Belajar Bijak Finansial dari Dunia Binatang

Tanggal 22/23 Oktober 2022
Nats: Amsal 30:24-28

Ancaman resesi global 2023 ada di depan mata, tahun 2023 dikatakan akan gelap! Pernyataan-pernyataan ini banyak kita baca dan dengar akhir-akhir ini. Berbagai sumber memang menyarankan agar kita memiliki persiapan finansial yang baik menyongsong tahun 2023, sebab diperkirakan laju inflasi akan tinggi, terjadi fenomena strong dollar, krisis pangan hingga perang di antara negara-negara dunia. Betulkah itu? Tidak ada seorang pun yang tahu. Tetapi sebagai orang beriman, selayaknya kita memiliki persiapan yang baik demi kelangsungan hidup pribadi maupun keluarga kita. Persiapan seperti apa yang kita butuhkan untuk bisa menghadapi hal ini?

Empat poin petuah bijak dari Amsal 30: 24-25 kiranya memperlengkapi kita: “Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan:

(1). “Semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas“ – Amsal 30: 25

Walaupun semut ini dikatakan lemah, penulis Amsal menyebutnya bijak, karena semut tahu kapan waktunya untuk bekerja dan mengumpulkan makanannya untuk persediaan. Bayangkan saja, jika semut tidak bekerja pada musim panas dan menampung makanannya untuk persiapan dimusim hujan; yang mana dimusim tersebut mereka tidak bisa bekerja! Semut akan mati karena tidak bisa mencari makanan. Jadi, sikap mengantisipasi hari depan ada dalam perilaku semut. Dan untuk mengantisipasi peristiwa berbahaya (musim hujan itu), mereka bekerja dengan rajin, selalu bekerjasama, bergotong royong, beriringan. Mereka adalah serangga sosial yang bekerja bersama secara terorganisir.

Belajar dari semut ini, maka kita diajak untuk bisa mengantisipasi masa-masa sulit dengan memiliki persediaan yang baik. Kita diajar untuk dapat bekerja dengan rajin, bersama-sama, tidak individual tetapi “team work”. Ada sebuah pepatah mengatakan: “if you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together.” Bila kita ingin dapat melewati masa sulit, maka kita perlu bekerja dengan rajin, terorganisir dan mau bekerjasama. Sudahkah kita mempraktikkan nilai-nilai ini dalam dunia pekerjaan kita, dunia studi dan keluarga dan pelayanan kita?

(2). “pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu,” – Amsal 30:26

Pelanduk adalah binatang kecil, lemah dan mangsa yang empuk bagi hampir semua jenis hewan pemakan daging. Tetapi pelanduk diistimewakan, karena ia cekatan dalam mencari tempat perlindungan. Pelanduk menyadari kelemahannya sekaligus mengetahui kekuatan sebuah bukit batu yang bisa menjamin keamanannya untuk berlindung bila bahaya datang, supaya tidak ada satu binatang buas pun yang sanggup merobohkan bukit batu untuk memangsa mereka. Pelanduk mengerti tentang pentingnya suatu perlindungan yang teguh.

Dalam dunia pengembangan diri dan finansial, kita perlu menyusun perencanaan dan perlindungan keuangan, agar keluarga kita dapat menghadapi ancaman dan marabahaya. Bagaimana caranya? Beberapa finansial advisor memberikan saran perlindungan keuangan menghadapi tahun 2023 :

