Ringkasan Kotbah Minggu

Tobat Mengembalikan Martabat

(Sabtu/Minggu, 6/7 Maret 2010) Apa respon Anda kalau ada orang berkata: "WIlayah X itu sering dilanda bencana alam karena memang tingkah warganya tidak baik". Biasanya, dengan mudah kita meng-amin-inya bahwa itu adalah hukuman dari Tuhan. Tapi apakah itu sikap yang bijaksana? Dalam perikop Lukas 13:1-9, Yesus mengingatkan kecenderungan orang yang selalu "menuding" orang lain. Sikap seperti ini didasari oleh sikap egoisme yang selalu merasa diri/kelompoknya selalu benar dan lebih baik dari yang lain. Lukas mengkisahkan bagaimana orang-orang bercerita bahwa Pilatus telah membunuh orang-orang Galilea yang memberontak dan mencemarkan pelataran suci Bait Allah. Sangka mereka, Yesus sebagai orang Yahudi akan mengutuk baik Pilatus sebagai pembunuhnya mewakili kekuasaan Romawi, maupun orang-orang Galilea yang menurut beberapa penafsir telah melakukan pemberontakan (13:2-3).

Betapa sering kita terjebak untuk melihat kejadian buruk/kemalangan yang menimpa orang lain itu sebagai wujud hukuman Allah atas kejahatan mereka. Pola pikir seperti inilah yang dikritik oleh Yesus. Dosa orang Galilea yang dibunuh itu belum tentu lebih besar dari orang Galilea yang lainnya. Kejahatan yang dilakukan kelompok lain atau yang kita anggap musuh belum tentu lebih besar dari kejahatan yang kita lakukan. Daripada sibuk menghakimi orang lain, Yesus mengingatkan agar kita mawas diri. Kita diminta untuk sadar bahwa penghukuman Alah juga bisa menimpa kita jika kita tidak bertobat (Lukas 6:5). Ibaratnya, ketika kita menuding orang/kelompok lain, jangan lupa bahwa ke-3 jari kita lainnya sedang menunjuk pada diri kita sendiri.

Agar selalu mawas diri, kita perlu mengembangkan doa dengan sikap yang terus menerus merindukan Allah. Berorientasi pada kehendak Allah, bukan diri kita sendiri. Seruan Pemazmur "Ya Allah, Englaulah Allahku" (Maz 63:1) adalah pengakuan bahwa Allah sudah seharusnya menjadi penguasa hidup dan itu harus terus menerus diperjuangkan. Pada masa Pra Paskah ini, marilah kita mawaas diri untuk tidak tergesa-gesa menghakimi orang lain, tap lebih pada mawas diri. Jangan-jangan hidup kita belum membuahkan buah-buah pertobatan. Ibarat pohon ara yang tidak menghasilkan buah, ada saatnya akan ditebang. Oleh karena itu, bertobatlah selama masih ada kesempatan. Pertobatan inilah yang akan mengembalikan martabat kita sebagai umat Allah. Pertobatan berarti menghasilkan buah-buah yang menjadi berkat bagi masyarakat (EA).

1 PENDETA LAGI ….. Pdt. HADYAN TANWIKARA

       ((27-28 Peb '10) Tanggal 3 Maret memiliki sejarah  penting bagi GKI Gejayan, pada tanggal 3 Maret 2000 GKI Gejayan  didewasakan, tahun ini pas 10 tahun usianya, 3 Maret 2009 Ibu Ratna Indah Widyastuti diteguhkan jadi Pendeta  dan 3 Maret tahun 2010 ini Bp Hadyan Tanwikara diteguhkan jadi Pendeta jemaat GKI Gejayan .

Bertambahnya Pendeta adalah kasih karunia Allah bagi kita di GKI Gejayan, pergumulan banyak gereja adalah kurangnya  tenaga pelayan sementara pertumbuhan jemaat terus meningkat. Banyak tuaian sedikit pengerja… itu yang sering kita dengar. Pdt Hadyan Tanwikara dan GKI Gejayan dalam perjuangannya terus meningkatkan kualitas jemaat dan para simpatisannya, agar disemua bidang pelayan tersedia pelayan-pelayan yang berkomitme. Dengan Moto “Satu orang Satu Pelayanan” mengajak setiap jemaat terlibat pelayanan, dan membekali diri dalam kelas-kelas yang ada seperti  KOMPAK (KelOMpok Pembinaan Ajaran dan Karakter), SOM (Sekolah Orientasi Melayani), SOP (School Of Prayer), KONSELING ( mencetak konselor  awan).
Mari kita sambut dan dukung Pdt.  Hadyan Tanwikara dalam pelayanan di dunia ini khususnya di GKI Gejayan. Sambutan dan dukungan saudara yang pertama adalah HADIR dalam ibadah Penahbisannya pada Rabu, 3 Maret 2010, Pukul 17.00 WIB. HADIR dan DOAKANLAH. (rms)
 
