BINTANG UTAMA YANG HADIR BAGI DUNIA

Bacaan:

 
 

Tanggal 12/13 Desember 2020

Menjadi populer dan terkenal mungkin merupakan dambaan banyak orang. Sebab ada banyak keuntungan yang dapat diraih melaluinya. Popularitas bisa mendongkrak kesempatan meraih hidup makmur, harta melimpah, kehormatan bahkan juga kekuasaan. Penduduk sipil yang tanpa sengaja beritanya viral di dunia maya, dalam sekejap bisa menjadi selebriti dunia hiburan (selebgram, artis youtube, konten kreator, dsb), diundang diberbagai media, mendapat banyak uang karena menjadi bintang iklan. Perlombaan memiliki banyak followers/subscribers dan menjadi populer agaknya sesuatu yang lumrah terjadi dari zaman Yesus hingga zaman sekarang. Namun pertanyaannya siapa sesungguhnya yang harus kita populerkan?

Bacaan hari ini menceritakan tentang Yohanes Pembaptis. Ia adalah seorang rabi dan penginjil yang berpengaruh saat itu. Banyak orang datang ke tempatnya di padang gurun untuk menerima baptisan. Begitu populernya ia, hingga tokoh-tokoh agama datang bersama- sama bertanya kepadanya. Beberapa imam (pemimpin peribadahan), orang Lewi (suku Israel yang mengelola bait Allah) hingga orang Farisi bertanya padanya: apakah ia adalah Mesias? Apakah ia adalah nabi? Bagaimana ia membaptis? Tentunya pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat strategis untuknya. Jika saja ia menjawab ‘ya, akulah mesias’, maka ia akan semakin ternama, diistimewakan, dihormati, dipermudah segala karyanya. Tetapi Ia menjawab: ia bukanlah Mesias, bukan juga nabi. Ia hanyalah suara yang membawa banyak orang siap menyambut kedatangan sang Mesias. Pernyataan ini seolah ingin mengarahkan pendengarnya bahwa yang sedang ia populerkan bukanlah dirinya, tetapi sang Mesias sejati, Yesus Kristus. Semua yang ia lakukan bukanlah tentang dirinya, tetapi tentang Allah. Dengan demikian ia melakukan karya dengan “nothing to lose”, tanpa beban, sehingga ia melakukannya dengan hati yang ringan dan sukacita.

Dari kisah ini kita diajak untuk meluruskan segala motivasi kita dalam berkarya. Apakah segala yang kita lakukan hanya sekadar eksistensi diri (supaya diakui, dipandang hebat, mulia, memperoleh keuntungan, dll.)? Jika demikian, sekali karya tersebut gagal/terhambat, maka kita akan merasa kecewa bahkan menyalahkan Tuhan. Apakah segala karya kita hanya untuk memuaskan hati dan telinga manusia? Jika demikian kita akan merasa lelah mendengarkan komentar orang lain. Sebab kita tidak bisa memuaskan semua orang. Atau apakah segala karya kita hanyalah sebuah rutinitas kaku yang terus terjadi? Maka kita adalah orang paling naas di dunia, yang melakukan segala sesuatu secara terpaksa, dikendalikan oleh kebiasaan dan aturan. Tetapi jika kita berkarya untuk menceritakan kebaikan Tuhan, dimotivasi oleh kekaguman kita akan kasih Tuhan, maka karya itu tidak akan membuat kita bersukacita dan berbuat baik tanpa merasa lelah. Bahkan, kita akan bersyukur diperkenankan Tuhan untuk berkarya bagi keluarga, gereja, dunia kerja, masyarakat dan memandangnya sebagai panggilan kehormatan. (GPP)