BIJAKSANA DAN ANTISIPATIF

Bacaan:

 
 

Tanggal 7/8 November 2020

Membaca, memperkirakan kapankah datangnya Kerajaan Allah, atau yang sering kita sebut sebagai “Hari Tuhan”, hari kedatangan Tuhan Yesus kembali, hari kiamat, sering membuat kita cemas, takut dan ngeri. Tidak ada yang tahu kapan dan harinya. Apalagi jika menyimak berbagai macam prediksi yang mungkin terjadi saat akhir zaman memang sungguh mengerikan. Berbagai film pernah mengilustrasikannya secara menarik. Misalnya saja film-film “2012”, “end of days”, “knowing”, “day after tomorrow”, dll. Film-film ini bukan tanpa alasan, tetapi bahwa secara sains, ada probabilitas bahwa hari kiamat bisa terjadi misalnya karena serangan asteroid ganas ke bumi, terjadinya badai matahari, meletusnya perang dunia ketiga dengan kekuatan nuklir negaranegara adidaya yang saling beradu, gunung meletus secara bersamaan, dsb. Beberapa dari film itu diangkat dari kepercayaan tertentu: 2012 misalnya, diangkat dari kepercayaan suku Maya, atau film Knowing diangkat dari penafsiran Alkitab yang meyakini adanya hari pengangkatan saat akhir zaman. Hanya orang-orang terpilih yang terhindar dari kehancuran bumi akibat badai matahari.

Apakah film-film ini kelak akan terjadi? Siapa yang tahu? Mungkin saja. Realita hidup kita hari-hari ini mungkin memperkuat alasan tersebut. Bencana beberapa tahun terakhir terus terjadi di Indonesia yang berada dalam Ring of Fire (cincin api Asia Pasifik) di mana lempengan dasar bumi akan bergerak terus mengakibatkan gempa bumi, gunung berapi yang aktif, tanah longsor, dan tsunami yang melanda negeri ini beberapa tahun terakhir. Pandemi Covid 19 juga masih kita hadapi sampai hari ini. Berbagai prediksi bahkan menyatakan bahwa kemungkinan pandemi suatu saat akan digantikan dengan Epidemi (wabah penyakit yang berlangsung dengan durasi lebih lama
dari pandemi).

Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kita harus memandang hal ini?

Hari ini kita belajar bagaimana kita harus bersikap dalam menantikan kedatangan Tuhan melalui bacaan Matius 25:1-13 dalam kisah 5 gadis bijaksana dan 5 gadis bodoh. Dalam tradisi pernikahan umat Yahudi, suatu pesta pernikahan biasanya digelar secara meriah. Mempelai pria memang akan datang ke tempat mempelai wanita tanpa diduga sebagai surprise. Oleh karena itulah mempelai wanita akan memanggil sahabat-sahabat dan kerabat-kerabat wanitanya (10 gadis) untuk menyambut mempelai pria di jalan-jalan dengan pelita yang banyak: sebagai simbol kemeriahan dan terang bagi jalan sang mempelai pria menuju tempat mempelai wantia. Tetapi di sanalah sebenarnya para sahabat ini diuji: siapa yang sungguh-sungguh setia kawan dan sungguhsungguh menyambut pesta sepenuh hati atau sekadar menjalaninya dengan keterpaksaan tanpa persiapan. Pada akhirnya kita tahu bahwa 5 gadis bodoh tidak ikut dalam pesta sebab tidak mempersiapkan minyak yang cukup untuk menyambut mempelai pria.

