Belahan Jiwa – GARWA (Sigaraning Nyawa)

Bacaan:

Tanggal 2/3 Oktober 2021

Istilah “GARWA” bukanlah istilah yang asing, secara khusus buat orang Jawa. “GARWA” itu kependekan dari “Sigaraning Nyawa”. Kalau dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “Belahan Jiwa”. Garwa adalah sebutan bagi suami istri yang paling tinggi (paling halus) dikebudayaan Jawa. Jika kita amati maka filosofi GARWA dari sudut pandang budaya Jawa sangat dalam:

G : Gondelaning ati kanggo bebrayan agung (Tambatan hati untuk berumah tangga)

A : Asmara suci limbaran tresna kang tulus (Cinta suci yang tulus sebagai dasar berumah tangga)

R : Rengkuhen badan lahir lan bathine, elek lan apik-e, susah lan senenge (Rengkuhlah lahir dan batin semua kebaikan-kelebihan dan kejelekan-kekurangannya, sedih dan senang)

W : Wujud loro kang nyawiji sing bisa nyimpen wadi siji lan sijine (Perwujudan dua yang menjadi satu yang dapat menyimpan atau menutupi rahasia satu dengan yang lain)

A : Ateges itu kang sinebut “AKRAMI”/ PERNIKAHAN dudu bondo rupo – pangkat drajat PERNIKAHAN bukan harta benda bukan juga kecantikan / ketampanan bukan derajat ataupun pangkat / kedudukan.

Sedemikian dalamnya makna “GARWA” dari sudut pandang orang Jawa. Sehingga ketika yang satu terluka maka yang satunya pun juga akan terluka, jika yang satu bahagia maka yang satunya juga akan bahagia.

Bagaimana “GARWA / BELAHAN JIWA” dari sudut pandang / perspektif Alkitab?

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu tetapi mereka tidak merasa malu”

(Kejadian 2:24-25)

Perlu disadari bahwa konsep dan gagasan mengenai pasangan hidup yang dimunculkan dalam Kejadian 2:24-25 ini tidak dapat dilepaskan dari ayat sebelumnya. Kejadian 2:18 “Tuhan Allah berfirman: Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia.” Penolong yang sepadan dari bahasa Ibraninya adalah: Ezer yang artinya adalah seorang yang menyediakan/melengkapi apa yang tidak dimiliki oleh Adam. Sedangkan Kenedgo artinya adalah sama-sama ulung. Hal tersebut berarti bahwa seorang yang Allah sediakan untuk menolong untuk melengkapi adalah pribadi yang sama ulungnya. Kejadian 2:19 Kemudian Allah menciptakan makhluk hidup yang lain untuk menolong manusia itu, namun dalam Kejadian 2:20 dikatakan bahwa Adam tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. Kejadian 2:22 Maka Allah bertindak dengan membentuk perempuan itu. Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam untuk menunjukkan pada
Adam bahwa Hawa adalah bagian dari dirinya.

Bagaimana respon Adam ketika melihat perempuan itu? Kejadian 2:23 “Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”. Kata “inilah dia” menunjukkan momentum penemuan “belahan jiwa”. Dalam momentum persatuan itulah ada perubahan yang harus disadari bersama, dalam ayat 24, meninggalkan ayahnya dan ibunya memiliki arti yang lebih dalam dari sekadar berpisah secara fisik. Meninggalkan itu berarti ada keterpisahan dari posisi yang lama. Meninggalkan berarti ada sesuatu yang berubah!! Apa yang berubah? Apakah itu mudah? Teorinya mungkin mudah, tetapi tidak dengan prakteknya. Bersatu (menjadi satu daging) berarti Hawa adalah bagian dari Adam demikian juga sebaliknya.

Pernikahan adalah sebuah keputusan untuk bersatu (Komitmen) seumur hidup: Dalam suka duka, sehat sakit, kaya miskin. Sampai maut memisahkan. Apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan manusia (Markus 10:9). Apakah mudah?? Tentu tidak!! (Tidak ada lagi aku, kamu,tapi kami). Telanjang dan tidak merasa malu: tidak ada yang ditutupi di antara pasangan. Saling menerima kelebihan dan kekurangan pasangan. Tidak ada pasangan hidup yang sempurna, dia dengan segala kekurangannya adalah penolong yang sepadan!! (RIW)