BERSYUKURLAH DAN JADILAH KABAR BAIK BAGI DUNIA

Bacaan:

 
 

Tanggal 6/7 Juni 2020

Seorang ibu bersyukur (dan bersaksi) di depan sebuah persekutuan tentang kasih Tuhan yang sangat ia syukuri, sebab pada waktu lampu di rumahnya padam, ketika ia berniat mencari lilin disebuah laci, tanpa sengaja justru menemukan uang Rp. 10.000,- dan sungguh ia sangat bersyukur, karena malam itu ia belum dapat memberi anaknya makan, mengingat keadaan keuangan mereka, Rp. 10.000,- itu menyelamatkan keluarganya malam itu… Mungkin kita heran, mengapa hanya karena uang Rp. 10.000 ia bisa bersyukur? Bukankah esok ia masih kekurangan juga? Bukankah nilainya itu terlalu kecil?

Memang bersyukur itu “tidak mudah”, seringkali kita sulit sekali bersyukur, karena mungkin kita baru bisa bergembira ketika berkat besar kita terima, hal-hal besar terjadi barulah bisa menyenangkan kita. Tetapi bagaimana agar kita bisa terus bersyukur, bahkan bersyukur atas hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup kita? Bagaimana rasa syukur mengubah hidup kita menjadi bahagia, kuat, semangat, optimis dan produktif dengan karya kasih?

A. Bersyukur akan “tumbuh makin memenuhi hati/hidup kita” ketika kita merasa bahagia boleh menjadi berkat buat dunia sekitar kita. Keluaran 23:10-13, mengajak kita menguasai dan mengendalikan “keinginan dan kebiasaan hanya memikirkan diri sendiri”, menjadi memikirkan juga (peduli) orang-orang lain. Dalam Keluaran 23:10-13 kita diajak memberi hari istirahat (1 hari dalam seminggu) bagi mereka yang lemah, para pekerja yang telah lelah bekerja pada kita. Juga memberi istirahat pada tanah yang biasanya menjadi “tanah garapan yang menguntungkan kita”, memberi tanah istirahat 1 tahun setiap 7 tahun digarap, supaya alam beristirahat dan pulih kembali, supaya binatang-binatang di dalamnya hidup sehat, cukup makan, karena ekosistem dipulihkan kembali.

B. Bersyukur akan “makin memenuhi hati/hidup kita” ketika kita tahu cara menikmati berkat Tuhan. Sebab banyak orang yang diberkati Tuhan dengan segala sesuatu, tetapi tidak bisa menikmati berkat tersebut, karena salah cara menghayati, kadang malah berkat Tuhan tersebut merusak dirinya. Cara sederhana untuk menikmati hidup adalah dengan belajar dari saat kita makan ikan, kita pasti akan memilih daging ikan yang bergizi untuk kita makan, dan membuang duri-durinya ke sampah (tidak ikut kita makan) bukan? Segala hal baik mestinya kita ingat dan syukuri, tetapi segala macam duri (kepahitan, kelemahan orang lain), mestinya tidak perlu kita ingat-ingat lagi. Tetapi semua kebaikan orang harusnya selalu kita ingat-ingat betul (kita catat dalam “tugu kebaikan”), itu membangun hubungan yang positif dengannya dan membangun jiwa kita menjadi dipenuhi segala hal yang positif juga.

C. Bersyukur akan “makin memenuhi hati/hidup kita” ketika kita ikut mengisi “piring-piring” sesama kita yang lemah (berkekurangan). Kebiasaan berbuat baik yang konsisten pada seseorang (atau pada alam sekitar), akan menumbuhkan rasa syukur dan bahagia yang makin kuat, seperti seorang ibu yang secara konsisten melayani anak-anaknya, maka dihatinya makin dipenuhi rasa cinta dan bahagia!

D. Hubungan dengan Tuhan semakin menghidupkan rasa bahagia dan sukacita kita, ketika kehadiran Tuhan mengubah suasana hati kita, yaitu saat kita benar-benar menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita, dan benar-benar mau diubah, dipengaruhi dan dipimpin oleh Tuhan yang hadir dalam hidup kita. Lukas 4:18-19 “Roh Tuhan ada padaku”, menjadikan diri Yesus (dan kita pengikut-Nya) menjadi Kabar Baik, Pembawa rahmat Allah kepada dunia. Kehadiran Tuhan akan menjadi energi yang maha dahsyat menyemangati hidup kita, menggelorakan kita untuk menggebu-gebu berbuat kebaikan, mengobarkan semangat kita untuk melayani, menguatkan kita untuk berani berkorban dan mengampuni.

Semuanya tadi membuat kita penuh dengan rasa syukur yang mendalam, dan rasa syukur tersebut akan menggelora menjadi kebahagiaan tak terkira, menjadi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi segala sesuatu. Membuat kita makin akrab dan cinta pada Tuhan dan juga pada pasangan, pada keluarga dan pada sesama kita, bahkan pada semua makhluk/alam/binatang di sekitar kita. Puji Tuhan. Amin. (PL)