AKU DAN KAMU : GEREJA YANG TANGGUH

Bacaan:

Tanggal 9/10 Juli 2022

Hari ini kita membaca bagian Alkitab, yaitu surat Paulus kepada jemaat di Kolose 1:9-14. Kolose sendiri merupakan kota yang terletak dekat Laodikia, bagian barat Asia kecil, kira-kira 160 km tepat di sebelah timur kota Efesus. Agaknya pengaruh pemberitaan Injil Paulus di Efesus telah meluas begitu luar biasa menjangkau banyak sekali penduduk Asia hingga munculah gereja baru: gereja Kolose, walaupun Paulus sendiri nampaknya belum pernah mengunjungi kota Kolose. Itulah sebabnya surat ini dibuka dengan ucapan syukur rasul Paulus setiap kali ia berdoa. Lalu apa isi doa tersebut lebih lanjut untuk gereja baru ini?

Rasul Paulus meminta pada Tuhan agar gereja Kolose menerima segala hikmat dan pengertian yang benar agar mereka dapat mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, hidup berkenan kepada Allah dalam segala hal, bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah dan berbuah dalam segala pekerjaan yang baik (ay.9-10). Berefleksi dari doa ini, apakah kita sudah menjadi gereja (pribadi/komunal) yang mengandalkan hikmat Tuhan, mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna atas hidup kita, sehingga hidup kita terus bertumbuh dan berbuah dalam segala pekerjaan yang baik?

Kerapkali kita hanya terpaku pada keinginan sementara dalam hidup ini: kesuksesan, harta benda, sederet prestasi, keluarga yang membanggakan, dan lain-lain. Lalu jika hal tersebut tidak tercapai, kita kecewa, marah, bahkan putus asa. Alih-alih berlarut-larut dengan hal kontra-produktif tersebut, kita diajak untuk memahami kehendak Tuhan dalam hidup ini, sehingga dalam susah/senang, berkelimpahan/ berkekurangan, sehat/sakit, iman kita tetap dapat bertumbuh, hidup kita tetap dapat berbuah dan membawa kebaikan bagi dunia. Itulah mengapa rasul Paulus dalam poin kedua doanya meminta Tuhan agar gereja Kolose dikuatkan oleh kuasa kemuliaan-Nya, untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa (ay.11-12). Pertanyaannya, sudahkah dalam tantangan hidup ini kita menjadi pribadi dan gereja yang tekun, sabar, mengucap syukur dengan sukacita pada-Nya?

Tahukah saudara seorang yang turut berjasa menghentikan perang dunia kedua adalah seorang pilot yang diamputasi kakinya? Ia adalah salah satu tokoh dari Inggris bernama Douglas Bader. Pada tahun 1931 kedua kakinya harus diamputasi, karena mengalami kecelakaan terbang. Namun ia enggan menyerah dengan keadaan, dan langsung meminta dipasangi sepasang kaki palsu. Bader melewati masa-masa sulitnya, melawan rasa sakit, dan dengan tekun mengikuti terapi dari para dokter. Pada tahun 1940, ia kembali ke kokpit, menerbangkan pesawat dan mengatakan: “Jangan dengarkan siapa pun yang mengatakan Anda tidak bisa ini itu. Jangan biarkan mereka meyakinkan Anda bahwa segala sesuatunya terlalu sulit atau tidak mungkin.” Bader adalah legenda di Inggris, Pada akhir perang dia menempati urutan kelima di antara pilot RAF dalam jumlah menjatuhkan pesawat musuh. Dia menggunakan popularitasnya untuk membantu dan menginspirasi orang lain, bekerja untuk badan amal seperti Blesma, asosiasi veteran perang yang kehilangan anggota tubuh. Badan amal itu telah mendirikan sekolah-sekolah untuk membantu orang-orang yang kehilangan kaki bisa belajar jalan lagi. Salah satu sekolahnya ada di Kuala Lumpur, Malaysia. Bader dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Ratu Elizabeth pada 1976 atas jasa-jasanya untuk para penyandang disabilitas.

Andai saja Bader hanya mendengarkan kehendak manusia, ia mungkin hanya berakhir di sebuah panti yang mengasihani nasibnya. Tapi nampaknya ia lebih mengandalkan kehendak Tuhan, menangggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, bersyukur dan bersukacita dengan segala keberadaannya, sehingga hidupnya berbuah: membantu menghentikan perang dunia kedua, membantu penyandang disabilitas memiliki harapan hidup kembali. Apakah kita sebagai gereja Tuhan (pribadi/komunal) sudah melakukan yang sama? Selamat menjadi gereja yang tangguh dan berbuah. (GPP)