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran”. Sahabat adalah seorang yang menerima kita apa adanya, entah kita berhasil atau gagal, untung atau rugi. Seorang sahabat mendukung kita tanpa pamrih bahkan bersedia berkorban bagi kita.

Pertanyaannya: seperti apa Allah mengasihi kita, dan bagaimana Allah memandang hubungan kita dengan-Nya? Injil Yohanes 15:9-17 menyatakan hal yang luar biasa demikian: 

 

Bukan kita yang melamar menjadi umat-Nya. Dia yang memilih kita menjadi sahabatsahabat- Nya. Dia memilih kita untuk diceritakan kepada kita rahasia-rahasia yang besar. Lebih dari itu dia memberikan nyawa-Nya bagi kita sahabat-sahabat-Nya (ay.13). Dari pernyataan ini, mari kita berefleksi:

Pertama, apakah kita sungguh menjadikan Yesus sebagai Sahabat kita? Sungguhkah kita rela membuka hidup kita kepada-Nya? Mempercayakan hidup kita kepada-Nya? Acapkali banyak orang saat ini lebih mudah curhat di sosial media daripada membuka hidupnya kepada Allah. Respons like, comment dari orang lain menjadi kesenangan yang menyita waktu dan perhatian, hingga akhirnya kehilangan waktu untuk membuka hidupnya di hadapan Allah Sang Sahabat Sejati. Jari tangan lebih mudah menekan tombol layar pada smartphone dibandingkan untuk terkatup memanjatkan kata pada Allah (doa). Mungkin juga kita perlu bertanya pada diri sendiri: ketika kita menghadapi masalah, siapa yang pertama-tama kita temui? Para ahli (keuangan, hukum, dll.), informasi dan aplikasi di telephone genggam kita, atau Allah?

Kedua, apakah kita mau meneladani sikap Allah yang mau mengubah kita yang semula “asing” (jauh dari Allah karena dosa kita) menjadi sahabat-Nya? Dalam ayat 15 tadi kita melihat bahwa Allah yang Mahatinggi, Pencipta semesta berkenan menyebut kita sahabat-Nya, bukan hamba-Nya. Ia menganggap diri kita bukan dengan relasi “top-down”, tapi dengan relasi persahabatan. Dari pernyataan ini kita belajar untuk dapat “menyahabati” orang asing. Kita diundang untuk keluar dari stereotip: bergaul hanya dengan satu agama, satu suku, satu golongan, satu pemikiran, dst. Melihat perbedaan sebagai kekayaan. Sehingga dalam tekanan diskriminatif pada orang yang berbeda, kita diajak untuk merangkul dan menerima mereka. Contohnya, bila di sekitar kita ada stigma / batasan “Kost khusus untuk agama….”, “Suku … dilarang tinggal di daerah ini”, dan lain-lain kita justru mau menerima dan bersahabat dengan mereka yang disingkirkan oleh stigma tersebut. Kita tidak hanya bergaul / bersahabat dengan mereka yang memiliki kesamaan dengan kita, tetapi mereka yang memiliki perbedaan dengan kita.

Semoga dari kisah ini kita belajar untuk dapat menjadikan Kristus sebagai sahabat kita yang sejati (mengandalkan Dia), dan dapat menjadikan orang asing sebagai sahabat sebagaimana Allah melakukannya pada kita. AMIN. (GPP)