Aman di bawah “Kepak Sayap”-NYA

Bacaan:

Tanggal 12/13 Maret 2022

Pada minggu ini, tepatnya tanggal 8 Maret, kita bersama-sama merayakan Hari Perempuan Internasional. Peringatan ini dimaksudkan untuk menghargai para perempuan di dunia, bukan saja sebagai makhluk yang setara dengan pria, tapi juga sebagai sosok yang sanggup mencetak berbagai prestasi dan berjuang pantang menyerah untuk menjadi berkat bagi orang-orang lain di sekitarnya. Perusahaan pembuat boneka Barbie bahkan memperingati Hari Perempuan Internasional ini dengan meluncurkan 12 model boneka baru, yang merupakan pewujudan dari perempuan-perempuan di dunia nyata yang dipandang layak menjadi role model, panutan, bagi anak-anak perempuan sedunia. Salah satu dari 12 model boneka Barbie terbaru itu adalah seorang perempuan asal Indonesia,
Butet Manurung (Saur Marlina Manurung). Butet adalah pendiri Sokola Rimba di pedalaman Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi, Sumatera. Ia adalah seorang perempuan yang berjuang dengan gigih dan bahkan rela berkorban demi cinta kasihnya pada anak-anak yang hidup di pedalaman hutan dan tidak bisa menikmati sekolah seperti anak-anak kota pada umumnya.

Alkitab kita juga dipenuhi dengan kisah tentang perempuan-perempuan heroik semacam itu. Ada kisah tentang Debora, Naomi, Esther, Hanna, Abigail, Maria, Priskila, dan banyak yang lain lagi. Dan menarik sekali jika dalam perikop kita hari ini, Yesus juga menggambarkan Allah seperti induk ayam yang berusaha melindungi anak-anaknya, “Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Lk. 13:34).

Perkataan ini tidak bisa dilepaskan dari pernyataan Yesus sebelumnya ketika orang-orang Farisi memperingatkan Dia tentang niat jahat Herodes, “Jawab Yesus kepada mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai” (Lk. 13:32). Di sini Yesus tidak bermaksud memaki Herodes, tapi Ia ingin menunjukkan kontras antara pihak yang menjadi predator (serigala) dan pihak yang
menjadi mangsa/korban (anak-anak ayam), dan pihak yang berusaha melindungi mangsa/korban dari keganasan predator (induk ayam).

Jika kita memerhatikan sikap seorang anak kecil, maka kita bisa memahami apa yang dimaksudkan oleh Yesus. Ketika seorang anak kecil merasa takut atau mengalami luka, ia pasti akan mencari ibunya. Seringkali pula anak kecil yang rewel dan menangis hanya bisa tenang kembali ketika ia ada dalam gendongan ibunya. Itulah gambaran yang ingin disampaikan oleh Yesus tentang Allah. Ia adalah Allah Bunda yang senantiasa berusaha melindungi anak-anakNya.

Dalam kehidupan kita di dunia, kita pasti akan bertemu dengan banyak serigala. Serigala itu bisa berwujud sakit penyakit seperti pandemi COVID-19 yang saat ini kita alami; bisa juga berbentuk boss di tempat kerja kita atau teman kantor maupun teman gereja kita yang menindas, menekan, bahkan melukai diri kita; bisa juga berbentuk berbagai macam kesulitan dalam kehidupan kita. Menghadapi serigala-serigala semacam
itu, Yesus mengingatkan kita bahwa Allah adalah seorang Bunda yang senantiasa bersedia melindungi kita, bahkan meskipun untuk itu Ia harus mengorbankan diriNya sendiri. Ia bagaikan seekor induk ayam yang mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya ketika ada serigala yang datang menyerang. Pertanyaannya sekarang, maukah kita berlari ke bawah kepak sayap Allah Bunda kita agar kita mendapat perlindungan, ataukah kita memilih untuk menghadapi sendiri serigala yang datang menyerang kita dengan mengandalkan kekuatan dan pemikiran kita sendiri? (PSW)