Berhentilah Menyerap Sesamu!

Bacaan:

Tanggal 17/18 September 2022

Uang bukanlah segala-galanya, tetapi segala-galanya membutuhkan uang! Tidak sedikit orang berlomba mencari uang atau bahasa bekennya “cuan”! Karena dengan “cuan” seseorang dapat membeli apapun dan melakukan apapun! Kecintaan seseorang terhadap uang juga seringkali membutakan mata orang! Segala cara dihalalkan yang penting dapat “cuan”.

Apa yang terjadi pada jaman Amos??

  1. Monopoliperdaganganolehsekelompokorang.
    Amos 8:4 “Dengarlah ini, kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan yang membinasakan orang sengsara di negeri ini. Demi keuntungan, demi uang mereka tega: menginjak orang miskin dan membinasakan orang sengsara! UANG JADI MAMON, SESAMA DIABAIKAN! IRONIS karena apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan ajaran yang mereka terima! Memprihatinkan, tidak sedikit orang yang masih tega dan berani melakukan kecurangan, ketidakjujuran tanpa rasa takut apalagi merasa berdosa.
  2. SPIRITUALITASPRANK(Amos8:5a)
    Artinya, berbagai ritual keagamaan tetap dilakukan, tapi itu semua bohong! Karena pada kenyataannya:
  • Mereka mengganggap ritual keagamaan sebagai pengganggu mereka dalam mencari uang. Mereka berharap ritual keagamaan tersebut segera berlalu agar mereka bisa segera kembali mencari “cuan”.
  • Ritual keagamaan mereka tidak berbanding lurus dengan keseharian. Hidup mereka penuh penindasan, ketidakadilan, ketidakjujuran!! Apa yang mereka lakukan? Mereka menggunakan timbangan dengan ukuran yang tidak benar. Berdagang terigu, tetapi dengan mengecilkan efa dan membesarkan syikal. Amos 8:5 “…Bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu supaya kita boleh menawarkan terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal”

Bagaimana dengan kita ketika kita beribadah, berdoa, berpelayanan? Apakah sungguh hati dan pikiran kita tertuju (fokus) pada Dia? Apakah hidup keagamaan kita berbanding lurus dengan perilaku kita?

  1. Kehilanganrasakemanusiaan
    Mereka bukan hanya tidak mempedulikan orang miskin, mencurangi, namun yang lebih parah mereka tega memperbudak dan mengorbankan sesama demi uang. Mereka menilai sesamanya hanya dengan harga “sepasang kasut” Amos 8:6 “Supaya kita membeli orang lemah karena uang dan orang yang miskin karena sepasang kasut dan menjual terigu rosokan.

Bagaimana Tuhan melihat hal ini? Tuhan sangat jijik! Karenanya Tuhan tidak akan tinggal diam, artinya Tuhan akan bertindak, menegakkan keadilan bagi mereka yang tertindas. Amos 8:7 “…Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!” Mari kita instrospeksi diri kita masing-masing, apakah kita hidup dengan kejujuran, kepedulian, keadilan, kasih, solidaritas? (RIW)