Renungan

Kekuatan diri, dengan Sadar lemah maka berserah

Bacaan: Markus 14:26-42

Pendahuluan:

Orang menjadi sangat kuat, bukan saat ia merasa kuat, tetapi sering justru pada saat ia merasa lemah. Sebab ketika orang merasa kuat, orang sering mudah takabur, tidak waspada, lengah dan terjatuh. Sementara, ketika justru orang merasa lemah, ia jadi waspada, mawas diri, dan berserah penuh dalam doa kepada Tuhan, maka ia justru mendapatkan kewaspadaan dan kekuatan yang dahsyat, dan lebih tenang menghadapi segala persoalan/tantangan yang akan dihadapi.

Demikianlah beda antara Petrus yang merasa dirinya kuat dengan Tuhan Yesus yang sadar butuh kekuatan Bapa.

Petrus merasa dirinya hebat, kuat, tidak akan tergoncang imannya, bahkan sesumbar "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.", karena Yesus memperingatkan “malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Namun justru sikap sombong semacam itulah Petrus menyangkali Tuhan Yesus.

Petrus dan kawan-kawan tertidur tetapi Yesus berjaga-jaga dan berdoa!

Pendalaman per ayat:

  • Mar 14:26 Sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun.

Demikian juga dalam hidup kita, sering sesudah ”nyanyian” gembira, segera bisa terjadi masalah menghadang (mazmur 90:10 kebanggaan hidup => kebanyakan isi hidup adalah kesukaran dan penderitaan)
Hanya Yesus yang benar-benar sadar apa yang akan terjadi kemudian, sementara para murid tidak siap, masih dipenuhi kegembiraan, kesukaan sehingga tak waspada/lengah.
Tiap saat kita harus jadi orang ”Berjaga-jaga dan berdoa” (37-38), baik saat berhasil maupun gagal, saat suka maupun duka, saat ”tidak ada masalah” maupun saat bermasalah.

  • Yesus sadar benar Ia akan menuju puncak karya keselamatan, sebentar lagi Ia tidak bertemu para murid-Nya maka Ia menentukan tempat pertemuan kembali yaitu di Galilea (sesudah kebangkitan-Nya kelak)
    Mar 14:27 Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai
    Mar 14:28 Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.
    Mengutip zakharia 13:7, ”demikianlah firman TUHAN semesta alam. "Bunuhlah gembala, sehingga domba-domba tercerai-berai! Aku akan mengenakan tangan-Ku terhadap yang lemah.” Kematian Yesus Gembala akan mengguncangkan domba-dombanya.

 ”Kamu semua akan tergoncang imanmu” vs Kebangkitan + Galilea!

  • Yesus perlu menyiapkan para murid, karena mereka tidak siap, mereka baru menikmati ”indahnya” dan bangganya menjadi murid Yesus yang terkenal, walau sudah diingatkan beberapa kali, mereka tetap belum dewasa secara rohani, mereka akan tergoncang imannya.

Apakah kita siap ketika hal buruk Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita?

  • Setiap kali tergoncang ingatlah akan kuasa kebangkitan Yesus dan ”galilea” tempat perjumpaan lagi dengan Yesus yang telah bangkit.
  • Kita juga, tiap kali ada masalah ingatlah akan Yesus adalah Tuhan yang bangkit, dan Ia pasti menjumpai kita dalam perjalanan hidup kita di manapun. ”Galilea” menggambarkan tempat paling berkesan bagi para murid, ketika para murid dipanggil, tempat mereka menikmati masa-masa ”indah” bersama Yesus, tempat mereka melayani bersama Yesus dsbnya. Saat kita sedih ingatlah kuasa-Nya dan ”galilea”!
  • Surga adalah ”Galilea abadi” tempat reuni kekal, antara Yesus dan para muridnya kelak.
    Mar 14:29 Kata Petrus kepada-Nya: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak."
  • Petrus bereaksi terlalu cepat, tak mau merenungkan kata-kata Yesus, tentang “reuni” di galilea
  • Petrus seharusnya makin bersatu dengan para murid yang lain agar kuat dalam situasi genting, tetapi ia justru “memisahkan” dirinya, membandingkan dirinya lebih hebat dari para murid

Mar 14:30 Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali."
Mar 14:31 Tetapi dengan lebih bersungguh-sungguh Petrus berkata: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua yang lainpun berkata demikian juga

  • Petrus semakin takabur dengan ay 31: “sekalipun harus mati…” tidak menyadari “kelemahan”nya. Inilah kebiasaan buruk manusia, jika dinasehati untuk waspada, bukannya mawas diri tetapi malah makin takabur ... bagaimana sikap kita setiap kali ditegur/dinasehati?

