Waktu untuk Berbuah

Bacaan:

Tanggal 19/20 Maret 2022

Apa pendapat Saudara ketika melihat orang lain mengalami penderitaan? Teks ini menunjukkan di waktu lampau ada pandangan yang menyatakan bahwa orang yang hidupnya benar / saleh pasti diberkati Tuhan, tidak akan mengalami penderitaan apalagi malapetaka, sebaliknya orang yang hidupnya tidak benar / berdosa akan mengalami penderitaan sebagai hukuman dari Tuhan. Semakin tragis penderitaan atau malapetaka yang menimpanya maka semakin besar dosanya. Apa yang terjadi dalam teks kita hari ini (Lukas 13:1-5), ada 2 peristiwa yang terjadi di Yerusalem: Pertama, Orang Galilea yang menjadi korban (ayat 1). Kedua, Peristiwa 18 orang yang mati tertimpa Menara di kolam Siloam (ayat 4). Peristiwa ini diceritakan oleh Yesus sendiri sebagai tambahan atas cerita yang pertama. Tapi orang-orang Yahudi  tetap punya penafsiran yang sama: Orang itu mati ya karena dosa mereka. Yesus tidak setuju, dan hal itu diungkapkan 2 kali dalam Lukas 13:3 dan 5. “TIDAK! Kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa dengan cara yang demikian!. Teks ini mau menunjukkan pada Saudara dan saya bahwa: Kedekatan mereka dengan Tuhan tidak berbanding lurus dengan pertobatan mereka.

Untuk menegur dan mengingatkan, Yesus menggunakan perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah (Lukas 13:6-9). Mengapa pohon ara? Karena pohon ara yang terawat dapat berbuah di sepanjang tahun. Dan sebenarnya pohon ara yang ada dalam teks kita adalah pohon ara yang beruntung (Lukas 13:6 karena ia tumbuh dalam kebun anggur, di rawat dan dipelihara. Namun pada akhirnya pohon ara ini menjadi perhatian, karena setelah 3 tahun dirawat IA TIDAK BERBUAH!! Hal itu dapat diketahui ketika pemilik kebun itu sendiri datang untuk mengambil buahnya.

Tapi apa hasilnya? MENGECEWAKAN!! Pemilik kebun tidak menemukan buah dari pohon ara yang telah ditanam, dirawat selama 3 tahun. Demikian juga dengan kita, sadari kita ini ada dalam kebun anggur-Nya, yang dirawat, dijaga. Seharusnya itu membuat kita berbuah setiap waktu. Tetapi tragis karena banyak anak Tuhan yang hidupnya seperti pohon ara ini (HIDUPNYA TIDAK MENGHASILKAN BUAH). Sadarilah yang Tuhan inginkan dari kita bukan hanya pertobatan! Tetapi buah-buah dari pertobatan sebagai gaya hidup / bagian hidup. Meski perumpamaan yang disampaikan Yesus berupa peringatan dan hukuman namun Lukas 13:8 menggambarkan sosok Allah yang murah hati.  Diperlihatkan, dengan pengurus kebun anggur yang bernegosiasi dengan pemilik kebun anggur agar diberi waktu (satu tahun), siapa tahu dengan dicangkul, dipupuk, juga batu, sampah dan hama disingkirkan, dapat tumbuh dengan baik dan tahun depan dapat berbuah. Tuhan itu sabar, Ia mau menunggu buah-buah pertobatan kita. Puncak kehidupan pohon adalah ketika dia menghasilkan buah. Metafor ini indah, bila kita mengerti. Puncak kehidupan kita sebagai anak-anak-Nya adalah ketika kita menghasilkan buah di sepanjang kehidupan kita. Pra-Paskah ke 3 ini mengingatkan: Yesus meminta kita tinggal dalam Dia (dalam kebun anggur-Nya), karena di luar Dia kita tidak dapat menghasilkan apa-apa. Thema pertobatan menjadi kelanjutan dari tekad kita untuk berubah yang diawali sejak Rabu abu. Kita diingatkan untuk tidak sibuk melihat dan menghakimi orang lain. Melainkan memakai kesempatan yang Tuhan berikan untuk merespon kesabaran Allah dengan berbenah diri dan menghasilkan buah pertobatan.   (RIW)