Benar-Benar Tidak Sempurna

Bacaan:

 

Tanggal 30/31 Oktober 2021

Mari kita menyadari bahwa diri kita “Perfectly Imperfect” – Benar-benar tidak sempurna atau banyak kekurangan/kelemahannya. Demikian juga dengan orang lain, baik pasangan, keluarga, teman / sahabat dan sesama kita, tidak ada seorangpun yang sempurna. Namun jangan jadikan “kelemahan orang lain” menjadi alasan kita untuk merendahkan orang lain, dengan “merasa diri paling baik / berjasa / berkorban”. 

Ada juga orang yang suka bersikap “playing victim” (bersikap seolah-olah dirinya adalah korbannya, dirinya orang yang paling menderita /malang dalam hidup bersama orang lain). Sikap “playing victim” seperti ini justru akan merusak konsep diri kita, merusak juga hubungan kita dengan pasangan, sesama dan masyarakat sekitar kita. Dengan bersikap seperti itu kita tidak akan pernah bersukacita dan bahagia.

Agar kita dapat hidup sehat dan berbahagia, maka kita diajak untuk bersikap bijak, yaitu: memandang kehidupan dari “sudut pandang” kasih karunia Allah dalam Kristus Yesus yang begitu nyata kepada kita. Roma 5:6-10, Tuhan Yesus bersedia menderita dan memikul dosa kita sampai Ia mati, segala kelemahan dan dosa kita dipikul dan diampuni-Nya. Tuhan Yesus sebenarnya tidak harus menderita, karena Ia tidak berdosa, namun karena kasih, justru Yesus berkorban untuk menyelamatkan dunia. Ia korban dari dosa / kejahatan dunia.

Cara pandang yang sehat dalam bersikap pada sesama kita adalah dengan “cara pandang penuh syukur atas kasih karunia Allah” yang telah menyelamatkan kita melalui karya Tuhan Yesus Kristus.

Sudut pandang “penuh syukur atas kasih karunia” ini akan membuat kita tegar, kuat, tekun, tahan uji dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Sikap Rut yang setia pada Naomi, mertuanya yang sedang berduka, sungguh teladan sikap yang bijak dan penuh dengan kasih, walau Rut sendiri sedang berduka karena suaminya terkasih telah meninggal, namun karakter mulia dari hati yang penuh kasih membuat Rut memilih berkomitmen untuk tinggal dan menemani mertuanya sampai akhir hidupnya. Sikap inilah yang mempertemukan dia dengan Boaz, seorang pengusaha yang rendah hati dan baik hati.

Jadi walaupun kita tidak sempurna, bahkan banyak sekali kelemahannya, kita masih dapat membahagiakan orang-orang di sekitar kita… walaupun pasangan dan keluarga kita juga tidak sempurna, mereka adalah orang-orang yang dipakai Tuhan untuk membahagiakan kita… Mari kita dengan kasih yang tulus saling menerima ketidaksempurnaan/kekurangan satu sama lain, dan justru menjadikannya daya dorong untuk saling melayani, saling melindungi, saling mengampuni dan bersama-sama melayani Tuhan dan sesama. Amin. (PL)