  • Para murid yang lainpun “terjebak” dalam emosi petrus.
  • Iman emosional semacam itu hanya “manis di mulut” dan terbukti tidak kuat, tidak tahan lama, segera nanti para murid lari tunggang langgang meninggalkan Yesus dalam ketakutan, mengunci diri bersembunyi… Iman kita iman emocional atau iman yang mengakar, sangat mendalam?

Mar 14:32 Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku berdoa."

  • Orang Yahudi biasa berdoa dengan bersuara, sehingga orang di dekatnya dapat mendengarkan isi doa orang tersebut

Yesus sangat menekankan doa!, markus menempatkannya pada:

  • Awal karya Yesus (1:35)
  • Di tengah karya-Nya (6:46)
  • Pada akhir karya-Nya (9:32)

  • Doa memang harus jadi kekuatan pelayanan kita, awal-di tengah-di akhir segala kegiatan dan pelayanan kita, berdoa harus menjadi hal terpenting.
  • GKI Gejayan memiliki motto ”gereja yang berdoa”, artinya mari kita budayakan semangat dan tekun berdoa dalam hidup kita.Taman getsemani, adalah sebuah taman yang dipakai untuk memproduksi minyak zaitun. Yesus suka berkunjung kesitu bersama para murid-Nya (lukas 22:39, Yoh 18:2). Maka Yudas iskariot dengan mudah mengetahui dimana Yesus biasanya berada pada saat-saat seperti itu, yaitu di tempat ”biasa”nya Yesus suka ke situ, berdoa, di taman getseman.
  • Mar 14:33 Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar.
  • Mar 14:34 lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.
  • Yesus punya kemampuan yang sangat luar biasa, tetapi selalu menganggap penting orang lain, Ia tipe pemimpin yang suka berbagi, delegasi, melibatkan orang lain, Ia bukan tipe pemimpin yang arogan, “one man show”, otoriter, tetapi pemimpin yang partisipatif dan delegatif. Bagaimana kita?

  • Ketika ada pergumulan kita lebih kuat jika berdoa bersama, dalam keluarga suami-istri perlu berdoa bersama saling menguatkan
  • Mar 14:35 Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya.
  • Mar 14:36 Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.

Bapa, ABBA adalah satu-satunya harapan-Nya, kekuatan-Nya.
Dimana kekuatan dan sumber harapan hidup kita, apakah Bapa Surgawi?

  • Mar 14:37 Setelah itu Ia datang kembali, dan mendapati ketiganya sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam?

  • Mar 14:38 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah."

Sekalipun dalam keadaan penuh pergumulan, perhatian dan kasih Yesus pada para murid begitu besar, Ia masih memikirkan para murid agar mereka siap menghadapi saat-saat tersulit dalam hidup mereka.
Daging gambarkan manusia itu rapuh, manusia tidak dapat mengandalkan kekuatannya sendiri.
Roh menggambarkan hubungan manusia itu dengan Roh Allah, ketika dalam relasi dengan Allah sajalah manusia kuat

Yesus menunjukkan pada kita, saat krisis: berdoalah, andalkan Allah saja!

  • Mar 14:39 Lalu Ia pergi lagi dan mengucapkan doa yang itu juga.
  • Mar 14:40 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat dan mereka tidak tahu jawab apa yang harus mereka berikan kepada-Nya.

