Fokus
Masa Pra Paskah dan Puasa
(Sabtu/Minggu, 6/7 Maret 2010) Minggu ini kita memasuki Minggu pra-Paskah yang ke-3. Namun apakah sampai Minggu pra-Paskah ke-3 ini kita sudah benar-benar memahami dan menghayati masa pra-Paskah ersebut? Pra-Paskah adalah masa di mana seharusnya kita belajat untuk menghayati penderitaan dan pengorbanan Kristus bagi hidup kita. Masa pra-Paskah juga merupakan masa untuk kita berpuasa, sudahkah kita mengambil bagian dalam puasa tersebut?
Perlu kita ketahui bersama, esensi terpenting dari puasa tidak hanya terletak pada kemampuan kita untuk berpuasa tidak makan dan tidak minum saja. Makna puasa yang sesungguhnya akan tercapai ketika kita mampu menahan keinginan daging kita. Apakah artinya kita mampu berpuasa penuh bahkan selama 40 hari tapi hidup dan kehidupan kita tidak mengalami perubahan ke arah Kristus? Pada dasarnya ada banyak hal dapat kita lakukan untuk ambil bagian dalam berpuasa, misal: berpuasa tidak merokok, berpuasa tidak makan daging, berpuasa tidak marah-marah, dll. Yang terpenting semua itu kita lakukan dengan penuh kesadaran, ketulusan untuk mengubah agar hidup kita serah dengan tujuan Kristus dan semuanya untuk kemuliaan nama Tuhan.
Ingat: Tema Paskah kita tahun ini adalah "WE ARE THE REASON". Kalau Dia sudah mati bagi kita, apakah yang dapat kita lakukan bagi Dia? Akankah kita hanya berapngku tangan? Hiduplah bagi Dia!!! LAKUKANLAH SESUATU BAGI-NYA.
Keteladanan Cinta “ PEMULUNG dilarang masuk!!!”
Kasih, Kesetiaan, Kekudusan dalam Pernikahan (Kolose 3:14)
(sabtu/Minggu, 16/17 Januari 2010). Dalam sebuah surat kabar, seorang dosen psikologi pernah menulis demikian: Pernikahan itu digambarkan seperti tembok sebuah kota. Artinya orang yang berada di luar ingin masuk ke dalamnya, sedangkan orang yang sudah ada di dalamnya ingin keluar. Mereka yang belum menikah ingin mengalaminya, sedangkan mereka yang sudah ada di dalamnya ingin keluar karena merasa tidak bahagia. Namun itulah PERNIKAHAN, di dalamnya ada begitu banyak cerita. Ternyata tidak semua pernikahan itu sesuai dengan impian orang yang menjalaninya.
Tetapi pada prinsipnya: PERNIKAHAN adalah BAIK. Alkitab mencatat bahwa Allah sendiri yang memulai dan membentuknya (Kejadian 1 dan 2). Bahagia atau tidaknya sebuah pernikahan tergantung pada bagaimana cara orang yang telah dipersatukan dalam mengelola pernikahan tersebut. Ada orang yang mengatakan bahwa untuk mengelola pernikahan dengan baik dibutuhkan KASIH! Kolose 3:14 "Dan diantara semua itu kenakanlah kasih sebagai pengikut yang mempersatukan dan menyempurnakan". Tetapi pertanyaan berikutnya KASIH seperti apakah yang dapat mendukung sebuah pernikahan? Kita bisa menemukan jawabannya dalam 1 Korintus 13:4-7. KASIH yang baik juga mau menerima perbedaan. Jangan salah: perbedaan bila dikelola dengan positif akan menghasilkan hal yang positif. Selain itu dalam sebuah pernikahan dibutuhkan KESETIAAN dan KEKUDUSAN HIDUP. Dan sayangnya nilai KESETIAAN dan KEKUDUSAN sangat mahal harganya.
Untuk bisa membangun sebuah rumah tangga yang kuat dan baik, tentunya diperlukan dasar/fondasi yang baik. Jadikanlah Kristus sebagai dasar/fondasi yang baik bagi kehidupan rumah tangga kita. Ingat: Hidup rumah tangga kita tidak hanya akan kita pertanggung jawabkan pada psangan hidup dan keluarga kita saja, tapi juga kepada Tuhan. Mintalah supaya hanya Tuhan yang selalu mengawal kehidupan rumah tangga kita (RIW)