Apa arti dari kisah ini? Mempelai pria sebenarnya menggambarkan Kristus. Ia mengikat diri dengan mempelai wanita yaitu Gereja-Nya yang esa dan universal. Ia ingin melimpahkan kasih, kehidupan, keselamatan bagi gereja-Nya di dunia (persekutuan orang-orang percaya di seluruh dunia). Tetapi selain kedua mempelai tersebut, ada 10 Gadis yaitu kita semua, orang-orang yang diundang untuk ikut dalam pesta kebahagiaan Kristus dan gereja-Nya. Orang yang diberi anugerah Tuhan untuk turut menjadi bagian dalam keselamatan-Nya. Tetapi kenyataannya dalam undangan kebahagiaan dan keselamatan itu, di antara kita: ada yang bijaksana, yang mempersiapkan diri sungguh-sungguh menyambut Kristus, melayakkan diri, memulai hidup baru, memenuhi pelita kita agar terus bersinar dengan minyak yang mencukupi. Mengapa? Karena kita begitu mensyukuri keselamatan yang kita terima, kita ingin mengungkapkan kebahagiaan mereka karena mereka sudah dilibatkan dalam pesta tersebut! Tetapi ada juga di antara kita yang tak sadar menjadi gadis yang bodoh: yaitu orang-orang yang tidak mempersiapkan apa-apa menyambut kedatangan Kristus. Sebelum kita masuk sebagai kerabat mempelai wanita (bagian dari gereja Tuhan, menjadi orang percaya pada Kristus) maupun sesudahnya, kita tidak tergerak untuk mempersiapkan diri, memulai hidup baru, memberikan sesuatu untuk mempelai wanita (gereja Tuhan / umat Tuhan) – tidak ada yang berubah dari diri kita. Mengapa? Karena pertama, bisa jadi sebenarnya kita tidak sungguh-sungguh mengenal, mengasihi ataupun memiliki relasi mendalam dengan mempelai wanita ataupun mempelai pria! Kedua, kita menganggap undangan untuk masuk ke dalam pesta ini adalah sebagai sesuatu hal yang biasa, tidak berharga. Artinya mereka menganggap kasih Tuhan, anugerah Tuhan itu “take it for Granted” (sesuatu yang sudah seharusnya mereka terima), sehingga mereka hidup sesuka hati. Sampai akhirnya kita menyesali tidak dapat masuk dalam kebahagiaan keselamatan yang seharusnya diberikan kepada kita.

Dengan demikian apa yang harus kita lakukan?

  1. Memandang kedatangan Tuhan bukan tentang kapan waktunya, karena waktu-Nya adalah rahasia Tuhan.
    Karena Markus 13:32 pun mencatat demikian :
    Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja.
    Karena itu kita tidak perlu menduga-duga kapan akhir zaman itu tiba, mengkait-kaitkan situasi kekacauan, bencana dengan prediksi bahwa akhir zaman itu sebentar lagi tiba. Tugas kita bukan khawatir tentang kapan waktu yang mungkin terjadi. Juga jangan gentar terhadap kesulitan, penderitaan hidup, tanda-tanda akhir zaman, bencana, dst.
  2. Mempergunakan waktu hidup di dunia yang begitu terbatas dengan bijaksana : terus berbuat baik demi menyambut sang mempelai pria, yaitu Kristus. Dalam kisah ini, para sahabat mempelai wanita (10 gadis) bertugas untuk menerangi jalan menuju tempat pertemuan mempelai pria dan mempelai wanita (Tuhan dan gereja-Nya). Setiap orang yang melintasi tempat tersebut atau menuju tempat tersebut pasti juga memperoleh berkat dari perbuatan baik mereka tersebut. Mereka memperoleh penerangan sampai akhirnya dapat berjalan sampai pada tempat bersatunya mempelai wanita dan mempelai pria. Dengan demikian, kita diajak untuk menantikan Kristus dengan terus berupaya bertambah-tambah dalam perbuatan kasih yang nyata (menyalakan pelita, mempersiapkan diri dengan minyak kasih, kebenaran, damai sejahtera) sehingga setiap orang yang bertemu dengan kita memperoleh penerangan dan petunjuk supaya mereka dapat bertemu dan berbahagia bersama dengan Tuhan dan gereja-Nya dalam hidup yang kekal.

Konkretnya, dalam masa kini: daripada kita khawatir akan tanda-tanda zaman, mengapa kita tidak percaya dan fokus berkarya? Bapak gereja reformasi, Martin Luther, dalam situasi dunia yang tidak menentu, pernah satu kali diminta nasehatnya: jika hari Tuhan, akhir zaman akan terjadi esok hari, apa yang harus kami lakukan Pak? Ia menjawab: “Tanamlah pohon.” Dengan kata lain, Martin Luther ingin mengatakan: jangan gelisah memikirkan dunia yang tidak menentu, apa kiamat segera terjadi. Lebih baik fokus pada hari ini. Lihat secara positif. Tetap menanam pohon, tumbuhkan harapan. Supaya hari esok pohon yang kita tanam lebih sehat, mengeluarkan buah, dan membuat kehidupan lebih baik karena kita terus berbuat baik bagi dunia! (GPP)