Inilah “tragedi Getsemani”: Yesus sedang bergumul berat, para murid malah tidur saja.
Inilah catatan gereja perdana, ”tragedi getsemani”, seringkali gereja cuma tertidur sementara Yesusnya sedang berjuang sendirian dalam karya keselamatan
”tragedi getsemani” masih terjadi sampai dengan hari ini, gereja (dan para pemimpin, aktifis, warganya) asyik tertidur dengan berbagai rapat, hal-hal yang menyenangkan, rebutan kuasa, dll, sementara Tuhan Yesusnya sedang berjuang melawan: global warming, krisis global, kemiskinan, ketidakadilan, pemberitaan kabar baik, dsbnya

  • GKI Gejayan membentuk pelayanan masyarakat: GEMA kasih Indonesia, pelayanan masyarakat, pelayanan diakonia dll, kita harus jadi gereja yang ”bangun” berkarya bersama Yesus, jangan jadi gereja tidur...

  • Mar 14:41 Kemudian Ia kembali untuk ketiga kalinya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Cukuplah. Saatnya sudah tiba, lihat, Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.

  • Mar 14:42 Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.
    Para murid gagal untuk berjaga-jaga, kini Yesus harus sendirian hadapi semuanya. Tuhan Yesus membangunkan para murid-Nya, tidak boleh terus tertidur sebab saatnya telah tiba.
    Yesus “membangunkan” gereja yang tertidur, misal melalui berbagai peristiwa di sekitar atau yang dialami gereja, saat melakukan karya keselamatan telah tiba.
     

saatnya sudah tiba, Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa”

  • Orang-orang berdosa menjadi alat/budak iblis untuk meremukkan Yesus, memakukan-Nya, membuat-Nya menderita.
  • Namun Yesus rela ”diserahkan” dalam penderitaan untuk keselamatan kita, jika Ia telah menderita untuk kita, maukah kita menderita juga untuk-Nya?

  • Iblis mungkin tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan dan kematian Yesus, iblis tak menyadari saat itu juga kasih Allah melalui penderitaan dan kematian Yesus telah mengalahkannya total, Yesus menghancurkan kuasa dosa dan maut dengan kasih dan pengorbanan-Nya. Ketaatan-Nya pada Allah menghancurkan kuasa Iblis, tetapi ketaatan itu memang mengorbankan ”daging” manusia...

  • Apakah kita berhasil mengalahkan tipu muslihat iblis dengan ketaatan kita pada Allah?

Ketaatan kita pada Allah, membuat kita kuat dan mengalahkan segala tipu muslihat iblis. Saat bersandar pada Allah kita kuat, berjaga-jaga, dan produktif dengan semua perbuatan baik. Dimana letak kekuatan anda?

Ditulis oleh: Pdt. Paulus Lie. (Pendeta GKI Gejayan Yogyakarta)

MEMPERBAIKI BUDAYA BANGSA, MELALUI IMAN DAN HIDUP BARU

Renungan Pdt. Paulus Lie di harian jogja minggu 22 maret 2009

Bacaan: Yohanes 3:14-21

Sebuah budaya mengekspresikan totalitas nilai sekelompok manusia. Kebudayaan adalah usaha roh manusia untuk mengekspresikan diri dengan cara mewujudkan kepercayaan dan nilai-nilai dalam bentuk-bentuk nyata. Herman Dooyeweerd (seorang calvinis Belanda) berpendapat akar kebudayaan selalu religius, dan semua kebudayaan dihidupkan oleh motif dasar religius. (Vanhoozer, Kevin J: ”God and Culture”)

Juga budaya bangsa kita, tidak lain adalah ekspresi dari kualitas hidup beriman kita. Jika masih ada budaya bangsa yang buruk, tentu itu bukan kesalahan Tuhan, tetapi kesalahan kita umat-Nya yang gagal hidup baru, gagal menjadi lebih baik. Kegagalan bangsa kita untuk memiliki budaya yang terbaik, adalah kegagalan kita semua untuk hidup baru seperti yang Tuhan inginkan.

Dalam Yohanes 3:16 “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”. Allah telah berjuang agar kita tidak binasa, Allah juga sudah menyediakan hidup yang kekal bagi kita. Anugerah terbaik tersebut telah diberikan Allah pada kita, tetapi kita sering gagal memberi respon yang terbaik dari karya kasih Allah tersebut.