  • Kelola pemasukan dan pengeluaran kita. Konsentrasi pada apa yang dibutuhkan, kurangi bahkan hentikan kebiasaan konsumtif yang tidak perlu.
  • Miliki dana cadangan sebesar 6x-12x penerimaan bulanan kita, karena kita tidak tahu apa yang terjadi secara persis ditahun yang akan datang. Apakah akan ada situasi seperti pandemi yang lalu: bisnis seret, perusahaan harus melakukan PHK, dll. Kita tidak berharap ini terjadi pada kita. Tetapi seandainya itu terjadi, kita memiliki dana untuk bertahan selama 6 bulan-12 bulan (½-1 tahun) sambil mencari peluang yang lain. Ingat bagaimana Yusuf mengelola Mesir agar terhindar dari kelaparan panjang selama 7 tahun, ia mengumpulkan makanan / berkat Tuhan yang memadai.
  • Secara mudah kelola penerimaan bulanan dengan panduan-panduan umum, seperti: dari 100% penghasilan/uang bulanan kita, bagilah menjadi: 10+20+30+40. 40% digunakan untuk operasional (kebutuhan rutin), 30% untuk mengangsur kredit yang menghasilkan, misalnya: mencicil rumah agar bisa disewakan (menghasilkan), 20% untuk menabung (dana cadangan), 10% untuk melakukan hal baik, misalnya disiplin rohani dengan membantu orang lain / memberi persembahan persepuluhan.
  • Miliki penghasilan / pekerjaan sampingan untuk berjaga-jaga, jikalau sesuatu terjadi pada pekerjaan utama kita, kita tetap akan dapat bertahan dalam perubahan situasi.

Sebagian orang mungkin berkata: ah jangan khawatir, kan ada Tuhan. Tuhan pasti menjaga. Tuhan menjaga tentu benar, tetapi Tuhan juga menjaga kita menggunakan akal budi, intelektual dan hikmat kita mengelola apa yang kita miliki. Firman Tuhan katakan: “Janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu.” (Mat. 4: 7). Artinya Jangan kita mengandalkan Tuhan, tapi hidup sembrono. Itu seperti yang firman Tuhan katakan: iman tanpa perbuatan adalah mati (tak berguna, sia-sia) – Yakobus 2:17.

(3). “Belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur,” – Ams. 30:27

Belalang yang tidak punya raja saja ternyata bisa teratur, sedangkan kita yang memiliki Raja di atas segala raja, seringkali malah hidupnya tidak teratur, tidak mau diatur bahkan kadang tidak punya aturan. Belalang bukanlah hewan yang punya senjata mematikan atau tenaga yang kuat. Belalang adalah hewan yang lemah dan sangat rentan terhadap bahaya. Jika seekor belalang masuk ke dalam rumah, kita tidak akan kesulitan untuk menangkapnya bukan? Tapi cobalah lihat betapa bahayanya jika belalang datang berkelompok untuk menghancurkan pertanian. Dan hebatnya, mereka bisa mengatur diri mereka pribadi dan secara komunal, sehingga mereka menjadi koloni yang eksis.

Belajar dari Belalang ini, kita diingatkan untuk membangun keteraturan diri. Ada banyak orang memiliki motivasi yang baik membangun dirinya, finansialnya, imannya, komunitas pelayanannya. Tapi tanpa keteraturan, konsistensi, disiplin diri, itu semua sia-sia. Sebuah quotes mengatakan: “Dreams get you started, Action, Consistency and Discipline are what keep you going”. Memiliki mimpi dan tujuan adalah hal baik. Tapi itu tidak cukup. Kita membutuhkan perilaku konsisten dan disiplin.

(4). “cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.” – Ams. 30:28

Beberapa jenis reptil tertentu tidak berbahaya, salah satunya cicak. Binatang ini lemah, bahkan ditangkap dengan tangan kosong pun begitu mudah! Namun binatang ini bisa ada di mana-mana. Bahkan ketika berkunjung ke rumah-rumah mewah dan istana raja sekalipun, kita dapat menemukannya di sana. Cicak itu binatang yang aktual; mampu menunjukkan keberadaan atau eksistensinya dalam berbagai kondisi dan tempat. Ia dapat bertahan dengan rela mengorbankan ekornya putus, supaya hidupnya, keluarganya dapat terus berlangsung.

Dari sini kita melihat bahwa kemampuan beradaptasi dan bersifat resilien (tahan banting) seperti cicak adalah hal penting yang perlu kita miliki. Kita juga perlu menempatkan diri dalam segala jenis medan, kondisi dan tempat, belajar “memutuskan ekor” / hal berharga misalnya mengorbankan kepentingan sesaat, agar hidup kita kelak dipermuliakan (istana).

Empat karakter dari binatang itulah yang Tuhan inginkan agar kita belajar daripadanya. Sederhana, sangat unik, namun memperlengkapi kita dan keluarga menghadapi hari esok yang tidak menentu, mengerti tujuan hidup ini sesuai dengan petunjuk Tuhan. (GPP)