Menjadi satu contoh konkret bagi kita tentang pelayanan yang benar, yaitu seperti pelayanan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus (Lukas 4 : 1 – 13).
Tanpa memiliki pengenalan akan Allah yang benar dan kehendak-Nya, Yesus sebagai manusia biasa bisa saja jatuh dalam pencobaan. Namun yang terjadi tidaklah demikian. Pemahaman Iman-Nya yang benar memampukan Yesus untuk menghadapi pencobaan di padang gurun.
Sebagai manusia biasa kita diingatkan kalau kita juga memiliki keterbatasan, sedangkan dunia ini penuh dengan godaan dan tantangan. Bagaimana kita menjawab tantangan ini?
Minggu pra-Paskah yang pertama ini juga mengingatkan kita akan totalitas pelayanan Yesus. Isi hidup-Nya bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Jiwa Kristus adalah melayani dengan Iman yang tangguh, seharusnya itu juga menjadi jiwa Kristiani para pengikut-Nya.
Selama masih ada waktu marilah kita bangun Iman kita dan layanilah Dia dengan kesetiaan dan ketulusan. (Pdt.RIW)
 

 

Hidup dengan Visi dan Misi, Didukung karakter yang Demokratis, "Lentur"/Fleksibel

(Sabtu/Minggu, 16/17 Januari 2010) Minggu ini kita memasuki minggu-minggu epifani (="membuat tampak"/penampakan, membuat misi Allah di dalam Yesus Kristus menjadi jelas). Visi dan Misi Allah nampak dalam hidup Kristus! Hidup Kristus yang produktif, aktif, karena visi dan misi yang jelas, didukung karakterNya yang dewasa!

Masih usia produktif tetapi tidak produktif? Banyak orang tidak produktif, karena tidak memiliki visi (tujuan hidup) yang jelas, maka misi hidupnyapun tidak jelas, akibatnya orang tersebut tidak mengeksplorasi/menggunakan segala kemampuannya, banyak orang cenderung puas diri/pasif, dan "menimbun kemampuannya. Maka sulit sekali menjadi tokoh sekaliber Gus Dur (Abdulrahman Wahid), Romo Mangun, Ibu Ida Bagus Gedong Oke, yang punya visi keIndonesiaan yang multikultural, maka mereka menjadi pejuang pelindung minoritas, karakter yang dewasa karena visi dan misi yang jelas! Apakah kita memiliki visi dan misi hidup yang jelas? Seberapa maksimal kita berusaha mewujudkannya?

Teologi inkarnasi Firman dalam Injil Yohanes, menunjukkan visi dan misi Yesus yang jelas, Ia datang untuk menyelamatkan, membawa sukacita dan kebahagiaan bagi manusia. Hal itu didukung dengan karakter yang dewasa: demokratis, fleksibel/lentur, penuh kasih.

Peristiwa di Kana (Yohanes 2) telah "menjungkir balikkan" pemahaman kita terhadap Allah:

  • Sering Allah dipahami sebagai Allah yang Maha Kuasa. Ia kejam, kaku, suka menghukum, "menakutkan", tidak bisa dialog, dsb. Akibat pemahaman seperti itu: seorang bapak sampai tidak dapat tidur karena masa lalunya yang buruk, ia takut hukuman Allah. Juga bisa berdampak gereja bersikap bagai gereja yang berkuasa, kaku, dan suka "menghukum" kesalahan orang.
  • Ia berinkarnasi, Firman menjadi manusia (Yohanes 1), berarti:
    • Rendah hati: tidak apa-apa jika dianggap biasa saja (seperti manusia yang lain). Ia hanya tamu biasa dalam pesta di Kana itu, bukan tamu istimewa. Hadir bagai manusia biasa....
    •  Ia ingin berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia, dari Allah yang Maha, jadi manusia. Tidak dengan suara dari langit yang membuat semua orang takut dan gentar maka taat, tapi dengan membuktikan suara dan tindakan kasih dan kebenaran dalam praktek hidup sehari-hariNya
    • Ia mau bernegosiasi, demokratis tidak otoriter, fleksibel tidak kaku, ketika menerima permintaan dari ibunya (Maria, seorang yang peka/tanggap pada situasi/persoalan orang lain). Walaupun "belum waktunya", Ia toh melakukan yang dibutuhkan pada situasi waktu itu.
    • Bukan tidak konsisten atau lemah? Tidak! Tapi justru karena Ia jelas dengan visi, misi dan karakter yang konsisten kasih yang memberkati, menyelamatkan.
    • Mujizat perdana bagi menyelamatkan keluarga, agar keluarga tersebut tidak dipermalukan, agar sukacita dan kebahagiaan mereka tidak "rusak", betapa pentingnya keluarga bagi Kristus...

Karakter dewasa: Allah saja rendah hati, tidak kaku, tidak "pokoknya", tidak unjuk kuasa!

Teologi inkarnasi Firman dalam Injil Yohanes: Allah memilih menjadi manusia, menjadi kritikan yang tajam bagi kita yang sering kali bersikap kaku terhadap Firman, tidak negotiable, teologi "pokoknya"! Firman Allah selalu bermaksud mendatangkan kebaikan bagi hidup manusia. Bukan memberi firman untuk jadi beban bagi hidup kita, tetapi "firman yang membawa sukacita", harapan, hiburan, keselamatan. Mari belajar cara demokratis Allah: untuk memberkati dan membahagiakan sesama kita.

Karena itulah kitapun harus hidup dengan memiliki visi dan misi yang jelas, didukung karakter kasih! Gerejapun harus memiliki Visi dan Misi yang konsisten: untuk kebaikan dan kebahagiaan semua orang. Mari kita bangun sikap hidup beriman yang inklusif/terbuka, multikultural, dan dewasa (PL)

Nats: Yesaya 62:10-11; Mazmur 36:6-8; 1 Korintus 12:4-11; Yohanes 2:1-10

Syndicate content