Allah bukan hanya mengaruniakan keselamatan melalui iman, tetapi juga memberikan hidup yang kekal, yaitu suatu kualitas hidup yang terbaik, yang didasari oleh iman manusia pada-Nya. Artinya ketika hubungan manusia dengan Tuhan dipulihkan, maka kualitas hidup manusia juga diperbaiki total, jadi seharusnya ada pembaruan budaya secara total meliputi pembaruan seluruh aspek hidup manusia.

Apakah kita sudah menjadi manusia dengan budaya hidup yang terbaik, sebagai hasil dari hubungan kita dengan Tuhan, ataukah kita masih hidup dalam budaya kegelapan?

Menurut Alkitab, orang yang hidup dengan budaya jahat/budaya kegelapan sebenarnya ia hidup dalam suasana terhukum (Yohanes 3:19 ”inilah hukuman itu: terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat”). Karena itu mari kita keluar dari hukuman, dengan mengubah budaya hidup kita menuju budaya hidup baru, budaya terang. Jangan kita iri dengan kesuksesan pengusaha yang sukses karena budaya bisnisnya penuh tipu-daya, jangan iri dengan budaya buruk korupsi yang memperkaya orang, atau budaya buruk kehidupan seks bebas, narkoba dll karena hidup demikian adalah “hukuman masa kini” yang mengerikan dan membuat manusia sangat menderita.

Sebaliknya, mari memiliki budaya hidup terang (yoh 3:16 budaya hidup kekal), yaitu budaya hidup yang mengandung nilai-nilai kekal, yaitu nilai-nilainya suci dan kudus karena bersumber pada Firman Allah yang kekal. Nilai-nilai yang kelak di Surga menjadi bagian dari budaya kekal kita, mari kita perjuangkan agar nilai-nilai tersebut mewujud kini dalam hidup kita sehari-hari. Nilai-nilai cinta kasih, pengampunan, hidup kudus, taat kepada Tuhan, tidak berbuat jahat, dll kiranya menjadi bagian kuat dalam budaya hidup kita sehari-hari, karena Tuhan sudah begitu mengasihi kita!

Budaya hidup kekal semestinya budaya hidup kita setiap hari, antara lain:

  • Budaya tekun dalam ibadah dan taat pada Tuhan, dan takut berbuat dosa

  • Budaya tekun dan kerja keras sebagaimana teladan Allah kita yang rajin bekerja keras

  • Budaya mengasihi dan berbagi dengan sesama kita yang menderita

  • Budaya/karakter yang terbaik dan dewasa (1 korintus 14:20 ”Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi dewasa dalam pemikiranmu”)

Pendek kata mari kita berjuang agar memiliki budaya hidup terbaik, yaitu ekspresi terbaik dari kepercayaan, nilai dan harapan hidup beriman kita yang tertinggi, dan mengekspresikan seluruh pandangan kita tentang manusia seutuhnya.

Siapapun kita, warga Indonesia, mari kita mengubah budaya hidup kita sendiri, karena dengan keseriusan setiap kita mengubah budaya dirinya, maka budaya bangsa kita juga akan ikut berubah! Harapan kami bagi para calon legislatif, yang kini sedang memperebutkan kursi legislatif, agar tidak sekedar asyik kampanye, mengejar kursi, membela partai, tetapi juga mengejar nilai-nilai hidup kekal untuk diperjuangkan jadi budaya dirinya dan budaya bangsa, baik kini maupun kelak jika terpilih, agar para pemimpin bangsa ini adalah orang yang berhasil mengubah budaya diri dan tekun mengubah budaya bangsanya.

Karena budaya adalah kumpulan aktifitas dan karya bermakna yang mengekspresikan kepercayaan dan nilai-nilai tertinggi, maka mari kita terus tekun berkarya dan beraktifitas, agar budaya kasih, budaya kerja keras, budaya jujur, dan semua budaya yang baik tumbuh subur dalam kehidupan bangsa kita Indonesia. Amin.

Syndicate content