3M: Mengenal, Mendengar dan Mengikut Yesus

Bacaan:

Tanggal 7/8 Mei 2022

 

Tema kita hari ini merupakan rangkuman praktis dari apa yang menjadi bentuk paling nyata dari “hidup yang kekal” sebagaimana yang dijanjikan Yesus kepada “domba-dombaNya”. Dalam rangka menjabarkan keterkaitan itu semua, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan.

Pertama, arti kalimat “hidup yang kekal”. Ada dua kata dalam bahasa Indonesia yang sering dipakai secara bergantian tetapi berbeda makna, yaitu: kekal dan abadi. Kata “kekal” memiliki arti selama-lamanya ada secara fisik. Kata “abadi” biasanya dikenakan pada makna sesuatu atau seseorang yang tetap tinggal walaupun tidak lagi ada secara fisik. Dalam Yohanes 10:28 “dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” Kata asli yang dipakai dalam bahasa Yunani untuk “kekal” adalah aionion yang lebih pas diterjemahkan abadi (bhs Inggris: everlasting) daripada kekal (bhs Inggris: eternal, bhs Yunani: aidios). Pembedaan secara tajam ini membantu kita untuk membedakan antara hakikat Allah yang kekal, tak terbatas oleh waktu karena Ia adalah Pencipta yang mengatasi waktu itu sendiri, dengan manusia yang terbatas oleh waktu.

Kedua, bagaimana hidup yang abadi (bhs Jawa: langgeng) itu dimiliki? Melalui keseharian kita yang bermakna karena mengenal, mendengar dan mengikut Yesus. Relasi kita dengan Yesus dan wujudnya dalam keseharian adalah makna yang patut diperjuangkan untuk hidup yang abadi.
Dalam Yohanes 10:30 Yesus mengatakan: “Aku dan Bapa adalah satu” mengajak kita untuk mengingat bahwa oleh karena kesatuanNya dengan Bapa maka Ia pun berkuasa atas maut dan berkuasa mengaruniakan hidup yang abadi. Pribadi yang berkuasa itu yang mengundang kita hidup sebagai “domba-dombaNya.” Di bagian inilah keterhubungan antara makna hidup yang abadi dengan keseharian kita: kita berjuang hidup – setiap hari – dengan makna yang diperjuangkan selaras dengan perkataan dan sikap Yesus. Hanya dengan demikian, berapapun usia yang Tuhan karuniakan, kita bisa memiliki hidup yang terpenuhi (fulfilled life).

Ketiga, jelas terlihat bahwa pemaknaan kita mengenai “hidup yang abadi” ditarik dari jarak waktu di depan yang jauh di depan menuju ke sini, di sini, yang berarti fokus kita ditujukan kepada hal-hal yang “natural” ketimbang hal-hal yang “supernatural”. Satu pertanyaan iman di masa kini yang seringkali menimbulkan kebingungan di antara orang percaya adalah mengenai kuasa kebangkitan Kristus. Kuasa kebangkitan Kristus itu tetap ada di antara kita jika kita mau merasakannya melalui keseharian kita yang di dalamnya anugerah Tuhan itu nyata lewat kerja, kuliah, relasi, usaha. Mari kembali mengingat: dalam setiap upaya kita, ketika kita mencoba memaknainya bersama Kristus, ketika kita mau mengenal, mendengar dan mengikutNya, kuasa kebangkitanNya ada di sana.