Damai di Tengah Kekalutan

Bacaan:

Tanggal 24 April 2022

Setelah Tuhan Yesus disalib, para murid berada pada situasi traumatis. Bayangan-bayangan penyaliban menari-nari di benak para murid. Hal itu dirasakan secara kolektif, sehingga saat mereka berjumpa, pertemuan mereka dalam suasana batin penuh ketakutan. Alasan para murid takut adalah karena orang-orang Yahudi masih memusuhi mereka. Pintu-pintu yang terkunci menjadi bukti dari ketakutan. Ketakutan benar-benar membuat kalut dan melumpuhkan mereka. Dalam suasana batin yang kalut, kabar kebangkitan yang sudah disampaikan oleh Maria Magdalena tidak dapat diterima. Kabar kebangkitan itu belum menghilangkan rasa takut di dalam hati mereka. Itulah makna ketakutan yang membuat para murid mengalami pengalaman traumatis.

Dalam keadaan murid-murid yang kalut dan takut, Yesus datang. Kepada para murid, Yesus menyampaikan salam,”Damai sejahtera bagi kamu!” Damai (Yunani: eirene, Yahudi: shaloom) adalah salam yang biasa diucapkan di antara orang-orang Yahudi.  Untuk meyakinkan bahwa Yesus benar-benar hadir di hadapan para murid, Ia menunjukkan tangan dan lambung-Nya (ay. 20). Dengan menunjukkan tangan dan lambung yang terluka itu Yesus mendemonstrasikan konsep kebangkitan tubuh.

Salam damai sejahtera diulangi lagi oleh Yesus (ay. 21).  Mengapa salam itu diulangi? Apakah para murid belum percaya dengan kebangkitan Yesus?  Jika kita mencermati dengan seksama, pengulangan itu dinyatakan Yesus bukan karena mereka ragu dengan Yesus. Tema percakapan Yesus pada para murid setelah Ia menyampaikan salam adalah tentang perutusan. “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikianlah sekarang Aku mengutus kamu” (ay. 21). Para murid akan diutus oleh Yesus seperti Ia diutus oleh Bapa.

Setelah menyampaikan perutusan-Nya, Ia menghembusi para murid dengan Roh,”Terimalah Roh Kudus” (ay. 22). Kata “menghembusi” yang digunakan oleh Yesus mengingatkan kita pada kisah penciptaan. Dalam penciptaan, Allah menghembuskan nafas hidup kepada Adam sehingga ia hidup (Kej. 2:7). Kata ini juga mengingatkan kita pada peristiwa yang terjadi dalam kitab Yehezkiel. Kala itu Yehezkiel melihat hembusan roh atas tulang-tulang kering rakyat Israel. Hembusan roh itu menghidupkan tulang-tulang kering (Yeh. 37:9). Dengan hembusan yang sama, Yesus memberikan daya, pengharapan baru kepada para murid.

Setelah menghembusi para murid dengan Roh, Yesus menyampaikan pada mereka supaya hidup dengan saling mengampuni. Kekuatan untuk mengampuni dan menyatakan dosa orang tetap ada secara langsung dikaitkan dengan hembusan Roh Kudus. Pengampunan diberikan bersamaan dengan penerimaan. Namun jika seseorang menyatakan dosa (sesama) tetap ada, ia belum menerima sesamanya. 

Berita Alkitab pada hari ini mengajak kita melihat makna dari perjumpaan yang mengubah. Akibat dari perjumpaan itu terjadi perubahan dalam diri pada murid, yaitu:

  • Pertama, para murid mengalami damai sejahtera Allah. Damai sejahtera diberikan kepada murid-murid-Nya. Damai sejahtera membuahkan kesukacitaan dan mengenyahkan rasa takut.
  • Kedua, perjumpaan dengan Yesus memantabkan perutusan Yesus kepada murid-murid-Nya. Perutusan-Nya tetap berlanjut hingga kini. Perutusan yang dibawa para murid terkait dengan damai sejahtera dari Yesus.
  • ketiga, perjumpaan itu membuat para murud menerima kekuatan baru dari Roh. Para murid yang mengalami kesukacitaan mendapat hembusan Roh agar senantiasa memiliki semangat baru.
  • Keempat, perjumpaan menjadikan para murid menjadi utusan agar hidup dalam pengampunan. Hidup dalam pengampunan bermakna menerima pengampunan dan membagikan pengampunan. Murid-murid Yesus harus menyatakan kehendak Yesus, sang pengutus dengan hidup saling mengampuni. Dengan menyatakan pengampunan, kebangkitan Yesus benar-benar dirasakan oleh para murid.

Dalam kehidupan masa kini, pesan Yesus sangat relevan untuk semua. Ia yang bangkit menyatakan damai sejahtera. Karena itu, alami dan rasakanlah damai sejahtera yang diberikan-Nya. Di masa kini, umat Allah memiliki kebermaknaan hidup dengan menjadi utusan-utusan Allah melalui hidup dalam perjumpaan dengan Yesus yang bangkit.