Fokus

Masa Pra Paskah dan Puasa

(Sabtu/Minggu, 6/7 Maret 2010) Minggu ini kita memasuki Minggu pra-Paskah yang ke-3. Namun apakah sampai Minggu pra-Paskah ke-3 ini kita sudah benar-benar memahami dan menghayati masa pra-Paskah ersebut? Pra-Paskah adalah masa di mana seharusnya kita belajat untuk menghayati penderitaan dan pengorbanan Kristus bagi hidup kita. Masa pra-Paskah juga merupakan masa untuk kita berpuasa, sudahkah kita mengambil bagian dalam puasa tersebut?

Perlu kita ketahui bersama, esensi terpenting dari puasa tidak hanya terletak pada kemampuan kita untuk berpuasa tidak makan dan tidak minum saja. Makna puasa yang sesungguhnya akan tercapai ketika kita mampu menahan keinginan daging kita. Apakah artinya kita mampu berpuasa penuh bahkan selama 40 hari tapi hidup dan kehidupan kita tidak mengalami perubahan ke arah Kristus? Pada dasarnya ada banyak hal dapat kita lakukan untuk ambil bagian dalam berpuasa, misal: berpuasa tidak merokok, berpuasa tidak makan daging, berpuasa tidak marah-marah, dll. Yang terpenting semua itu kita lakukan dengan penuh kesadaran, ketulusan untuk mengubah agar hidup kita serah dengan tujuan Kristus dan semuanya untuk kemuliaan nama Tuhan.

Ingat: Tema Paskah kita tahun ini adalah "WE ARE THE REASON". Kalau Dia sudah mati bagi kita, apakah yang dapat kita lakukan bagi Dia? Akankah kita hanya berapngku tangan? Hiduplah bagi Dia!!! LAKUKANLAH SESUATU BAGI-NYA.

Keteladanan Cinta “ PEMULUNG dilarang masuk!!!”

(27/28 Peb '10) Anda pasti sering menemukan kalimat larangan di atas, hampir di setiap kompleks perumahan, dimanapun dibangun sebuah kompleks perumahan.  Menurut Anda kenapa larangan dibuat ? Orang bisa menafsir macam-macam, tetapi minimal ada persepsi yang ingin dimunculkan : ‘Sandal baru saya hilang, pasti ada pemulung masuk kompleks ini!’ Anda tahu maksud saya,pasti Anda tahu. Sekarang saya balik kondisinya, bagaimana kalau Anda seorang pemulung atau bapak Anda pemulung dan Anda menemukan tulisan larangan tadi ditulis di kompleks perumahan Anda?  Berarti larangan itu ingin mengatakan : PEMULUNG dilarang tinggal dikompleks perumahan ini. Apapun yang Anda pahami dari larangan di atas, pasti akan bermakna untuk meremehkan profesi PEMULUNG.
YESUS adalah seorang PEMULUNG dalam keteladanan kasih-NYA. Berulangkali YESUS meneladankan kasih-Nya untuk mengasihi dan menerima orang yang hancur hatinya dan bahkan dibuang oleh masyarakatnya. Bukankah YESUS PEMULUNG dengan semua kasih-Nya? Teks kita minggu ini (Lukas 13:34-35) memang tidak mengatakan YESUS adalah pemulung tapi coba perhatikan Lukas menggambarkan YESUS seperti induk ayam yang ingin mengumpulkan anak-anak dan anak-anaknya tidak ada yang mau. Kenapa Yesus tidak memakai gambaran binatang yang lain yang gagah dengan kuat kuasanya seperti singa, harimau, serigala ? Kenapa hanya induk ayam yang tidak punya kekuatan, kuasa? YESUS punya KASIH yang lebih besar artinya bagi YESUS untuk menghasilkan perubahan. Perenungan ini menarik, karena Yesus tidak pernah mau tampil dengan kuasa yang hanya menghadirkan kekuasaan politik tetapi menghadirkan damai sejahtera bagi banyak orang. KASIH seekor induk ayam tidak pernah memaksa, tetapi kasih induk ayam akan menjaga anak-anak dengan seluruh kekuatannya. Perhatikan kejadian 15 : 6, dengan IMAN, Abram diperhitungkan oleh ALLAH dan dibenarkan. Abram dalam pergumulan (Kejadian 15:2), ketika ditemui oleh ALLAH. Tidak ada anak dalam pernikahan Abram dan dia mulai tua. Allah mencari dan menjumpai Abram untuk mengangkat dari keterpurukan secara emosi, karena ketiadaan anak sebagai ahli warisnya.  Bahkan Allah mengikat perjanjian-Nya dengan Abram (ay. 5,7-19; ay. 18) Allah rela merendahkan diri-Nya untuk memulihkan umat-Nya. ALLAH yang tidak terjangkau oleh kita, datang dalam Yesus untuk memulihkan kita. YESUS adalah PEMULUNG. Buanglah larangan : “PEMULUNG DILARANG MASUK !!” Mohon maaf kalau renungan ini tidak berkenan untuk aparat kampung (RT;RW) yang sudah terlanjur memasang larang pada PEMULUNG. Istilah ini hanya saya pakai untuk sebuah perenungan. Hadyan Tanwikara   
 

Kasih, Kesetiaan, Kekudusan dalam Pernikahan (Kolose 3:14)

(sabtu/Minggu, 16/17 Januari 2010). Dalam sebuah surat kabar, seorang dosen psikologi pernah menulis demikian: Pernikahan itu digambarkan seperti tembok sebuah kota. Artinya orang yang berada di luar ingin masuk ke dalamnya, sedangkan orang yang sudah ada di dalamnya ingin keluar. Mereka yang belum menikah ingin mengalaminya, sedangkan mereka yang sudah ada di dalamnya ingin keluar karena merasa tidak bahagia. Namun itulah PERNIKAHAN, di dalamnya ada begitu banyak cerita. Ternyata tidak semua pernikahan itu sesuai dengan impian orang yang menjalaninya.

Tetapi pada prinsipnya: PERNIKAHAN adalah BAIK. Alkitab mencatat bahwa Allah sendiri yang memulai dan membentuknya (Kejadian 1 dan 2). Bahagia atau tidaknya sebuah pernikahan tergantung pada bagaimana cara orang yang telah dipersatukan dalam mengelola pernikahan tersebut. Ada orang yang mengatakan bahwa untuk mengelola pernikahan dengan baik dibutuhkan KASIH! Kolose 3:14 "Dan diantara semua itu kenakanlah kasih sebagai pengikut yang mempersatukan dan menyempurnakan". Tetapi pertanyaan berikutnya KASIH seperti apakah yang dapat mendukung sebuah pernikahan? Kita bisa menemukan jawabannya dalam 1 Korintus 13:4-7. KASIH yang baik juga mau menerima perbedaan. Jangan salah: perbedaan bila dikelola dengan positif akan menghasilkan hal yang positif. Selain itu dalam sebuah pernikahan dibutuhkan KESETIAAN dan KEKUDUSAN HIDUP. Dan sayangnya nilai KESETIAAN dan KEKUDUSAN sangat mahal harganya.

Untuk bisa membangun sebuah rumah tangga yang kuat dan baik, tentunya diperlukan dasar/fondasi yang baik. Jadikanlah Kristus sebagai dasar/fondasi yang baik bagi kehidupan rumah tangga kita. Ingat: Hidup rumah tangga kita tidak hanya akan kita pertanggung jawabkan pada psangan hidup dan keluarga kita saja, tapi juga kepada Tuhan. Mintalah supaya hanya Tuhan yang selalu mengawal kehidupan rumah tangga kita (RIW)

Syndicate content