Dengarkanlah Dia, Pasti Hidupmu Bahagia

Bacaan:

Tanggal 26/27 Februari 2022

Bacaan hari ini dalam Lukas 9:28-39 menceritakan tentang Yesus yang naik ke sebuah gunung bersama murid-murid terdekat-Nya (Petrus, Yohanes, Yakobus). Disanalah para murid takjub melihat transfigurasi (perubahan wujud) Yesus. “rupa wajah-Nya berubah dan pakaian- Nya menjadi putih berkilau-kilauan.” (ay.29). Ditambah lagi dalam penampakan tersebut Yesus ditemani oleh dua sosok hebat dalam sejarah : Musa, pemimpin terbesar umat Israel dan Elia, nabi terbesar bangsa Israel. Namun, rupanya Petrus gagal paham dengan penampakan tersebut. Ia mengira bahwa kemuliaan Allah itu dapat ia “abadikan” lebih lama dengan berniat mendirikan tiga tenda : bagi Yesus, Musa dan Elia. Ia terpikat dengan kemuliaan di atas gunung itu dan ingin mendekap kemuliaan Allah secara eksklusif untuknya sendiri. Sementara kita membaca bahwa kemuliaan yang Allah maksudkan adalah ketika dalam ayat ke 31 : Yesus “diteguhkan” oleh Musa dan Elia untuk menunjukkan kemuliaan Allah bagi semua orang dengan berjalan ke Yerusalem, melayani, menderita dan mengorbankan diri-Nya di kayu salib.

Dalam kegagalan memahami kemuliaan Allah itu, para murid seolah didekap oleh Allah dengan mendatangkan bagi mereka awan yang menaungi mereka. Awan sendiri seringkali digunakan untuk mengungkapkan kehadiran Allah (ingat tiang awan yang menyertai perjalanan bangsa Israel ke tanah Kanaan). Di dalam awan itu, terdengarlah suara “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Kata dengarkanlah dalam bahasa asli (Yunani : ἀκούω ) berarti mendengarkan, memperhatikan, menerima perintah dan menaati. Peristiwa transfigurasi yang dikisahkan Injil Lukas bukan semata menitikberatkan pada peristiwa perubahan wajah Yesus dalam kilau kemuliaan-Nya, melainkan bercerita tentang jalan setia dan taat kepada Sang Bapa yang membuahkan kemuliaan.

Oleh karena itu jangan takut ketika kita harus menempuh jalan terjal sengsara dan derita. Allah menyertai melalui kehadiran-Nya yang digambarkan oleh selimut awan itu mampu merangkul dan merengkuh, menguatkan kita. Di dalam lagu “Percaya dan Taat” (1887), John H. Sammis menulis, “Apa yang Ia perintahkan untuk kita lakukan, ke mana Ia mengutus kita akan pergi; jangan takut, percaya dan taat, tidak ada cara lain untuk bahagia di dalam Yesus, tetapi untuk percaya dan taat.” Kata-kata tersebut meringkas tujuan Tuhan untuk hidup kita. Pada praktiknya, percaya dan taat kepada Tuhan bukanlah hal yang mudah. Kita merasa seolah-olah kita berjalan dengan Tuhan — sampai tiba-tiba Tuhan membuat perubahan arah dalam hidup kita dan membuat kita takut. Pada saat itulah kita mulai berusaha mendengarkan suara Tuhan, memahami maksud hati Tuhan. Sampai akhirnya kita terkesima dengan maksud Tuhan bagi kita. Sebab kita tahu bahwa percaya dan taat kepada Tuhan merupakan satu-satunya pilihan bagi kita, karena Tuhan Mahatahu dan dapat dipercaya.

“We won’t want to obey God if we don’t first trust Him. We won’t trust Him if we don’t love Him, and we can’t love Him if we don’t know Him.” —Ken Boa (“Kita tidak akan mau menurut pada Tuhan jika kita tidak mempercayai-Nya dulu. Kita tidak akan mempercayai-Nya jika kita tidak mencintai-Nya, dan kita tidak dapat mencintai-Nya jika kita tidak mengenal-Nya [dan mendengarkan-Nya]).” (GPP)